Sabtu, 09 Juni 2012

GURU PATIMPUS


Silsilah Keluarga Guru Patimpus 

Guru Patimpus, adalah cucu dari Sisingamangaraja I, Raja Manghuntal dari Bakara. Menurut Riwayat Hamparan Perak sebagai berikut: "Alkisah kata sahibul hikayat suatu cerita dahulu kala seorang Raja bernama Singa Mahraja memerintah di negeri Bakerah." (Singa Mahraja dimaksud adalah Sisingamangaraja dan negeri Bakerah adalah Negeri Bakara).

Sisingamangaraja I mempunyai dua putra, Tuan Mandolang, putra I, terpilih menjadi Sisingamangaraja II menggantikan ayahnya.  Putra kedua, Tuan Si Raja Hita perpamitan dan meminta doa restu kepada ayahnya Sisingamangaraja I untuk pergi ke negeri lain,  bersama pengikutnya bermaksud untuk mendirikan kerajaaan baru. Bertahun ia berjalan sampai di Gunung Si Bayak (Gunung Sibayak), dataran tinggi Karo, dan dibuatlah nama kampung itu Karo Sepuluh Dua Kuta.

Tuan Si Raja Hita mendirikan beberapa kerajaan untuk anaknya Pakan dan Balige, tetapi Timpus putra sulungnya tidak bersedia menjadi Raja dan lebih suka berpetualang mencari dan mengadu ilmu, ia kemudian dipanggil orang Guru Patimpus.*

Guru Patimpus menikah dengan putri raja Ketusing. Dari pernikahan ini lahir enam putra, dan satu putri (putri ini dinikahkan dengan Raja Tangging).  Setiap lahir putra dibukanya kampung yang diberi nama sesuai nama anaknya yaitu: Benara, Kuluhu, Batu, Salahan, Paropa dan Liang Tanah.

Guru Patimpus mendengar bahwa di Karo terjadi huru-hara. Dia datang ke Karo dan tiba di Ajei Jahei. Dia mendamaikan raja-raja yang bertikai, dan kemudian tinggal dan menikah di sana, lahirlah putranya pertama, Si Gelit, dan kedua Si Jahei yang menjadi raja di Ajei Jahei.

Guru Patimpus menikah lagi dengan putri Kepala Pulau Berayan bermarga Tarigan, dan setelah itu ia membuka dan mendirikan kota Medan sekitar tahun 1590, sebagai pusat pemerintahan kerajaannya dan dilanjutkan dengan putranya Hafiz Muda.

Demikian riwayat Guru Patimpus dari sumber Riwayat Hamparan Perak, yang disalin dengan Bahasa Melayu dari kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa Karo pada tahun 1274 H.

Catatan Khusus: 15-05-2013
Sehubungan polemik Guru Patimpus, tulisan "Sinambela" setelah nama Guru Patimpus ini diedit dan kata "Batak" setelah "... kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa.." diganti dengan "Karo." 
Informasi mengenai polemik ini juga diuraikan pada: Kota Yang Kehilangan Jejak.

______________________________________ 
* = Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian/ ilmu di atas Datu disebut Guru.  Guru adalah gelar kehormatan karena para datu lain mengakui keunggulannya bahkan meminta petunjuk atau berguru kepadanya selaku suhu/mahaguru atau datunya Datu.  Lebih detail Klik di sini: "Datu, Sibaso, Guru dan Tuan" 

24 komentar:

saragih mengatakan...

aneh......
Guru patimpus sembiring pelawi broo
sembiring itu termasuk silalahi. bukan si raja oloan

saragih mengatakan...

guru patimpus itu sembiring pelawi
bukan sinambela

H Bakara mengatakan...

Ada berbagai catatan tentang sejarah/riwayat Guru Patimpus, tetapi yang ditampilkan pada tulisan ini merujuk dari : "Riwayat Hamparan Perak," dalam Batara Sangti, "Sejarah Batak," 1977, Balige, hal. 214-215

Bastanta P. Sembiring mengatakan...

Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
hehehehe...
Memang aneh kalian ya dan pintar kali membuat terombo. Salut dekh.
Jangan-jangan 100 tahun kemudian Tifatul Sembiring berubah menjadi Tifatul Simanjuntak. Hehehehe...
M. S. Kaban menjadi M. S. Sialagan. Wkwkwkwk...

Jangan sepihak donk, broo.. Lebih masuk akal kalau dibilang "Sisingamangaraja" itu, "Singa Meraja" seorang bermerga " Karo-karo Barus" yang menaklukan wilayah Tapanuli dan mendirikan kerajaan Batak dengan pusatnya di Bekerah. Karena Barus itu setara dengan Sinambela.

Dan, dari etimologi namanya saja sudah tidak berasa Toba-Batak.

Guru = orang pintar: ahli agama, racun, kebijaksanaan, dll. Contoh: Guru Sibaso, Guru Peraji-aji, Guru Perdewel-dewel. Kalau di Toba-Batak = Datu.

Pa = itu sebutan/pangilan untuk kaum pria Karo. Contoh: Pa Timpus, Pa Lagan, Pa Sendi, Pa Tolong, dll.

Timpus= kebiasaan para penjelajah Karo, baik puluh dagang(kaum pedagang), perlanja sira(pemikul, pedagang, penyadap garam) menimpuskan(mengikat kan) bekalnya(baik makanan, obat-obatan, dan senjata) di punggung atau pinggangnya. Jadi sangat KEKAROAN, tidak KETOBAAN(KEBATAKAN).

Lucu-lucu-lucu..
Kalau dalam alep-alep Karo " rap - rap - rap .... SURAK...!"
Mejuah-juah, impal.
Kalau kam tadi keturunan Nini Bulang kami Guru Patumpus Sembiring Pelawi maka anda akan saya panggil SENINA. Bujur Tuhan Yesus Memberkatimu saudara. :D

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas masukan dari Bastanta P. Sembiring.

Menanggapi pendapat itu:

1. Guru dalam bahasa Toba adalah pengajar, pelatih (zaman dahulu "Guru" pengajar ilmu hadatuon dan juga pelatih silat/pendekar). Salah satu dari leluhur Toba bernama Guru Tatea Bulan, putra si Raja Batak sebagai pewaris dan tokoh yang ber"ilmu" tinggi di bidang hadatuon, parmosakan, pangaliluon (perdukunan, pencak silat dan bela diri).

2. Timpus juga adalah kosa kata Toba, artinya membungkus dengan kain atau ulos dan ditutup dengan cara mengikat bungkusan tersebut.
Pa = sebagai awalan kata yang jika digabungkan dengan kata kerja artinya menjadikan, membuat atau melakukan. Patimpus = menjadikan sesuatu bungkusan.


Perbedaan dan adanya persamaan pendapat di atas kiranya sebagai "catatan tambahan" bukan untuk mempertentangkan atau "menyamanyamakan" tetapi sebagai jalan untuk menggali lebih dalam bukti-bukti sejarah.

Steven Amor mengatakan...

Demikian riwayat Guru Patimpus Sinambela dari sumber Riwayat Hamparan Perak, yang disalin dengan Bahasa Melayu dari kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa Batak pada tahun 1274 H.

Bukankah naskah aslinya ditulis dengan aksara Karo ???

Merujuk dari tarombo diatas, saya mau bertanya :

Sejak Kapankah istilah TAROMBO BATAK muncul, yang ditulis dalam AKSARA BATAK bukan LATIN ? Trims

Anonim mengatakan...

hahahaha...
Yang saya tahu, selain Batara Sangti sepertinya sebelumnya tidak ada orang Toba yang mengenal Guru Patimpus. Sedangkan, kalau di antara kalak Karo Guru Patimpus Sembiring Pelawi itu sangat populer dan bahkan naskah asli yang kemudian jadi Hikayat Hamparan Perak(bahasa Melayu) sebelumnya(asliny) dalam Cakap(bahasa) Karo dan ditulis dalam Aksara Karo. Bukan begitu?

Hahahahhaa....
Jangan-jangan, besok keluar lagi silsilah Tifatul Sinambela? :D

Anonim mengatakan...

Akh! Memalukan pun kalian orang Toba ini. Nampak kali gak ada tokoh legendaris kalian seperti di Karo: Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Datuk Badiuzzaman Surbakti, Kiras Bangun(Pa Gara Mata), Narsar Karo-karo(Pa Kantur), Pa Lagan, dll; mandailing: Wiliam Iskandar, adam Malik, Baharoedin Harahap, dll sehingga kalian harus mengklem punya orang. Hahahaha... Segitu banyak jumlah populasi kalian masak nggak ada tokoh legendaris selain SM Raja?
hehehe... :p

ismail ishaq manalu mengatakan...

menurut ana sih,kita semua ditarik dari keturunan nuh anaknya 3:sam?sem,yafet/yafith&ham
nah,kalo kita mau pastikan apakah batak,jawa,bugis,dll dr salah satu mereka pasti sulit,kecuali orang bangsa israil,arab mungkin bisa mengena dari arah sam & pd saat itu marga belum menjadi paten,seperti ibrahim/abraham---anaknya tidak pake marga bapaknya.anak nabi ibrahm ismail dan ishaq
lompat keorang batak,jg pd awalnya marga belum begitu paten yg akhirnya dipatenkan.tp jg jangan lupa etnit,komunitas,organisasi,aliran,people group,dll sudah terbentuk.ex:etnit gorontalo terbagi ke4 sub etnit yg tidak saling mengakui yaitu gorontalo sendiri,bulango,suwawa&atinggola.walaupun akhirnya mereka lebur kedalam kegorontaloan sebagai center perkembangan peradaban.manado(etnit minahasa)jg sama ada beberapa bagian tombatu,tongtemboan,dll walaupun lebur kedalam minahasa.bisa saja dimasa depan ada nama patimpus suharjo,tipatul togatorop,apalagi tipatul itu sudah lebih kearaban.ada rekan saya tidak mau buat marga manalu tp manru(manalu rumaijuk.menjadi sama itu tidak harus!tapi ada nilai-nilai persamaan sebagai jembatan silaturahmi(persaudaraan)bagus.supaya kita jangan sampe menghina yg mulia,tujuannya adalah wahyu 7:9 dan QS al hujuraat 13.toba,mandailing,karo,angkola,pakpak,simalungun,& apa saja jelah berbeda.tp mungkin dulu mereka tidak berperang tp ngopi/markombur dikedai nya ahong,atau marmahan sama2,dll.dan yg ana tahu mereka pasti membangun bersama,buktinya kita bisa menikmati kota medan,kota2 dikabupaten,danautoba,andaliman,dll
bersama-sama.syukran/moleate/thanks/haturnurun. ishaq

ismail ishaq manalu mengatakan...

tapi ana salut ame ente h bakara,maju terus.jawaban ente tenang!mungkin abang orang peace,hehehe.lebih baik berkarya dari pada menghina.oyaa sekedar info,marga ana disini(sulawesi)aneh/lucu,karna ada sub etnik yg sama manalu juga tp makna sama,jadi ana bilang"mungkin nenek moyang ana dulu berpetualang kedaerah anda"! hehe

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas semua pendapat. Saya menilai pendapat yang berbeda didasari oleh rasa bangga dan hormat akan Guru Patimpus. Jika Batak Toba menganggapnya sebagai keturunan Batak Toba dan Suku Karo menyatakan Guru Patimpus adalah dari keturunan Sembiring Pelawi (Suku Karo).

Tambahan informasi:
1. Bahwa Riwayat Hamparan Perak ditulis di atas kulit alim (sejenis kulit kayu) dalam bahasa dan huruf Karo. Konon naskah asli ini musnah ketika terjadi revolusi sosial tahun 1946.
(catatan: Pada buku "Sejarah Batak" Batara Sangti, Suku Karo disebut sebagai Batak atau Batak Karo).
2. Salinan Riwayat Hamparan Perak disalin ke dalam tulisan dan bahasa Melayu (tulis Jawi) tahun 1274 H (sekitar tahun 1857)kemudian disalin lagi dan dilanjutkan ke bahasa Melayu tulisan latin pada 29-12-1916)
3. Tulisan Latin 1916 tersebut sebagai rujukan Panitia Hari Jadi Kota Medan. Pada hasil rapat Panitia tanggal 24-10-1973 ditetapkanlah 1 Juli 1950 sebagai hari jadi kota Medan yang didirikan oleh Guru Patimpus.

Kiranya ada kesempatan untuk melihat dan mempelajari dokumen rujukan Panitia tersebut sebagai yang lebih sahih (valid) untuk mengungkap fakta sejarah.

Tulisan ini hanya melihat dari satu sumber rujukan versi karya penulis "Batak Toba," yang menampilkan salinan dari Riwayat Hamparan Perak. Demikian, harap maklum kiranya.

