Kamis, 23 Mei 2013

TATA ATURAN DI NEGERI BAKARA MASA SISINGAMANGARAJA


Menurut cerita Tetua di Bakara, dahulu terdapat beberapa aturan sosial kemasyarakatan, tata perlakuan terhadap alam dan hewan disertai teladan yang diberikan oleh Raja Sisingamangaraja di Bakara, diantaranya yaitu:

  1. Aturan kerjasama dan bergotong-royong seperti kesatuan “horja” untuk tolong menolong dalam membangun rumah, panen padi di ladang dan dalam suatu acara pesta adatSuhut (pemilik hajat) menyediakan makan untuk peserta yang terlibat dalam pekerjaan penyelenggaraan kegiatan (parhobas).
  2. Menculik, perbudakan dan memasung tidak diperkenankan. Bahkan Raja Sisingamangaraja banyak menebus orang dari pasungan dan perbudakan;
  3. Memperkosa dan berzinah tidak dibenarkan.  Lelaki yang tertangkap basah melakukannya, statusnya serupa dengan “babi panoro”  [1] atau hewan yang merusak perladangan, sehingga bebas dibunuh oleh siapa pun.
  4. Perlakuan terhadap hewan:
    • Hewan seperti burung tidak boleh diikat berlama-lama atau dikurung dalam sangkar untuk kesenangan manusia, tetapi  harus dibiarkan bebas;
    • Menyiksa atau membunuh hewan untuk kesenangan juga tidak diperkenankan.
    • Hewan boleh dibunuh untuk keperluan konsumsi.  
    • Membunuh hewan selain itu diperkenankan apabila hewan tersebut merusak perladangan, memakan ternak peliharaan,  atau telah melukai dan menimbulkan korban manusia.
    • Membunuh hewan untuk konsumsi harus dengan cara disembelih yang langsung mematikan.  Tidak diperkenankan dengan cara penyiksaan, dicekik atau ditutup lubang pernafasannya.
    • Menangkap ikan dengan kail atau bubu, dianggap perbuatan “licik” tidak satria.  Ikan boleh ditangkap dengan cara ditombak atau dijala;
    • Membuat jebakan hewan termasuk siasat "licik".  Hewan liar untuk tujuan konsumsi harus diburu dengan kemahiran dan ketangkasan manusia dan boleh menggunakan senjata.

    1. Standarisasi “solup” [2] dari ruas bambu sebagai ukuran “liter” untuk padi dan biji-bijian.
    2. Untuk keperluan kayu bakar dengan mengambil dahan dan ranting pohon yang telah gugur,  pohon yang telah tumbang atau mati meranggas.  
    3. Penebangan pohon untuk keperluan manusia, harus diganti dengan menanam tanaman atau bibit baru.
    4. Sungai, danau, telaga atau mata air tidak boleh dicemari kotoran manusia, pembuangan bangkai atau sampah.
    _____________________________
    Klik  juga: [1]  Babi Panoro, Babi di Eme[2] Solup,

    Tidak ada komentar: