Minggu, 09 September 2012

PERANG DAN TRAGEDI DI NEGERI BAKARA

TINGKI NI PIDARI DAN BEGU ANTUK

Bakara, salah satu tanah leluhur "bona pasogit" Batak sepanjang sejarah kerajaan di Indonesia, meraih masa kejayaan di bawah dinasti Sisingamangaraja.  Namun selama hampir tiga puluh lima tahun  masa Sisingamangaraja X-XII terjadi peperangan dan musibah di negeri ini yang menewaskan hampir seluruh populasi penduduk dan meluluhlantakkan sawah, ladang rumah dan permukiman rakyat, yaitu:
1. Tingki ni Pidari
2. Begu Antuk
3. Si Bontar Mata 

1.  Tingki ni Pidari (Masa Paderi) di Bakara 
Perang saudara selama 2 (dua) tahun, 1818-1820, yang sasaran terakhirnya adalah negeri Bakara. Berlatarbelakang dari sakit hati dan dendam pribadi Pongki Nangolngolan (literatur lain menyebutnya: "Fakih")Ia lahir dari ibunya bernama Gana boru Sinambela  (putri Raja Sisingamangaraja XI) dan ayahnya Gindo Porang Sinambela (salah satu putra Raja Sisingamangaraja VIII).  Perkawinan semarga ini melanggar hukum dan adat.  Kaum adat, Raja Bius Bakara  menentangnya sehingga dengan berat hati Raja Sisingamangaraja X, Tuanku Nabolon,  mengambil keputusan untuk menyingkirkan Pongki dan Ibunya dari Bakara.
Perjalanan hidup membawanya ke Sumatera Barat dan karena kelebihannya sebagai turunan Sisingamangaraja, bakat, kepintarannya dan kepemimpinannya, ia diangkat sebagai salah satu panglima kepercayaan Tuanku Imam Bonjol, bergelar Tuanku Rao.  
Atas restu Tuanku Imam Bonjol dengan misi meng-Islam-kan Tanah Batak, ia juga membawa misi pribadi, balas dendam kepada Tuanku Nabolon.  Dengan pasukan "jubah putih" Paderi (bahasa Batak: Pidari) berkekuatan ratusan ribu orang (+ 150.000 pasukan) memporakporandakan Bakara, dan membumihanguskan istana kerajaan Sisingamangaraja.  Kekuatan tidak berimbang, hampir 75% populasi penduduk termasuk milisi Bakara tewas dan gugur dalam peperangan membela negerinya.  
Raja Sisingamangaraja X, akhirnya gugur oleh pedang Pongki dalam muslihat pertemuan  keluarga atas undangan Pongki, yang ternyata hanya siasat Si Pongki Nangolngolan.

2. Begu Antuk (Berjangitnya Wabah Kolera)
Tingki ni Pidari membawa kehancuran negeri Bakara, dan disusul dengan timbulnya  wabah penyakit kolera (disebut begu antuk -hantu pemukul-) karena jenazah korban perang yang bergelimpangan, tidak terurus secara layak. Ribuan penduduk Bakara meninggal terkena wabah ini. 
Peristiwa ini juga salah satu alasan yang membuat Kaum Paderi akhirnya menyingkir dan meninggalkan  Bakara kembali ke Sumatera Barat, selain pasukannya juga harus menghadapi Belanda. Pongki Nagolngolan gugur pada suatu peristiwa pertempuran di Air Bangis.

3. Si Bontar Mata  (Bersambung, Si Bontar Mata, Gomponi Bolanda)

Tidak ada komentar: