Kamis, 16 Agustus 2012

ASAL MULA DANAU TOBA



Danau Toba (foto, 2005)

Pada jaman dahulu kala, di negeri Toba, hiduplah seorang petani. Meskipun sebatang kara ia sangat  rajin bekerja di ladang, dan sambil menunggu masa panen ia menangkap ikan di sungai untuk memenehi kebutuhan hidupnya. 

Suatu hari, ia mendapat seekor ikan emas yang besar dan gemuk. Anehnya ikan tersebut dapat berbicara dan meminta si petani untuk tidak memakannya. Petani setuju dan luar biasa ternyata ikan emas berubah menjadi seorang wanita yang cantik dan bersedia menikah dengan si petani. Betapa bahagia si petani mendapat istri yang cantik, pintar dan rajin bekerja. Dari pernikahan tersebut lahir seorang anak yang sehat dan cerdas.

Waktu berlalu si anak sudah besar.  Seperti biasa oleh ibunya si anak disuruh mengantar makanan si ayah yang bekerja di ladang.  Di perjalanan karena lapar makanan itu dihabisi oleh si anak, dan ayahnya marah besar ke si anak dan membentaknya, "Dasar anak ikan!"  

Si anak menangis mengadu pada ibunya. Si Ibu kecewa karena si ayah telah melanggar janjinya untuk tidak mengungkapkan rahasia asal usulnya. Seketika itu si ibu meminta anaknya untuk segera pergi ke atas gunung dan seketika turunlah hujan lebat disertai kilat sambar menyambar dan terjadi banjir besar yang kemudian menggenangi daerah tersebut.  Akhirnya tempat tersebut menjadi sebuah danau, itulah Danau Toba.

Demikian asal mula terjadinya Danau Toba menurut mitologi.  Kisah ini mengandung simbol  akan gambaran dan makna tersirat, yaitu:
  1. Masyarakat Toba kuno (purba) peradabannya sudah maju, dimana mata pencaharian pokok mereka adalah bertani, bukan kelompok suku pemburu yang hidup di gua-gua batu atau tinggal di hutan belantara. Tradisi bertani ini masih berlangsung hingga kini di pedesaan Toba.  Kegiatan menangkap ikan dilakukan sambil menunggu masa panen.
  2. Ikan emas dalam mitologi tersebut mengingatkan akan tradisi sejak dahulu yaitu adat hidangan "ikan emas" dalam suatu acara pernikahan sebagai simbol berkat kehidupan yang diberikan oleh hula-hula (pihak pemberi wanita) kepada mempelai.
  3. Rumah tangga yang ideal bagi masyarakat Toba adalah berketurunan. Anak adalah kebahagian dan harta yang paling utama bagi suku Batak (anakhonki do hamoraon di ahu dan juga dikatakan,"Mate-mate di anak do roha ni halak Batak").  
  4. Banjir dan air yang melimpah menjadi danau, simbol melimpahnya berkat, kebaikan dan sumber kehidupan bagi masyarakat Batak dari suatu pernikahan dan berketurunan, dan membentuk satu komunitas Batak.
  5. Pada mitologi terjadinya banjir yang menjadi danau semula dipicu oleh kemarahan orang tua kepada  anak" bagi suku Batak. (kata-kata keras atau "amarah" orang tua sesungguhnya kata-kata mendidik dan mengingatkan anak untuk kebaikan). Seperti dikatakan, "Risi-risi hata ni jolma, lamam-lamam hata ni begu (risih kata-kata manusia, lemah lembut kata-kata setan.  Maksudnya: kata-kata keras terkadang pedas dan membuat risih tujuannya untuk kebaikan,  sementara kata-kata yang lembut bisa saja karena ada niat menjerumuskan atau tidak selamanya ucapan yang keras itu negatif, begitu juga terkadang keramahan yang dibuat-buat untuk niat yang tidak baik).

_____________________
Klik juga:Tao Toba

Tidak ada komentar: