Rabu, 18 Juli 2012

PANSUR, LOBU TUA DAN BARUS


Sejarah Batak Kuno, tidak terlepas dari sejarah kota Lobu Tua, Barus dengan pelabuhannya Pansur.   Pansur (Panchur, Fansur, Fansuri, Fanchour) dan  Barus (Barusai, Barousai) sudah dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan internasional yang ramai sejak abad sebelum Masehi. Pelabuhan ini ramai dikunjungi oleh pedagang dan utusan kerajaan dari penjuru dunia seperti India, Cina, Timur Tengah (Arab, MesirPersia), dan Eropa (Spanyol, Portugis, Inggris) [1].  Suku Batak dari pedalaman di pegunungan dan lembah sekitar Toba (Danau Toba) juga memperdagangkan hasil alamnya di Barus.

Temuan arkeologi paling terkenal dari Barus ialah sebuah tiang (prasasti batu bertulis) dari Lobu Tua, terdapat angka 1088 M yang menuliskan tentang serikat perdagangan orang Tamil di Pansur selama abad ke-11.

Pulau Sumatra, dan khususnya wilayah Sumatera bagian Utara, sudah terkenal di seluruh dunia akan hasil alamnya yaitu Kapur Barus (Kamper) dan Kemenyan (English: Benzoin). Selain itu Kayu Ophir, dan Emas, yang diperdagangkan di kota pelabuhan Pansur.  Pada teks Ramayana menyebut Pulau Sumatera sebagai Pulau Emas dan Perak; pengembara Yi Tsing menamakannya Kin-tcheou (Pulau Emas); pada prasasti Raja Jawa, Krtanegara pada tahun 1286 terdapat nama Suvarnabhumi (Bumi Emas) Pulau Emas , dan menurut teks India, Brhatkatha dari abad ke-11 M menyebut Suvarnadvipa (Swarnadwipa, pulau Emas).[2]

Dinasti Sisingamangaraja dari Bakara, membangun ekonomi kerajaan dengan sumber penghasilan utama dari perdagangan kapur barus dan kemenyan dengan Raja-raja Barus (dinasti Raja Uti) dan Raja Pagaruyung (Minangkabau) di Barus.

___________________________________________________________________________________
[1]  Dalam Claude Guillot, Lobu Tua Sejarah Awal Barus,” Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: 2002
[2] Keram Kevonian, “Suatu Catatan Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia,” dalam Claude Guillot, Ibid., hal. 35-36.

1 komentar:

ronauli T mengatakan...

kapan yah aku bisa mendapatkan cerita tentang negeri Batak dari tua-tua orang Batak, bukan dari penulis orientalist yang notabene menulis untuk kpentingan penjajah? memang perang paderi dan masuknya agama baru telah menimbulkan hilangnya banyak pustaha ,lak2 , turi2an dan torsa2, tapi songon pandokni ito Sahat S. Gurning di ITM 'dang dao harajaon sian bangsona', oh..Tuhan Mulajadi Nabolon..patudu ma au tu angka nabisuki asa boi dapothu barita ni bangso Batak nasitohona , mauliate..horas,,,