Kamis, 11 Juli 2013

PERTARUNGAN BULAN DAN BINTANG DENGAN MATAHARI (II)

Bintang-bintang di langit segera masuk berdesakan bersembunyi di pundi-pundi (gaunggaung) Ibu mereka  Sang Rembulan. Bulan segera melaksanakan siasatnya dengan mengunyah sirih (marnapuran) dan mengatur posisinya agar mudah terlihat oleh Matahari. 

Benar, Matahari melihat dan terkagum akan penampilan baru Bulan.  Bibir bulan tampak memerah, wajahnya bersinar berseri.  Matahari terpesona, “Hai, Rembulan, elok sekali rupamu!  Bibirmu memerah,   merah nan rupawan.  Aku ingin sepertimu, bagaimana caranya, ya?”

Bulan berlagak acuh, seolah-olah jual mahal. Matahari mendesaknya, “Tolonglah, katakan padaku rahasianya!”  Masih berpura-pura karena didesak oleh Matahari, Bulan berseru "Kasih tau nggak, ya?."  Bulan merasa saatnya sudah tepat, maka setengah berbisik seakan khawatir ada yang mendengar, Bulan berbisik, “Ini hanya di antara kita berdua saja. Akan kuberitahu rahasianya.”

Matahari mendekat dan ia benar-benar penasaran sambil mengangguk setuju, "Aku berjanji tidak akan membocorkan rahasia pada siapa pun."  Setelah sepakat, Bulan mengangguk setuju. "Baiklah!" serunya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, hening sejenak. Matahari penuh perhatian mencoba sabar untuk mendengar rahasianya. 

“Begini.......," Bulan seolah agak tersendat melanjutkan, "Aku telah memakan dan menelan semua anakku si Bintang.”

“Haaaaa......!!!???” Matahari menjerit kaget.  

“Pssst…Ingat, ini rahasia!” seru bulan, "Begitulah resepnya dan khasiatnya kamu lihat sendiri,”  Bulan mematut-matut di depan Matahari, “Lagipula, kau tahu betapa repot dan lelahnya mengurus anak-anak. Apalagi mereka bandel dan sering menyusahkan aku.  Aku jenuh dan aku pikir sudah saatnya aku menikmati ketenangan dan kesenangan tanpa gangguan anak-anak,” lanjutnya.

Matahari yang tergoda kehilangan akal sehatnya. Dalam pikirannya apa pun dia lakukan demi memiliki bibir seindah dan semerah Bulan.  Lalu, dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan dari Bulan, ia buru-buru berlalu dan menelan kelima orang anaknya. Ditunggu dan ditunggu beberapa lama, bibirnya tetap biasa-biasa saja, tidak ada perubahan seperti yang diharapkannya. Ia mulai khawatir kalau-kalau cara mengkonsumsinya yang salah. Ia bergegas menemui Bulan dan bertanya bagaimana cara memakan anaknya. 

Bulan mencibir dan mengejek kebodohan Matahari, “Kau justru mengabaikan hal yang pokok.  Seharusnya anak pertamamu kau makan, setelah itu yang bungsu.  Itulah yang membawa khasiat luar biasa ini.  Memakan anakmu yang lain itu untuk lebih melipatgandakan pemantapannya hasilnya  saja!”  berbagai macam kata-kata Bulan untuk meyakinkan Matahari.

Matahari agak ragu tetapi dorongan hati ingin tampil istimewa membuatnya lupa diri dan langsung menyantap anak pertamanya.  Ketika menelan anak bungsunya, tiba-tiba ia tersedak mendengar suara ribut-ribut di sekitar Bulan.  Tak berapa lama tampak dua anak bulan yaitu bintang  Sialapariama dan Sialasungsang saling bertengkar mulut dan keluar dari gaunggaung kejar-kejaran.  Bintang-bintang lain  ada yang  mencoba melerai, dan ada yang karena sudah bosan berhimpit-himpitan di dalam turut berlarian keluar.  Mereka sudah lupa pesan ibunya untuk tetap tinggal di dalam.

Matahari menyaksikan anak-anak bulan ternyata masih utuh semuanya. Ia marah besar kepada Bulan. “Bulan, kau membohongi aku!!!” teriaknya, “Kau menipuku!”. Suaranya bergetar bergema ke mana-mana.

Bulan tidak menanggapi. Ia beranjak menghindar dari amukan Matahari dan kembali berdiam diri kembali ke tempatnya semula di malam hari.  Matahari hanya bisa menyesal di tempatnya siang hari. Ia  tidak bisa menjangkau malam tanpa ketujuh anak-anaknya. Matahari bertekad untuk membalas perbuatan Bulan.  Permusuhan antara Matahari dan Bulan pun berlanjut terus.

Umpama dari kisah ini: 
Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung.  Berhati-hati jangan sampai terjerembab, dicermati jangan terjerumus (Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna).

Anakkonhi do hamoraon di ahu. Anak-anakku itulah harta yang berharga (kekayaan) bagiku.

Lanjutan kisah ini: Angka Lahu dan Angka Laha (Bersambung) 
_______________________
Lihat Kisah sebelumnya dengan klik: Pertarungan Bulan dan Bintang dengan Matahari (I)

Tidak ada komentar: