Sabtu, 30 Juni 2012

MARTUTU AEK


Martutu aek [1] adalah pembabtisan dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang), kemudian dilanjutkan dengan acara adat memberikan nama bayi.  Si ibu menggendong anaknya dengan ulos ragi idup didampingi oleh ayahnya beserta kerabat, sanak saudara. Bila bayinya laki-laki turut di bawa hujur (tombak) sebagai simbol laki-laki, jika perempuan baliga (perkakas tenun berbentuk seperti sisir). Tiba di tepi homban, bayi diletakkan di atas gundukan pasir, dibentangkan beralaskan ulos gendongan.

Datu menciduk air dan memandikan bayi dalam keadaan telanjang.  Diiringi tangis bayi, diucapkan: “sai lam tu toropnama soara ni anak dohot boru tu joloan on“ (semoga makin ramai suara anak dan boru di masa mendatang) maksudnya sebagai pengharapan agar keturunan suku Batak semakin banyak, baik laki-laki dan perempuan.

Bayi kemudian dibawa kembali ke rumah, dilanjutkan dengan acara pemberian nama. Nama dipertimbangkan dengan cermat, karena Suku Batak meyakini nama dan tondi [2] harus sejalan.  Jika mambuat goar ni Ompu atau membuat nama seperti nama Ompung atau leluhurnya, harus mendapat persetujuan dari seluruh keturunan saompu (satu leluhur).  Setelah mendapat doa restu keluarga dan sanak saudara, maka syahlah nama anak tersebut, dilanjut makan bersama seluruh keluarga sebagai ungkapan syukur.
______________________________
Klik juga [1]  Adat Batak dan Kristen II dan  [2] Tondi

Tidak ada komentar: