Minggu, 23 Maret 2014

KARO, SIMALUNGUN DAN PAKPAK BUKAN BATAK?


Sebutan Batak secara eksternal, dalam sejarah dimulai dari Yunani Kuno oleh Herodotus (1), sebagai istilah untuk suku cannibal “eat human flesh.”  Diikuti oleh orang-orang Eropa (Italia, Inggris, Portugis, Jerman dan Belanda) untuk menamakan kelompok suku di Sumatra yang menurut mereka kafir (pagan) atau belum beragama (heatenism).(2)  Bagi orang Melayu,  Batak sebagai suku suku pengembara dan petualang, pribumi Sumatra di luar suku Melayu. Bahkan dalam kamus Bahasa Indonesia --yang mungkin diserap dari bahasa Melayu,-- kata batak artinya: petualang; pengembara; membatak: 1) bertualang, melanglang, mengembara; 2) merampok; menyamun; pembatak: perampok,  penyamun.

Secara internal, bagi suku Batak Toba adalah Keturunan Si Raja Batak (Sorimangaraja Batak) dari Pusuk Buhit, yang artinya sipenunggang kuda, berkaitan dengan citra keperkasaan dan kegigihan.(3)

Istilah Batak dikenal luas di Eropa setelah tulisan William Marsden 1784, dan ketika masuknya misionaris Kristen kemudian Belanda mulai mendomasi wilayah Sumatra bagian Utara.  Istilah Batak dipopulerkan oleh Belanda dan German dalam tulisan-tulisan mereka untuk suku bangsa Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Angkola sebagai suku pribumi di Sumatra bagian Utara, karena selain kedekatan wilayah, terdapat latar belakang kemiripan adat, budaya, bahasa dan aksara yang membedakan mereka dengan suku Melayu dan Aceh yang tinggal berbatasan di sekitar mereka.

Sebelum dan pada saat Sumpah Pemuda 1928, perwakilan para pemuda dari Sumatera bagian Utara, menamakan diri “Jong Batak (Jong Batak Bonds),” salah satu tokohnya Amir Sjarifoeddin Harahap dan Sanusi Pane.

Semula Angkola dan Mandailing menamakan diri sebagai suku atau orang “Tapanuli” untuk menghindari istilah “Batak yang berkonotasi negative oleh orang Melayu” dan sekarang lebih memilih sebutan Suku Angkola dan Suku Mandailing.

Suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun dari historisnya, tidak berasal dari Suku Batak Toba, dan bukan keturunan Si Raja Batak yang bermukim di Pusuk Buhit sekitar tahun 1200-an.  Tetapi dari keturunan Si Raja Batak (kelompok marga-marga Batak Toba) itu ada sebagai kaum pendatang kemudian diterima dan membaur menjadi anggota suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun. Kelompok Suku Batak Toba yang membaur ini ada yang merubah/menyesuaikan, mengadaptasi atau tetap mempertahankan marganya (inilah yang menjadi persamaan dan kemiripan dari marga-marga).

Kini mereka telah kembali kepada identitas sejatinya sebagai suku bangsa Simalungun, Karo, dan Pakpak tanpa menyandang nama atau sebutan "Batak.

(Tulisan ini telah diedit per 26-11-2014 tanpa merubah substansi)

41 komentar:

Amani Atma mengatakan...

VARIASI GENETIK SUKU BATAK YANG TINGGAL DI KOTA DENPASAR DAN KABUPATEN BADUNG BERDASARKAN TIGA LOKUS MIKROSATELIT DNA AUTOSOM

INTISARI: Penelitian tentang variasi genetik menggunakan tiga lokus mikrosatelit DNA D2S1338, D13S317 dan D16S539 dilakukan untuk memperoleh ragam alel pada 76 sampel suku Batak yang tidak berhubungan keluarga yang tinggal di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Sampel DNA diektraksi dari darah menggunakan metode fenol-khloroform dan presipitasi etanol. Amplifikasi DNA dilakukan dengan menggunakan metode PCR (SuperMix, Invitrogen). Ditemukan sebanyak 14 alel pada lokus D2S1338, 10 alel pada lokus D13S317 dan 8 alel pada lokus D16S539. Ketiga lokus menunjukkan keragaman genetik yang tinggi baik pada masing-masing lokus maupun pada pada masing-masing sub-suku Batak dengan keragaman genetik sebesar 0,8637 pada sub-suku Batak Toba, 0,7314 pada sub-suku Batak Karo dan 0,7692 pada sub-suku Batak Simalungun.

Kata kunci: DNA mikrosatelit, Suku Batak, keragaman genetik, frekuensi alel, heterozigositas
Penulis: YOSSY CAROLINA UNADI, INNA NARAYANI, I KETUT JUNITHA

Sumber:
http://www.e-jurnal.com/2013/10/variasi-genetik-suku-batak-yang-tinggal.html

Budiman Panjaitan mengatakan...

Tidak ada penelitian yang jelas, ilmiah,pasti, bahwa nenek moyang Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, berbeda dengan orang Toba.

Hanya karena ada kota Nagore di India, maka segelintir orang simalungun menyamakannya dengan kerajaan Nagur di simalungun jaman dulu. Demikian halnya dengan puak lain,, beralasan yg mirip dan berkiblat ke india.

America sudah sampai ke Mars,, kita ini masih mempersoalkan asal-usul. Kasian.

Segelintir orang,, sekali lagi "segelintir orang" tidak mau dibilang Batak. Ada gerakan-gerakan separatisme online; Karo bukan Batak, ada Simalungun bukan Batak, ada Pakpak bukan Batak.

Jiwa-jiwa separatis, durhaka terhadap nenek moyang, ibu pertiwi dan sejarah itu sendiri.

Apakah mereka bisa memperkenalkan budayanya tanpa ada kata batak di depan nama puaknya? Atau mereka langsung bisa menjadi pemimpin negara setelah lepas dari Batak?

Kita lihat saja nanti. Bahwa barang siapa yg berani memakai kata Batak itu, dialah pemenang !!!

Anonim mengatakan...

saya suku Karo dan tidak merasa dalam bagian suku Batak. bujur, terima kasih

Synergi Prima mengatakan...

KARO BUKAN BATAK.
KARO BUKAN BATAK.
KARO BUKAN BATAK.
KARO BUKAN BATAK.
KARO BUKAN BATAK.

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas masukan dan tanggapan yang berharga. Menurut pendapat saya:

A. Tentang terminologi "BATAK"
1. "BATAK" adalah nama, identitas, jati diri yang melekat dan menjadi kebanggaan bagi Suku Batak Toba yang lahir dan berasal dari Keturunan Leluhur bergelar Si Raja Batak yang bermukim di Pusuk Buhit sekitar tahun 1200-an Masehi. Hal ini tidak berarti Suku Batak Toba baru ada sejak masa itu, tetapi jauh sebelumnya sejak jaman pra-sejarah Suku Batak Toba telah dikenal sebagai suku pribumi (men of the soil) Sumatra. Catatan awal sejarah Suku Batak di Sumatra pertama kali pada abad ke-5 Sebelum Masehi oleh Herodotus "the Father's of World History."
2. Istilah "BATAK" tidak lahir dari internal suku Karo, Pakpak dan Simalungun, tetapi sebagai sebutan kolektif yang ditujukan kepada kelompok suku Batak Toba, Angola-Mandailing, Karo, Pakpak dan Simalungun berasal dari pihak luar oleh sarjana, peneliti, petualang Eropa karena adanya persamaan dan kemiripan di dalam adat, bahasa dan budaya di antara suku-suku tersebut yang membedakannya dengan Suku Melayu dan Aceh yang berbatasan wilayah dengan mereka.
3. Suku Karo adalah Suku Karo, Suku Pakpak adalah Pakpak, Suku Simalungun adalah Suku Simalungun tanpa "BATAK" karena:
a. Dari silsilah, penelusuran sejarah, perkiraan tahun, bahwa mereka tidak berasal atau bukan dari keturunan Si Raja Batak yang bermukim di Pusuk Buhit sejak 1200-an Masehi.
b. Jika terdapat persamaan atau kemiripan marga dengan Suku Batak Toba, adalah pada proses migrasi, beberapa dari keturunan Si Raja Batak membaur dengan suku Simalungun, Karo dan Pakpak, dengan mengganti, mengadaptasi atau tetap mempertahankan marganya. Marga pada suku Batak Toba, Simalungun, Pakpak dan Karo tidak hanya mengidentifikasi sebagai garis keturunan “ikatan geneologis” tetapi pada mulanya bisa juga berasal dari nama kesatuan kelompok, atau proses mengangkat warga keturunan kelompok lain sebagai warga sukunya (marga=merga berasal dari kata “varga” atau warga).

B. Suku Karo, Pakpak, Simalungun dan Batak Toba berasal dari Leluhur yang sama?
Dari ciri-ciri fisik, adat istiadat dan budayanya bahkan belakangan test DNA atas beberapa sampel, tidak dapat dipungkiri bahwa Suku Karo, Pakpak, Simalungun dan Batak Toba pada satu masa di era pra-sejarah di suatu wilayah tertentu, mereka berasal dari Leluhur yang sama tetapi tidak menyandang nama “BATAK” sehingga lebih tepat dikatakan dengan meminjam istilah "Serumpun" atau "Leaves of the Same Tree."
Sebagai catatan, suku-suku pribumi yang ada di Sumatra dan di Nusantara Indonesia masih serumpun. Suku-suku di Nusantara juga serumpun dengan suku Melayu yang ada di Negara Malaysia.

Juandaha Purba mengatakan...

Memang terlalu sempit bila dikaitkan semua suku suku di Sumut berasal dari Batak Toba. Kesannya kolonialisme banget. Memarginalkan suku lain lantas mensuperiorkan TOba sebagai asal induk semua org bermarga. Dari sisi historis pun sebetulnya klaim seperti itu sdh tidak benar lagi. Salam dari seorang Simalungun yang konon leluhurnya pendatang dari Pagaruyung Sumatera Barat di abad XIV.

Djandel Marbun mengatakan...

@Juahanda Purba.."Salam dari seorang Simalungun yang konon leluhurnya pendatang dari Pagaruyung Sumatera Barat di abad XIV" menunjukkan Inferiorty Complex sudah akut. Biar bagaimanapun itu urusan anda dan leleuhur anda. apakah anda dari Mars atau Pluto.

Anonim mengatakan...

Mantap amang Bakkara. Kepercayaan kita akan sesuatu jangan menjadi jalan mengkerdikan dengan cara marah akan tulisan orang lain. Mari gali lagi tentang asal-usul kita. Semoga kita bertemu.

Pardingotan Sihombing mengatakan...

memang asli darah karo??

Cristiano Silangit mengatakan...

dari segi adat
pakaian adat
rumah adat
sudah jelas karo bukan batak
jika adasuku karo yang kawin sama batak pasti di buat marga yg org bataknya,sama spt suku lainnya yg kawin sama org karo
dari situ sudah jelas bahwakaro dan batak tidak ada hubungan
pesta adat pun harus 2 kali
karo 1 kali dan batak 1 kali
salam KBB

pasrib gusar mengatakan...

Unang lilu hamu amang...
Siraja Batak 2 anakna 2 boruna. 1. Guru Tatia Bulan dohot 2. Raja Isombaon. Molo Guru Tatia Bulan 5 anakna 5 boruna. Ala au marga Pasaribu jadi tarombokku do nahubota. Jadi sian i do sude na i amang. Boasa didok Batak Toba,, simalungun,, karo,, dll. Alana di daerah manang huta i do nasida tinggal manang marhuta. Jadi paganjang hamu ma di roha muna be amang. Mauliate.

pasrib gusar mengatakan...

Unang lilu hamu amang...
Siraja Batak 2 anakna 2 boruna. 1. Guru Tatia Bulan dohot 2. Raja Isombaon. Molo Guru Tatia Bulan 5 anakna 5 boruna. Ala au marga Pasaribu jadi tarombokku do nahubota. Jadi sian i do sude na i amang. Boasa didok Batak Toba,, simalungun,, karo,, dll. Alana di daerah manang huta i do nasida tinggal manang marhuta. Jadi paganjang hamu ma di roha muna be amang. Mauliate.

