Jumat, 14 September 2012

SI BONTAR MATA, GOMPONI BOLANDA


Si Bontar Mata –dibaca: Si Bottar Mata- (Si Mata Putih) adalah julukan rakyat Batak kepada Belanda pada masa perjuangan mempertahankan kedaulatan Tanah Batak. Mereka juga menyebut Si Bontar Mata Belanda sebagai Gomponi (dari kata Kompeni) atau Si Bolanda/Bolanda  –dibaca: Si Boladda/Boladda- (Belanda).

Perang Melawan Si Mata Putih (Si Bontar Mata) Belanda 

Setelah Tingki Ni Pidari, Bakara  yang hancur lebur direstrukturisasi oleh Sisingamangaraja XI dan diteruskan oleh Sisingamangaraja XII.  Istana kerajaan, perumahan, sawah ladang dibangun kembali.

Masa damai di Negeri Bakara ini tidak berlangsung lama, karena harus kembali menghadapi pertempuran dengan Si Bontar Mata.  Meskipun front (basis) pertempuran dimulai dari  Balige (1877), kemudian Laguboti, Sitorang Parsambilan, Bahal Batu dan Tangga Batu, Lintong, Huta Paung,  pada akhirnya  Belanda memusatkan serangan ke Bakara sebagai jantung pemerintahan kerajaan Sisingamangaraja.  

Dua kali Belanda melakukan serbuan besar-besaran ke Bakara, membantai penduduk, menghujani perkampungan dengan tembakan, granat dan artileri selanjutnya membumi hanguskan permukiman serta  istana kerajaan di Bakara. Serangan pertama tahun 1878, Belanda dipukul mundur, dan lima tahun kemudian pada 12 Agustus 1883 Belanda kembali menyerang. Dengan jatuhnya Bakara, hampir seluruh wilayah Toba dikuasai Belanda.  Sisingamangaraja XII beserta keluarga menyingkir ke wilayah Dairi dan tetap melangsungkan perjuangan.

Untuk menuntaskan perlawanan, Belanda membentuk kesatuan khusus yaitu "Marsose"*  yang terdiri dari orang-orang Belanda, Sigurbak Ulu Na Birong --para budak  dan tahanan perang Belanda, berasal dari penduduk kulit hitam dari Senegal, Afrika-- dan penduduk pribumi Nusantara keturunan Ambon yang dilatih menjadi tentara Belanda untuk memburu dan menaklukkan Sisingamangaraja di bawah komando Kapten Christoffel (julukan: Macan Aceh), yang telah berpengalaman perang menghadapi taktik gerilya di Aceh.  

Perang di tanah Batak selama hampir 30 tahun berakhir setelah peristiwa penyergapan dan pertempuran heroik di Aek Sibulbulon, desa Si Onom Hudon tahun 1907. Sisingamangaraja XII  gugur tertembak saat memeluk putrinya Lopian (+ usia 16 tahun) yang terlebih dahulu bersimbah darah diterjang peluru Belanda.  Turut gugur dalam pertempuran tersebut kedua putra Sisingamangaraja XII, yaitu Patuan Nagari dan Patuan Anggi beserta para pejuang dan pendekar Aceh  yang tetap setia menyertai mereka sampai titik darah penghabisan.

Dikisahkan, pada suatu malam menyadari bahwa waktunya akan segera tiba, pada suatu Sisingamangaraja mengadakan upacara "terakhir" Pangurasion (Pentahiran/Penyucian Diri).  
Ia tetap kokoh dan tidak akan pernah menyerah atau takluk kepada Belanda sampai akhir hayatnya.  Dalam doa kepada Sang Pencipta, Ompu Mulajdi Na Bolon, ia  berseru:

"Ya Ompung Debata, tengoklah akan kami ini! Inilah pentahiran kami minum. semoga ini menjadi pemberi tenaga dan kesehatan bagi kami yang kelaparan ini. Bukan karena hutang nenekku, atau hutang dari ayahku atau hutangku hingga kami mengalami penderitaan seperti ini.... Hanya karena kehormatan yang dari pada-Mu-lah maka demikian halnya."

____________
Sambungan dari Tulisan sebelumnya Perang dan Tragedi di Negeri Bakara
*) Pasukan Marsose dilatih dan dibentuk oleh Christoffel di Cimahi, berseragam hijau kelabu, memakai cap lambang dua jari berdarah di kerah dan ikat leher merah darah sebagai pasukan "pengucur darah" yang disebut juga "kolonne macan" (tijger colonne) terdiri dari para sebagai orang-orang pilihan yang paling kasar, sadis dan biadab dan berstatus "lajang" yang pernah ditugaskan di Aceh.


Tidak ada komentar: