Minggu, 21 Juli 2013

KANIBALISME BATAK?

Huta Siallagan, situs perkampungan Batak Kuno di Samosir (Samosir, 2010)
Suku Batak telah ada di pedalaman Sumatera dan dikenal  ribuan tahun lalu oleh bangsa asing sebagai suku yang kanibal atau memakan daging manusia "eat  human flesh" baik seluruh atau hanya bagian organ tubuh tertentu saja.  Isu kanibal  ditulis oleh penulis sejarah, penjelajah asing, diantaranya: [1]
  • Marco Polo (1292) seorang pedagang dan penjelajah Italia yang pernah mengunjungi Sumatera bagian Utara di tahun 1292-93;
  • Nicolo de Conti,  pedagang dari Venesia yang pernah ke Sumatera Utara di tahun 1435 bahkan mencatat bahwa tengkorak manusia dijadikan koleksi dan dapat dijadikan alat tukar.
  • Perjalanan Miller yang diceritakan kembali oleh WIlliam Marsden, penulis History of Sumatra (1783).
  • John Anderson,  staff anggota English East India Co., berkunjung ke pelabuhan Deli dan Batubara tahun 1823 diberitahukan oleh pengawalnya bahwa menurut kesaksian (bualan) seorang suku Batak yang ditemuinyai bahwa orang Batak tersebut telah tujuh kali  memakan daging manusia. 
  • Franz Willem Junghuhn ahli geografi German yang pernah menjelajahi dan tinggal di wilayah Angkola dan Toba (1840-1841).
  • Beberapa literatur tentang perjalanan missionaris Kristen di Tanah Batak, daging manusia dan tulang belulangnyanya diperdagangkan orang Batak secara bebas di pasar (onan).
Baik Marco Polo, de Conti, Anderson, Junghuhn maupun Miller hingga para misionaris tidak pernah menyaksikan atau tidak mempunyai bukti-bukti yang kuat atas adanya kanibalisme tersebut. Mereka hanya menceritakan ulang isu dari mulut ke mulut (rumor) tentang itu. 

Isu kanibalisme melekat sebagai streotype suku Batak, konon sengaja ditimbulkan dan dibesar-besarkan oleh orang Batak untuk tujuan:

  1. Mencegah masuknya orang-orang Eropa ke pedalaman Batak agar tidak mengeksploitasi langsung kekayaan sumber alam Tanah Batak yang tinggi kualitasnya seperti: kamper, kemenyaan dan kayu ofir. Perdagangan dilakukan oleh Suku Batak pedalaman dengan membawa hasil alam ke wilayah pelabuhan di Pansur, Barus.
  2. Mencegah pengaruh dan intervensi musuh dari luar sehingga peradaban Batak selama berabad-abad terisolasi sempurna, karena Suku Batak sendiri secara mandiri dapat mengatasi setiap persoalan internal dengan tradisi, aturan dan struktur adat yang dibentuknya.
Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa praktek "kanibalisme" di kalangan dan wilayah tertentu di Batak dahulu memang ada pada masa "tingki ni lunlam"[2], seperti:  
  1. Dari cerita di situs sejarah Huta Siallagan, Samosir. Kanibalisme sebagai ritual hadatuon (magis perdukunan). Para raja memakan organ dalam tubuh (jantung dan hati) dan meminum darah tahanan tertentu yang telah dieksekusi "pancung." Tujuannya: menambah kesaktian serta menghilangkan  bala,  kutukan dari leluhur korban atau dendam oleh pihak keluarga atau keturunan korban. Ritual ini juga menunjukkan superioritas untuk menggentarkan nyali lawan atau pihak lain yang mendengar berita atau mengetahui  peristiwa tersebut agar tidak berbuat kejahatan terhadap masyarakatnya atau mengganggu otoritas kekuasaaan dan wilayahnya.
  2. Seorang nara sumber orang tua-tua Batak (dari salah satu wilayah tanah Batak) menceritakan bahwa di tahun 1920-an (sebelum beragama) dia pernah menjalani ritual di keluarganya yaitu menyantap "organ tubuh" orang tua mereka yang meninggal "mauli bulung"[3] dengan tujuan agar secara magis, "sahala" atau tuah orang tuanya mengalir dalam tubuh keturunannya.  
Dari hal di atas bahwa "eat human flesh" tersebut bukan sejatinya orang Batak atau bukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seperti pemahaman orang-orang Eropa, tetapi merupakan bagian dari suatu ritual magis (hadatuon).  
___________
Tautan informasi dapat dilihat pada blog ini dengan mengklik:
[1] Sejarah dan Pandangan Bangsa Barat tentang Batak
[2] Masa Kegelapan (tingki ni lumlam)
[3] Sarimatua, saurmatua, maulibulung