Jumat, 24 Mei 2013

PERTARUNGAN BULAN DAN BINTANG DENGAN MATAHARI (I)


Bulan Purnama di antara Awan Tebal   (Foto, 2010)

“Ndang taralo hita i, ai gumogo do nasida.  Alai molo bisuk hita jala dioloi hamu aha na hudok, boi do taluhononhon ta i,”  demikian kutipan dialog Bulan dengan para Bintang tentang Matahari dalam buku Hutagalung, W.M., “Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak,” (CV. Tulus Jaya, Jakarta, 1991). Terjemahannya: “Tidak dapat terkalahkan oleh kita itu, lebih kuat mereka. Tetapi jika kita cerdik dan kalian mengikuti apa yang kukatakan, dapat kita kalahkan dia,”  Bulan sang Ibu Para Bintang menyampaikan nasihat kepada Bintang-bintang putra-putrinya untuk menghadapi pertarungan dengan Matahari beserta ketujuh anaknya.

Menurut turi-turian atau mitologi Batak, semula Matahari hanya satu.  Ketujuh putra-putrinya matahari diciptakan agar teriknya dapat mengeringkan sebahagian lautan, sehingga persembunyian Naga Padoha dapat tersingkap oleh Siboru Deang Parujar. Akhirnya menurut mitologi  Naga Padoha terlihat dan berhasil ditaklukkan Siboru Deang.

Persoalan lain timbul, ketika delapan Matahari terlalu terik menguasai siang dan malam, sehingga para Bintang sebagai anak-anak dari Bulan mengadu pada Ibunya bahwa mereka sudah tidak tahan dengan panasnya pancaran Matahari beserta ketujuh anak-anaknya.   Mereka berharap Matahari kembali seperti semula, cukup satu saja bersinar terang di siang hari dan mereka yaitu Bulan beserta ribuan bintang bertugas menerangi alam di waktu malam hari.

Tersirat pesan pada kisah ini bahwa kekuatan yang jauh lebih besar dapat dikalahkan tanpa harus membalas dengan kekuatan.  Pertama, realistis dalam menilai dan mengakui keunggulan lawan, kedua, tidak emosional atau tidak harus menyusun kekuatan yang lebih tetapi menggunakan akal cerdik (strategi) menghadapi persoalan, ketiga,  mematuhi nasihat dan pesan baik orang tua, maka akan dapat menaklukkan lawan.  Bagaimana cara Bulan dan para bintang anak-anaknya melawan matahari?   Bersambung

Tidak ada komentar: