Senin, 18 Juni 2012

TIGA DINASTI KERAJAAN DI TANAH BATAK

Menelusuri dan Mengungkap Sejarah Asal Mula Batak (Bagian I)

Seni Ukir Batak (Jenggar, Foto 2006)
Peradaban Batak di Sumatera bermula sejak hampir + 3.000 tahun yang lalu, tidak muncul begitu saja, tetapi melalui proses perjalanan sejarah panjang sebagai ras suku Proto Melayu (Melayu Tua) yang mempunyai religi, adat istiadat, tradisi, ilmu pengetahuan dan filosofi yang tinggi.  Suku Batak ini mempunyai ciri khas kebudayaan tersendiri pada tradisi, adat, seni bangunan rumah, ukir-ukiran, musik, bahasa, aksara, penanggalan dan pengetahuan perbintangan.

Sepanjang sejarah Suku Batak Kuno (Toba Tua) di Sumatera, pernah terdapat tiga dinasti kerajaan yang menyatukan berbagai kelompok suku yang mempunyai keterkaitan dengan beberapa suku dari India Selatan,  pedalaman Myanmar (Burma)  – Thailand dan Tibet, yang sebelumnya telah mendiami kepulauan dan Pulau Sumatera sejak abad sebelum masehi (+ 1.500 SM).  Pemimpin di antara pemimpin (Primus Interpares) suku membentuk dinasti yang menaungi kelompok klan, kerajaan-kerajaan suku di Tanah Batak (sampai dengan Aceh) dan selanjutnya Raja-raja Marga-marga dan Wilayah Huta, yaitu:

1.  Dinasti Sori Mangaraja
Dinasti ini dipimpin oleh raja turun temurun yang bergelar Sori Mangaraja (Sori Mangaraja diadaptasi dari gelar Sri Maharaj).  Sori Mangaraja I didampingi penasihat kerajaaan, Batara Guru, tokoh dari India Selatan.  Dinasti ini berdiri selama + 300-500 tahun, sejak abad ke-7 M (atau abad ke-9 M?) sampai dengan awal abad ke-12 M.
Ibukota kerajaan di Lobu Tua, Barus dan Pansur sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan dunia.  Selama berdiri, Dinasti ini membangun peradaban dan kebudayaan yang tinggi dan maju. Dinasti berakhir akibat peperangan yang dahsyat antara Kerajaan Chola, India dengan Sriwijaya di wilayahnya.

2.  Dinasti Hatorusan
Dinasti berdiri selama hampir 300 tahun sejak awal abad ke-13 M sampai dengan awal abad ke-16 M dipimpin oleh raja turun-temurun yang bergelar Raja Hatorusan I-VII. Raja Pertama, Uti Mutiaraja, berasal dari keturunan Guru Tatea Bulan, Pusuk Buhit. Dinasti ini berupaya menata kembali dan meneruskan tradisi kerajaan dan kejayaan Dinasti Sori Mangaraja.  Ibukota Kerajaan di Barus dan kemudian bergeser ke pedalaman di perbatasan wilayah Aceh. Kamper dan kemenyaan tetap sebagai sumber penghasilan kerajaan yang diperdagangkan di pelabuhan Pansur, Barus.  Dinasti ini menyerahkan tampuk kuasa kerajaan ke Dinasti Sisingamangaraja dari Negeri Bakara.

3.  Dinasti Sisingamangaraja
Dinasti ini berdiri selama + 400 tahun,  sejak tahun 1500-an sampai dengan 1907. Pusat pemerintahan di Negeri Bakara, di bawah kepemimpinan Raja Sisingamangaraja I – XII.   Kerajaan ini bersama rakyatnya menghadapi peperangan selama 30 tahun dengan Belanda yang berusaha menaklukkan Tanah Batak.   Dinasti berakhir dengan gugurnya Sisingamangaraja XII, Ompu Patuan Bosar  Sinambela (Ompu Pulo Batu) sebagai Sisingamangaraja terakhir, pada pertempuran heroik di Si Onom Hudon tahun 1907. 

Uraian sejarah masing-masing Dinasti akan diuraikan lebih lanjut (Bersambung).
________________

Catatan: Perkiraan tahun di atas disarikan dari catatan dan peristiwa sejarah yang terkait dari sumber Pustaka yang akan disajikan pada uraikan berikutnya. Angka tahun bisa saja berubah jika terdapat sumber dan bukti sejarah yang lebih valid.





3 komentar:

Anonim mengatakan...

blog ini sangat bagus,seolah kita berpetualang ke masa ke emasan batak,,klu boleh bertanya mengapa marga sinambela yang memegang tampuk kerajaan bangsa batak.apakah dulu setiap raja di Batak memberi semacam Upeti..terhadap Raja Sisingamangaraja?
jadi banyak nanya nih,,,tolong dong di ceritakan lebih dalam mengenai Tuanku Rao...

Horas mauliate,,Abed Naibaho

udien sianturi mengatakan...

Kalau menurut saya, 3 dinasti ini hanya yg tercatat oleh sejarah, pada kenyataan aslinya kita tidak tahu. Apakah persis seperti uraian sejarah tercatat?
Tapi ini memang blog yg bagus, saya akui. Menambah wawasan tentang sejarah batak. Khusus untuk dinasti Sisingamangaraja, kita jangan terlalu terbuai. Belum tentu pada jaman itu, semua tanah batak mengakui/menyetujui keberadaan kerajaan Sisingamangaraja. Karna kerajaan tersebut hanya berpusat di Bakkara saja. Bagimana dengan daerah batak yg lain? Apakah mengakui? Adakah buktinya kalau mengakui? Karna Raja Sisingamangaraja hanya dibentuk oleh Onom Ompu (enam marga besar di Bakkara). Bagaimana dengan marga-marga batak lain yg banyak sekali di daerah tanah batak yg lain?
Kalau mengenai kenapa hanya Sinambela yg menjadi Sisingamangaraja I-XII, yah karna dari Sisingamangaraja I sudah dipilih (berdasarkan wangsit ke ibunya yg hamil selama 19 bulan untuk melahirkan Sang Singa yg pertama itu). Dan yg berikutnya yah memang harus keturunan dia yg memegang kekuasaan walaupun tidak harus anak yg pertama. Tapi memang saya salut sekali ama beliau terutama ama Sang Singa ke XII.Dengan gagah berani lebih memilih mati perkasa berjuang melawan Belanda penjajah daripada memilih menjadi Sultan yg ditawarkan ke beliau oleh si penjajah.

nusantara danang mengatakan...

halo selamat pagi...
perkenalkan nama saya yosep nusantara, dari arsip nasional, mhon informasi terkait keturunan dari negeri bakara yang bisa dihubungi? kebetulan ada kegiatan penelusuran sejarah thdp peran kerajaan2 di nusantara hingga saat ini melalui wawancara sejarah lisan...mohon bantuannya jika ada informasi yang terkait.. terima kasih