Anonim mengatakan...

mau batak kek mau bukan batak kek, emangnya gw pikirin bodo amat. yang penting lo jangan ganggu ketenangan orang lain aja.

H Bakara mengatakan...

Tu: Pasribgusar dan para pembaca,

Horas.
Benar adanya bahwa 2 putra Si Raja Batak yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, meskipun ada sumber menyatakan tiga, yaitu adanya Toga Laut. Mengenai borunya yang dua, semoga ada informasi pendukung.

Mengenai istilah BATAK, sering menimbulkan polemik. Siapakah yang dimaksud dengan "BATAK."

Bagi internal suku Toba bahwa BATAK adalah gelar Ompu Si Raja Batak dari Pusuk Buhit yang menurunkan marga-marga Batak Toba.

Keturunan marga-marga Toba ini merantau (marserak) dan menjadi bagian dari suku Pakpak-Dairi, Karo, Simalungun, sehingga kalau dahulu masih kita dengar jika antar suku bertemu dan menyebutkan marga, misalnya:
- Marga Capah, Ujung di Pakpak Dairi itu sama dengan Naibaho di Toba;
- Sitepu di Karo sama dengan Sihotang di Toba;
- begitu juga Purba di Simalungun dengan Purba di Toba...
Selalu ada upaya untuk menjalin persaudaraan dengan mencari persamaan di antara mereka dan mengingat adanya pembauran di antara suku-suku tersebut. Dari adat masing-masing suku terdapat tradisi untuk menerima dan mengangkat pihak luar (yang tidak dalam satu keturunan/geneologis) menjadi bagian dari kelompok suku.
(Di Toba istilahnya: mangain dan mangampu).

Dari sisi Eksternal, dalam catatan sejarah dari sumber China & Eropa jika dikatakan "BATAK (Padae, Pada, Pa'ta, Batech, Bata/Batta, Battas) sebagai penamaan yang ditujukan untuk kelompok Suku Toba, Karo, Simalungun, termasuk Angkola-Mandailing untuk membedakan mereka dengan Suku Aceh dan Melayu.

Masing-masing suku mempunyai cerita dan sejarah masing-masing. Semoga bukti sejarah akan lebih "terang-benderang" mengungkapkan asal-usul suku-suku yang oleh pihak asing dikelompokkan dan dinamai sebagai BATAK.

gaman kesogihen mengatakan...

Trus kenapa marga-marga pakpak kadang diklaim dari keturuna marga batak,padahal yang aslinya tidak ada sangkutannya dengan Batak?
Marga Berutu contohnya yang diklaim dari keturunan sinaga,padahal dari Marga Berutu sudah jelas asal usulnya darimana.
Jadi sangat jelas bahwa Pakpak tidak ada sangkut pautnya dengan Batak.

SALAM PAKPAK BUKAN BATAK (PBB)

gaman kesogihen mengatakan...

Trus kenapa marga-marga pakpak kadang diklaim dari keturuna marga batak,padahal yang aslinya tidak ada sangkutannya dengan Batak?
Marga Berutu contohnya yang diklaim dari keturunan sinaga,padahal dari Marga Berutu sudah jelas asal usulnya darimana.
Jadi sangat jelas bahwa Pakpak tidak ada sangkut pautnya dengan Batak.

SALAM PAKPAK BUKAN BATAK (PBB)

gaman kesogihen mengatakan...

Trus kenapa marga-marga pakpak kadang diklaim dari keturuna marga batak,padahal yang aslinya tidak ada sangkutannya dengan Batak?
Marga Berutu contohnya yang diklaim dari keturunan sinaga,padahal dari Marga Berutu sudah jelas asal usulnya darimana.
Jadi sangat jelas bahwa Pakpak tidak ada sangkut pautnya dengan Batak.

SALAM PAKPAK BUKAN BATAK (PBB)

Anonim mengatakan...

bung gaman kesogihen, kalo gak ada bersangkutan ya sudah biarkan saja, jangan di perpanjang, kalo kalian bukan batak mah siapa yang perduli dasar kampungan lo pada wkwkkw

Sada Riahni mengatakan...

wah ketemu artikel yg sangat menarik, saya salut memang untuk orang Batak terutama di perantauan, gigih mencari uang, pantang pulang tanpa membawa uang....saya Simalungun tapi ada darah Toba nya. Kalo ditanya "kamu sukunya apa..." saya bilang Orang Simalungun, karna saya punya "AHAP SIMALUNGUN"...ada hal yang menarik perhatian saya tentang orang kita, baik toba, simalungun, karo dll...jika membahas TAROMBO maka kita akan ber API_API merunut silsilah2 kita...itu2 aja yg dibahas orang kita di perantauan ini....
Sampai saya mengambil kesimpulan.....banyak Orang kita Perantauan yang sukses baik di pemerintahan seperti Jendral, menteri dll, pengusaha, pengacara dsbnya...
TAPI...melihat Bona Pasogit kita...bagaikan Bulan dan Bumi....jauh sekali jaraknya...
Tidak banyak orang perantauan yg peduli akan bona pasogitnya...Jendral, Pengacara, Pengusaha hanya berkoar-koar menyebutkan asal kampungnya dr mana....tapi hasilnya MARSIPATURE HARTANA BE....

Dannyleon mengatakan...

Angka dalle do i na mandok dang batak, siganjang dila na pamalo-malohon. Mangkatai tentang nenek moyang na vijai dohot sarukkhan, hape tarombo na pe sodiboto, molo so porcaya age sungkun hamuna halak i. Ima angka si dalle siganjang dila. Sungkun jo sinaga, purba, tarlobi ma angka sinaga, anggo halak i tegas do tu angka si dalle si songonon.

Dannyleon mengatakan...

Molo so porcaya hamuna, sungkun jo angka opung na 7 generasi sahat tu ginjang pasti do mogap. Huboto do halak on angka dalle, pada umum na holan sinaga do sian halak i na mamboto tarombo na sahat tu ginjang turun temurun, salobi na angka dalle minus tarombo atau jolma na so jelas. Pa bilak bilakkon do si tungir i.

Dannyleon mengatakan...

Angka dalle do i na mandok dang batak, siganjang dila na pamalo-malohon. Mangkatai tentang nenek moyang na vijai dohot sarukkhan, hape tarombo na pe sodiboto, molo so porcaya age sungkun hamuna halak i. Ima angka si dalle siganjang dila. Sungkun jo sinaga, purba, tarlobi ma angka sinaga, anggo halak i tegas do tu angka si dalle si songonon.

Daurat Sinaga mengatakan...

aneh tapi nyata iya ini !, dasar manusia2 lemah !, tidak melakan analisa yang mendalam !hanya ikut2an jadinya begini, Karo bukan Batak, Simalungun Bukan Batak, Pakpak bukan Batak !, ntar Toba Bukan Batak !, pada Gendeng semua. !! OOIIIIIIIIIII...DUNIA SUDAH MAU KIAMAT !, masih memikirkan status, itu sama dengan GOBLOK !!.

Anonim mengatakan...

@budiman panjaitan, danileon, daurat sinaga...kalian punya otak kecil dan sempit..sudah ada penelitian dan penyataan ahli2 sejarah sebelumnya..kami punya bukti asal usul silsilah..sendiri..knapa dihubung2kan sama nenek moyang kalian yg turun dari langit..(elien)..kami cuma mau menunjukkan indentitas suku kami tdk pake embel2 batak..itu saja..tak usah cape2 dipikirin..gitu aja koq repot..buat pak sinaga...kiamatlah kau..Dasar bodoh tak terajar...banyak2 bertanya dan membaca..pak...maaf kalo tersungging..Njuah juah Mo pakpak Karina...Lias ate..salam buat penulis..

Aryo Sanjoyo saragih mengatakan...

Saya keturunan Simalungun-Jawa. Saragih sin raya.dan Klaten yang masih keturunan Mataram. Simalungun itu bukan batak. Karena yang saya tahu, berdasarkan pusaka kuno simalungun "pusaka laklak" tidak ada hal yang menyatakan bahwa orang Simalungun berasal dari Toba. Seperti contohnya marga saya. Saragih, yang sebenarnya dulu merupakan nama dari seorang Panglima kerajaan nagur lalu menikah dengan putri dari kerajaaan nagur dan kemudian mendirikan kerajaan sendiri yaitu Raya. Nah hal ini yang menjadi cikal bakal keturunan Saragih Simalungun. Tentu berbeda dengan anggapan marga saragi yang berasal dari toba yang merupakan keturunan dari Parna. Namun orang toba tetap mengklaim bahwa Saragih merupakan bagian dari toba. Tapi yang kita tahu sampai sekarang "Saragih" dan "Saragi" itu tidak pernah dijadikan satu. Karena keduanya latar belakang yang berbeda. Menurut cerita dari ayah saya. Yang orang simalungun pasti paham yaitu dulu pada masa Kerajaan simalungun terdapat banyak perantau2 dari daerah lain namun pada masa itu kerajaan simalungun membuat suatu ketentuan bahwa marga2 yang bukan simalungun harus diusir dari daerahnya. Itulah mengapa ada marga Saragih sialagan, simarmata, dan bla bla bla. Dan ada pula marga2 yang mengaku sebagai simalungun contohnya Sirait, silalahi, and the gengnya. Dan setahu saya Orang2 yang berada dikampung ayah saya di Raya tidak ada yang tahu bahwa dirinya merupakan bagian dari parna karena itu tadi mereka punya tarombo yang berdiri sendiri. Itu jika ditilik dari cerita turun temurun. Namun anggapan cerita tersebut tidak jauh berbeda dengan penelitian yang ada. Boleh dibaca di website berikut http://www.limbongmulana.com/detail-500018-simalungun-bukan-batak.html
Nah itu dia. Setelah teman2 membacanya maka temen2 akan mengerti. Jadi kesimpulannya. Simalungun merupakan Suku yang berdiri sendiri. Bukan suku yang menyandang sebutan dari suku lain. Begitu juga dengan Suku Karo, Pakpak yang juga bukan merupakan bagian dari orang2 toba. Tapi merupakan suku Sendiri. Seperti contoh Orang Jawa, Sunda, dan Bali merupakan suku yang memiliki banyak kesamaan baik dari segi bahasa, adat, dan budaya. Namun mereka tetap menjunjung tinggi asal usulnya. Meskipun ada banyak kesamaan diantara ketiganya Sehingga tidak ada yang namanya suku Jawa sunda, jawa bali, maupun Sunda jawa, sunda bali.
Sekian dari komentar saya. Lebih kurangnya saya mohon maaf. Dan bukan maksud saya untuk mengucilkan, merendahkan, ataupun membedakan kelompok tertentu tapi saya hanya ingin mengungkap jati diri sebenarnya dari Simalungun. Yang notabenenya merupakan bagian dari orang toba.
Wassalamualaikum Wr.Wb

Anonim mengatakan...

pemaparan pada blok ini tampaknya seolah-olah ilmiah,namun menuntutun disparitas pemikiran, dan memblow-up komen yang cenderung memprovokasi kearah persengketaan antar klan.
kenapa tidak melakukan hipotesis dulu, kemudian penelitian, baru kesimpulan yang dilakukan secara kolektif? jika dasar informasi kita hanya dari tulisan uli kozok, tulisan para bloger, dan informasi yang disampaikan secara lisan, tanpa dukungan ilmu dan tekhnologi yang akurat maka pemaparan ini akan menggiring pada masa perpecahan.
bukankah para keturunan pengkhianat akan membuat alur cerita sebagai keturunan pahlawan?
jadi bijaksanalah....! kebenaran didapat bukan dengan cara yang demikian. ungkapkanlah kebenaran dengan cara yang benar,hal-hal yang akan menimbulkan ekses negatif agar disimpan dalam kepustakaan ilmiah dan rahasia.esensi dasar kita adalah budaya kebaikan bukan pengembangan budaya fasis, atau egosentris,tapi pemaknaan hubungan sosial yang lebih manusiawi dan bermartabat

dacukers mengatakan...

YANG TIDAK MAU MENGAKU BATAK SILAHKAN TINGGALKAN DALIHAN NA TOLU ATAU TUTUR SI TELU,
SILAHKAN KAWIN SEMARGAMU.

DALIHAN NA TOLU ITU NYAWA NYA BATAK , TIDAK ADA DARI INDIA ATAU PADANG DLL

MIRIS LIHAT NYA, MALU - MALUIN.

SAYA KETURUNAN BATAK SILALAHI-NAPITU, LAHIR BESAR DI JAWA, SAYA SANGAT FASIH JAWA DARI NGOKO SAMPAI INGGIL, DARI NGAPAK HALUS SAMPAI KASAR, SAYA PELAJARI JAWA. MEREKA TIDAK MALU PAKAI IDENTITAS JAWA WALAUPUN SANGAT BANYAK SUB KULTUR DI DALAM JAWA ITU SENDIRI, DAN SATU LAGI TIDAK ADA IKATAN KEKERABATAN KUAT SEPERTI DALIHAN NATOLU DI JAWA.

UNTUK KARO SIMALUNGUN PAKPAK YANG TIDAK MAU PAKAI IDENTITAS BATAK SILAHKAN RESAPI TULISAN SAYA DIATAS DAN KONSEKWEN TINGGALKAN DALIHAN NATOLU.

SALAM,
AGS 766HI

Anonim mengatakan...

Saudara AGS766HI
Anda sokpintar atau sok tau.... ? Nie saya kasih tau ni.... suku pakpak tidak pernah menggunakan dalian na tolu.... supaya Anda tau dan tambah wawasan Anda baca lagi masih lanjut.... suku pakpak tidak pernah menggunakan dalian natolu... makanya lihat dan kenali dulu adat istiadat suku pakpak....

Anonim mengatakan...

Horas amang... holoan manukun do au.. aha haroa arti ni sian batak on... ??? Baca sejarah amang alana aha ibaen gabe batak?
Njuah-njuah

Anonim mengatakan...

Saya hanya bertanya siapa lyg lebih tua pakpak atau batak??
Berikan buktinya ya....
Njuah-njuah

Berutu margana mengatakan...

Siapa yang bilang pak pak tidak menggunakan dalian na tolu?? Kamu yang tidak mengerti adat jangan sok tau dan meng-claim suku pak pak menurut penilaianmu sendiri. Saya orang asli pak pak dan ingin memberitau kebenaran bahwa pak pak menggunakan terminology dalihan na tolu (Somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru) itu terbukti dari adanya partuturan Hula-hula, bona/benna/anak, boru/berru, bere di suku pak pak.

Grace Yohana mengatakan...

Halo,aku Grace. Penasaran sama hasil penelitian teman2. Blh tau gmm hasil penelitian teman2?

Grace Yohana mengatakan...

Halo,aku Grace. Penasaran sama hasil penelitian teman2. Blh tau gmm hasil penelitian teman2?

Adryanta Bangun mengatakan...

Ini tulisan Edward Simanungkalit, orang Toba sendiri, pemerhati sejarah dan peradaban. Dia hanya mengumpulkan hasil penelitian secara arkeologi dan Test DNA.

sumber kutipan:
http://sopopanisioan.blogspot.co.id/2016/06/membongkar-mitos-si-raja-batak-upaya.html

DNA Orang Toba membuktikan bahwa Orang Toba adalah keturunan Si Raja Toba ini (2015:31-35). Si Raja Toba ini jauh lebih dulu hidup mendiami Tano Toba (Negeri Toba) daripada Si Raja Batak.

Si Raja Toba hidup 6.500 tahun lalu, sedang Si Raja Batak hidup paling lama 1.000 tahun lalu, sehingga masa hidup mereka memiliki selisih waktu 5.500 tahun. Dengan demikian, terbukti juga bahwa bukan Sianjur Mulamula kampung awal Orang Toba, tetapi Humbang merupakan daerah awal Orang Toba yang didiami oleh Si Raja Toba yang banyak itu orangnya di masa lalu. Terbukti juga bahwa Pusuk Buhit bukan gunung leluhur Orang Toba atau “Batak” sekalipun.

