Selasa, 29 Januari 2013

BABI PANORO, BABI DI EME


Menurut Suku Batak Kuno, tindak perkosaan atau menjinahi istri orang lain merupakan  pelanggaran berat terhadap adat dan hukum, karena merusak tata dan peri kehidupan.  Seseorang yang tertangkap basah memperkosa wanita atau menjinahi istri orang lain diibaratkan sebagai babi liar yang masuk dan merusak perladangan (babi panoro), atau babi yang sedang merusak padi (babi di eme), sehingga siapa pun orang berhak membunuhnya di tempat tanpa tuntutan apa-apa. 

Perbuatan tercela berkaitan dengan pelanggaran susila tersebut sangat tidak lazim dan tidak pantas dilakukan manusia yaitu bagaikan menanam bambu di tempat lalu lalang babi, memulai sesuatu yang melawan hukum, melakukan yang tidak senonoh: "manuan bulu di lapang-lapang ni babi, mamungka na so uhum, mambahen na so jadi".

Seseorang yang baru kemudian diketahui dan terbukti pernah melanggar dan merusak norma adat dan hukum akan dikenakan sanksi diusir dan tidak diperkenankan lagi tinggal di kampung (huta) tersebut agar tidak membawa keburukan (pengaruh jelek/pencemaran) di masyarakat "ndang pinamasuk aili di bagasan ni huta." Artinya: Jangan dimasukkan babi hutan ke dalam kampung.


Tidak ada komentar: