Minggu, 23 Desember 2012

SITUAK NA TONGGI

Pohon Enau di antara pohon lain (Foto, 2013) 

Situak na tonggi atau tuak manis merupakan  minuman khas Batak. Tuak ini berasal dari sadapan tandan mayang pohon enau atau aren, meskipun ada juga dari mayang pohon kelapa, karena enau sudah jarang di dapati di tanah Batak. Si tuak na tonggi adalah nira yang belum dicampur oleh bahan lain.  Tuak ini manis rasanya, sedangkan tuak yang umum disajikan pada kedai atau lapo umumnya sudah dicampur dengan sejenis kulit kayu bernama “raru,” sebagai pengawet sehingga rasanya agak pahit dan mengandung alkohol.

Tuak dalam tradisi Batak, selain minuman khas di lapo juga sebagai minuman sajian dalam acara adat. Selain itu  sebagai minuman "obat" bagi para ibu yang baru melahirkan, berfungsi  untuk memperlancar air susu ibu dan membersihkan darah sehabis bersalin. 

Istilah adat "pasituak na tonggi" (arti harfiahnya: uang pembeli tuak manis) adalah uang yang diberikan pihak boru kepada hula-hula dan kerabatnya pada acara adat tertentu, sebagai simbol rasa hormat dan perhatian untuk pengganti uang minum diperjalanan rombongan (uang minum/uang rokok).  Dalam bahasa sehari-hari, istilah yang sepadan yang tidak berkaitan dengan adat yaitu "pasites manis" (uang jajan atau uang minum teh manis). 

Menurut legenda “turi-turian” Batak, tanaman enau berasal dari penjelmaan Siboru Sorbajati.  Siboru Sorabajati adalah putri dari Batara Guru dan Siboru Parmeme yang dijodohkan dengan putra dari Tuan Soripada dan Siboru Parorot yaitu Si Raja Endaenda yang wujudnya menyerupai ilik (kadal).  Siboru Sorbajati tidak bersedia menikah, namun ia meminta persyaratan kepada ayahnya agar terlebih dahulu digelar musik gondang. Ayahnya menyanggupinya dan diadakan gondang di mana Siboru Sorbajati   manortor (menari) dari pagi hingga matahari akan terbenam.  Tortornya semakin aneh, dan tiba-tiba ia meloncat dari bonggar (loteng) rumah ke halaman. Tubuhnya secara perlahan melesak ke dalam tanah. Di tempat terbenamnya Siboru Sorbajati tersebut tumbuhlah tanaman enau.

Beberapa istilah berkaitan dengan "tuak":
  • paragat = si pemanjat tuak
  • bagot = pohon enau (bona ni bagot) sumber tuak
  • hiong, poting = tabung bambu (terdiri dari beberapa ruas) tempat menampung atau menyimpan tuak.
  • parmitu = singkatan dari parminum tuak, artinya si peminum tuak yang suka nongkrong di lapo.
  • tenggen = mabuk karena kebanyakan minum tuak beralkohol.
  • tuak tangkasan = tuak panjat, yang baru saja disadap dari pohon enau belum berfermentasi atau dicampur oleh bahan lain (situak na tonggi merupakan tuak tangkasan).  Dalam bahasa "andung" tuak tangkasan disebut juga Aek Sorbajati.
Berbeda dengan jenis tuak di atas,  tuak ni loba atau situak ni loba artinya madu lebah.

Tidak ada komentar: