Jumat, 27 Juli 2012

UTANG SARIBU RAJA

Utang Saribu Raja sebagai perumpamaan untuk utang yang sangat banyak sehingga tidak terbayarkan atau bahasa Bataknya "utang na so boi gararan."  Istilah ini ada, dilatarbelakangi kisah perjudian Saribu Raja [1] (putra Guru Tatea Bulan) dengan  Sangkar Somalidang dan Tunggul ni Juji sebagai bandar perjudian, yang tidak lain adalah putra dari Raja Isumbaon (Raja Isumbaon adik dari Guru Tatea Bulan) [2]

Mereka bertiga adalah penggemar berjudi dan penjudi ulung (parjuji langis/parjuji na utusan). Setiap kali bertemu, mereka berjudi dan selalu berimbang. Tempat mereka bermain judi "dadu" di sebuah tempat di lereng Pusuk Buhit.  Situs ini masih ada hingga kini, di mana terdapat meja dan kursi tempat berjudi yang terbuat dari batu. Untuk dadunya, konon, terdiri dari enam sisi terbuat dari tulang hewan, diberi biji satu, dua, lima dan enam, sedangkan dua sisi lainnya kosong. 

Lama kelamaan, tibalah suatu masa keberuntungan judi tidak lagi memihak pada Saribu Raja. Ia selalu kalah.  Siang malam ia berjudi, semua harta kekayaannya, emas, hewan ternak peliharaan dan ladang pertaniannya habis dipertaruhkan. Semakin Saribu Raja terpancing emosi ingin membalas kekalahannya, semakin habis seluruh harta kekayaannya hingga dia berhutang pada Tunggul ni Juji dan Sangkar Somalidang. Karena utangnya sudah menumpuk, Tunggul ni Juji dan Sangkar Somalidang menagihya, Saribu Raja terdesak, tidak dapat berbuat apa-apa, katanya: "Tutu do ahu marutang tu hamuna, alai so adong be artanghu lao manggarar i. Nunga mintop saluhutna (Benar bahwa aku berhutang padamu, tetapi aku sudah tidak punya harta lagi untuk membayarnya, sudah habis semuanya)." 

Saribu Raja dengan putus asa, melanjutkan ucapannya,"Ramba dohot harangan an ma garar ni i tu hamuna, ai ndatung aha be bahenonhu manggarar  (Ilalang dan hutan itulah sebagai pembayaran ke kalian, apa boleh buat tiada lagi aku sanggup membayarnya."

Sangkar Somalidang menanggapinya dengan emosi, "Na so uhum do na pandokmi, ndang na masa ramba dohot harangan manggarar utang (ucapanmu sudah keterlaluan, tidaklah masuk diakal belukar dan hutan rimba untuk membayar hutang)."  Saribu Raja  memelas dan mohon, "“Aku tidak sanggup lagi membayar hutangku.  Tinggal diriku ini sajalah, tiada lagi hartaku. Terserah kalian ambillah apa yang ada pada diriku, tetapi jangan nyawaku,”  

"Antong molo songon i, salibonmi dohot obukmi ma riganan bahen gararmu (jika demikian alismu dan seluruh bulu rambutmu kami cabuti)."  Maka dicabutilah segala bulu yang ada, termasuk bulu alis mata, kumis, jenggot dan jambangnya.  Betapa sakit dan menderitanya Saribu Raja diperlakukan demikian, tetapi apa boleh buat, itu sebagai derita yang harus dia tanggung.   Dengan  perasaan hancur luluh, Saribu Raja berjalan terlunta-lunta penuh luka yang menjadi bopeng/parut di wajah dan kepalanya karena rambut dan bulunya dicabut dengan paksa, dan terlebih dalam luka di dalam hatinya, menanggung perasaan terhina  [3].  
________________

Klik: [1] Uraian tentang Saribu Raja[2] Raja IsumbaonLihat juga silsilah dan hubungan antara Saribu Raja dengan Raja Asi-asi[3]  Kisah perjalanan hidup Saribu Raja akan berkelanjutan (bersambung).

11 komentar:

bernad pasaribu mengatakan...

atas dasar apa anda membuat cerita ini,apa anda mempunyai fakta yang kongkrit

Tom Pas mengatakan...

Kurang Ajar, anda sangat menghina oppu kami Saribu Raja.

H Bakara mengatakan...

Fakta sejarah itu terkadang "pahit," tetapi semoga ada hikmahnya. Mengetahui sejarah bermanfaat sebagai suri teladan, dan pembelajaran yang menjadikan manusia lebih arif dan "humanis."

Sumber cerita ini adalah studi pustaka dan lisan. Coba Sdr. gali kembali dengan membaca beberapa buku Batak, seperti misalnya "Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak" oleh W.M. Hutagalung dan bertanya kepada Orang Tua-Tua Batak tentang cerita ini.

Jika sejarah lisan, sumber tertulis dan di Blog yang Anda temukan juga menceritakan kembali tentang --"Santabi sangap ni Ompunta..."-- Op. Sariburaja, dalam kisah hubungannya dengan saudari kembarnya Op. Siboru Pareme, bukan berarti "Si penutur" berlaku "kurang ajar atau menghina."

Semuanya tergantung bagaimana maksud hati atau niat seseorang. Semoga dalam hal ini dapat disikapi lebih arif dan bijaksana.

Boti ma. Horas!

Catatan: komentar di Blog ini sengaja "open" sebagai simbol "demokrasi"

pryatno pasaribu mengatakan...

Sattabi sangap ni akka dongan tubu hu,dohot pinompar ni namboru husian Oppung sirajaoloan.Sattabi sangap ni da Oppung saribu raja,memang toho do parjuji oppung i,dang taralo parbinotoan ni da oppung taringot tu si.Alana ngahea pas masuk da Oppung i tu hasorangan na di siantar Hu jalo tu da oppung ,alai di dokkon da oppung do tu ahu "dang si ulaon i siminikhu olo do obut mu do salibon mu habis. "
Alai sattabi ma pompani namboru ku Anggo da Oppung saribu Raja dohot namboru hu Si Boru Pareme dang adong berhubungan.masalah i Boi do LAngsung i Sukkun tu Hasorangan ni Namboru i.
mauliate godang

musa sitakar mengatakan...

Pengetahuan yang kurang menghargai. Kenapa harus hula hulamu sendiri yang diceritakan. Lebih baik ceritakan marga sendiri.

musa sitakar mengatakan...

Pengetahuan yang kurang menghargai. Kenapa harus hula hulamu sendiri yang diceritakan. Lebih baik ceritakan marga sendiri.

musa sitakar mengatakan...

Pengetahuan yang kurang menghargai. Kenapa harus hula hulamu sendiri yang diceritakan. Lebih baik ceritakan marga sendiri.

musa sitakar mengatakan...

Pengetahuan yang kurang menghargai. Kenapa harus hula hulamu sendiri yang diceritakan. Lebih baik ceritakan marga sendiri.

Rizky mengatakan...

Buset asal posting nya

Rizky mengatakan...

Buset asal posting nya

Rizky mengatakan...

Buset asal posting nya