Turiturian dan tesis yang ditulis oleh W.M. Hutagalung di dalam bukunya “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak” (1926) yang berpangkal kepada figur Si Raja Batak dari Sianjur Mulamula di Samosir terbukti telah gugur.

Sejarah Batak yang pada dasarnya merujuk kepada buku W.M. Hutagalung (1926) tadi harus ditulis ulang kembali, karena ternyata Orang Toba merupakan keturunan Si Raja Toba dari Humbang yang diperkirakan hidup sekitar 6.500 tahun lalu.

Si Raja Batak hanyalah pihak yang datang menyusul 5.500 tahun kemudian setelah Si Raja Toba berdiam di Humbang pada sekitar 6.500 tahun lalu. Dengan demikian W.M. Hutagalung selama ini hanya berusaha mendirikan menara di atas pasir dan menara itu telah rubuh seiring dengan pengungkapan fakta-fakta sekarang ini.

Adryanta Bangun mengatakan...

Sebutan “Batak” tampaknya tidak dapat ditemukan dalam karya sastra era pra-kolonial. Dalam perkembangan waktu selanjutnya istilah “Batak” ini kemudian diterima sebagai sebuah identitas etnis tertentu. Daniel Perret mengungkapkan, setelah keberadaan orang-orang “Batak” diterima oleh orang Barat, kemudian mulailah diciptakanlah batas-batas “Tanah Batak”. Jadi, istilah “Batak” adalah identitas yang sengaja diciptakan pada masa kolonialisme di Sumatera Utara.

Studi Daniel Perret menunjukkan adanya pola di mana istilah “Batak” sengaja dimunculkan, sebagai pembeda sebuah etnis di Sumatra Utara dengan bangsa “Melayu” yang identik memeluk Islam.

Dalam beberapa dokumen bahwa sebutan ”Batak” tidak terdapat dalam sastra pra-kolonial. Bahkan dalam Hikayat Deli (1825) istilah ”Batak” hanya sekali digunakan, sedang dalam Syair Putri Hijau (1924) sama sekali tidak menyinggung ”Batak” atau Melayu. Baik dalam Pustaka Kembaren (1927) maupun Pustaka Ginting (1930) tidak dijumpai kata-kata ”Batak”.

Selain itu, B.A. Simanjuntak mencatat bahwa kata-kata ”Batak” tidak dijumpai dalam Pustaha Toba. Memang dalam stempel Singamangaraja, yang tertera hanya kalimat ”Ahu Raja Toba”, bukan ”Ahu Raja Batak.” Karena label ”Batak” dibawa dari luar, maka dia menjadi sebuah label yang kabur.

Adryanta Bangun mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
epoj-p3bpjb mengatakan...

Indonesia terdiri dari ratusan suku2, misalnya jawa dan sunda. tapi mereka tidak menyebut sukunya sebagai bangsa sunda atau jawa. apa salahnya dan apa ruginya kalau suku simalungun, karo dan toba dll disebut orang atau bangsa batak? jadi tdk usah dipersoalkan simalungun, karo dll bukan batak. stop kawan jangan sok tau.

Anonim mengatakan...

kbb, mbb, pbb, sbb. karo bukan batak, mandailing bukan batak, pakpak bukan batak, simalungun bukan batak di tiupkan oleh jemaah2 onta keturunan pks dan fpi. Yang suka ngaku ngaku bagian dari salah satu sub suku batak tersebut. Tujuannya jelas politis, padahal adat dan budaya mereka sudah seperti budaya arab, terkadang di karo2kan.
By: sinulingga

Yedi Irawadi mengatakan...

Setau saya simalungun (marga Damanik) berasal dari keturunan kerajaan Nagur/Nagore India Selatan ...

Anonim mengatakan...

Setuju sekali

Anonim mengatakan...

Gila pake anonim udah berani bilang pakpak ga pake dalihan na tolu. Dimana ada kula kula, anak berru, bere.