Senin, 22 Juli 2013

NANGKOK AHU TU DOLOK

Satu lagi lagu dari komponis Nahum Situmorang.  Nahum Situmorang lahir di Sipirok pada tanggal 14 Februari 1908, meninggal pada 20 Oktober 1969 di usia 61 tahun tanpa menikah.   

Lagunya ini seperti juga lagu "Nahinali Bangkudu" [1] sebagai ungkapan "galau hati" meratapi nasib cintanya "kasih tak sampai" dengan paribannya.  Syair lagunya mencerminkan "andung-andung" dan masih kental dengan nuansa kepercayaan kuno Batak seperti istilah "Begu" dan "Sombaon" [2].  

Meskipun lagu ini ungkapan patah hati dan keputusasaan, tetapi Nahum Situmorang semasa hidupnya sangat produktif dalam mencipta dan menyusun lagu.  Ada + 120 lagu karya ciptanya  yang masih dapat kita nikmati saat ini. . 

Semasa hidupnya ia selalu mendapat sambutan dan pujian dari pejabat pemerintah dan orang-orang asing kedutaan pada setiap  pertunjukannya.  Banyak penghargaan diterimanya dari organisasi kebudayaan, masyarakat dan pemerintah Indonesia. 

Berikut syair lagu dan terjemahannya.

NANGKOK AHU TU DOLOK

Nangkok ahu tu dolok, da tuat ahu tu toruan Dainang
Hubereng tu siamun, hubereng tu hambirang
Sude maulibulung, huida  humaliang
Beha ma ahu, da hundul au martuktukhian

Huingot langkaki huingoti, laos so marujung Dainang
Nunga sambor nipiku, parsibaran lapa-lapa
Didok sibaranhi do, asing do dang hangalan
Mate ma au, mate diparalang-alangan

Sintakhon au da porhas,  lingkuphon ahu da sombaon
Buatton ahu da begu,  unang hutaon na songon on
Tumagon na ma langge Dainang, unang singkoru Among e …..
Tumagon nama ahu mate dainang, unang mangolu Among e …..


AKU MENDAKI GUNUNG 

Gunung aku daki, lalu kuturun ke bawah oh Ibunda
Kumemandang  ke kanan dan kutatap ke kiri
Semua orang berbahagia di sekelilingku
Bagaimana denganku, aku terduduk dengan isak tangis

Kuingat perjalananku, kurenungi, tiada hasilnya oh Ibunda
Seperti mimpi burukku, aku orang malang
Sudah begini adanya jalan hidupku yang menderita
Biarlah aku mati, dalam keputusasaanku

Sambar saja aku wahai petir, sirnakan aku duhai roh keramat
Renggutlah aku wahai hantu, usah aku menahan derita seperti ini
Itu lebih baik daripada tersiksa oh Ibunda, daripada tetap hidup, oh Ayahanda
Lebih baik saja aku mati  oh Ibunda, tidak usah  hidup, oh Ayahanda

___________________________
Download lagu dengan klik di sini Trio Ambisi : Nangkok Ahu tu Dolok untuk menikmati lagu ini dan mengenang Sang Legenda dari Tanah Batak.

Link  terkait:  [1] Klik Nahinali Bangkudu;  [2] Klik Begu, Sumangot, Sombaon
Kamus : sambor = (ttg mimpi) sial, buruk, malapetaka, celaka; langge = siksa; singkoru = ucapan selamat; enjelai, jali-jali (sejenis tanaman).

5 komentar:

Exa Al'Navie mengatakan...

mengispirasi sekali blog anda :)

saya jadi semakin tertartik mempelajari adat dan budaya yang ada di Indo mulai dari sabang sampai merauke :)

H Bakara mengatakan...

Terimakasih, senang sekali mengetahu bahwa anda sangat berminat mempelajari adat dan budaya di Nusantara. Lanjutkan terus penuh semangat dan sukses!

Exa Al'Navie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Exa Al'Navie mengatakan...

saya bukan seorang backpacker tapi lumayan mempunyai pengalaman touring ke berbagai tempat yang ada di'indonesia khususnya daerah Jawa dan Bali. salah satunya di Prov.Riau dan Sumatera Barat.

tentu saya tidak hanya sekedar berkunjung tapi juga belajar tentang adat dan budaya di Indonesia dari bahasa, ciri khas, suku dll. khususnya di Luar Jawa.

sempat kemarin ingin berkunjung ke SuMut Medan dan Danau Toba lalu ke Jambi, Palembang dan Lampung.
mumpung saya sendiri ada di Sumatera barat dan di Riau.

tapi sayangnya karena ada urusan sekolah mengenai kelulusan SMA saya hanya mampir ke Pekanbaru, Siak Bukit tinggi dan Padang. lumayan bisa mengetahui adat dan budaya kususnya suku Melayu, Suku minang dan mengenai rumah adat gadang dan bahasa minang dan Melayu :)

mungkin untuk tahun besok ataupun
kalau ada kesempatan, saya akan berkunjung ke Sumatera dan tempat-tempat lain diluar Jawa.

Salam :)

H Bakara mengatakan...

Wah luar biasa dan bagus sekali. Jika ada waktu saya sarankan juga ke Pulau Flores NTT, ke Kelimutu dan ada banyak situs cagar budaya suku di Kab Ngada-Bajawa (termasuk dalam UNESCO Heritage). Kita bisa lihat kehidupan peninggalan dan kehidupan tradisional masyarakatnya (Seperti Suku Bena). Beberapa diantaranya banyak persamaan dengan Batak. Info lebih lanjut bisa "search di Google"