Anonim mengatakan...

hallo...

saya shasha pelawi.. dan saya sebagai keturunan pelawi,, guru patimpus itu sembiring pelawi,,

thanks!

Anonim mengatakan...

kok agak dipaksakan tulisannya ya??
gak klop gto..apa udh merujuk ke pustaha dan sejarah dari karo lae??
apa tulisan ini bisa dipertanggung jawabkan??

sembiring pelawi jadi sinambela ??
ahahahahaha...

Anonim mengatakan...

Diatas ada dibuat bagan "TAROMBO BATAK" pertanyaannya adakah tulisan asli dalam aksara Batak yang menuliskan tentang "TAROMBO BATAK" karena pernah saya dengar selentingan jika TAROMBO BATAK diciptakan pra Indonesia Merdeka.

Dan jika mau tahu informasi rujukannya bisa dikonfirmasi kepada Bapak Dr. Masang Sitepu, SpM di USU.

"Sejarah Batak" Batara Sangti, Suku Karo disebut sebagai Batak atau Batak Karo. Teori Batara Sangti sudah dipatahkan oleh Daniel Perret dalam bukunya : "Kolonialisme dan Etnisitas:Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut". Lalu apa tanggapan saudara dengan desertasi tsb ?

Kemudian ada juga statement jika orang Gayo keturunan siraja Batak, lantas apa tanggapan saudara dengan penemuan kerangka manusia purba yang berumur 7400 tahun dan hasil test DNA cocok dengan orang Gayo ?


Terima kasih buat waktunya untuk membaca komentar saya, dan tidak lupa untuk menjawab pertanyaan saya.

Horas

Anonim mengatakan...

Dan jika mau tahu informasi rujukannya bisa dikonfirmasi kepada Bapak Dr. Masang Sitepu, SpM di USU

Untuk informasi Guru Patimpus

Anonim mengatakan...

keluarga besar sembiring pelawi ga terima loh kalo dibilang guru patimpus bukan sembiring pelawi. jelas2 guru patimpus itu sembiring pelawi,

jujur saya sebagai keturunan sembiring pelawi, kesal membaca ini. dan jangan sampai lah kita sesama orang sumut ribut, hanya karena tulisan anda,

GURU PATIMPUS ITU SEMBIRING PELAWI!!! BUKAN SINAMBELA ATAU APAPUN!!!

Anonim mengatakan...

guru patimpus ya guru patimpus aja.
yang namanya orang karo atau toba kalau mengenalkan diri kemana aja pasti bilang marganya.

Anonim mengatakan...

jangan setelah guru patimpus terkenal semua mau klaim marganya.Jangan jangan cerita tentang guru patimpus cuma fiksi doang

Anonim mengatakan...

kalo fiksi itu tidak mungkin,,

saya keturunan pelawi langsung. dan saya kesal kakek buyut saya diklaim bukan pelawi.

dan tolong jangan ada keributan dan untuk yang membuat artikel di blog ini. mohon dicari kejelasannya. jangan asal jeplak aja

buat yang komentar mohon jangan menjadi kambing hitam atau apapun.

yang pasti guru patimpus itu PELAWI bukan SINAMBELA

_sarah_

Jayamuddin Barus mengatakan...

Lae batak toba itu sifatnya suka ngaku ngaku diluar. akibat ngaku ngaku ini masyarakat luar sumatera utara menganggap sumatera utara identik dengan batak toba. parahhhhhhh. tulisan lae hanya fiksi sebab ada mata rantai yang hilang. kalau lae tidak mau dibilang ngada ngada, coba buat tulisan bagaimana bisa guru patimpus jadi sembiring padahal keturunan sisinga mangaraja bermarga sinambela.

jhosimar1297 mengatakan...

Sangat perlu utk mendiskusikan
"Salinan Riwayat Hamparan Perak" dgn kepala dingin.

Bentuklah sebuah seminar dan undang seluruh tokoh adat yg mengerti masalah ini.

Jika perlu, undang juga para "hasandaran" agar emmperkuat bukti yang ada.

Kesimpulan dari Seminar harus mengikat dan menjadi rujukan untuk anak cucu kita.

Mohon tidak saling melecehkan suku lain utk mencari kebenaran hakiki.

putra belawan mengatakan...

Marga. Bagi etnis BatakKaro merupakan bukti identitas. Namun bukan jaminan merupakan nasab seperti yang dibudayakan oleh orang Arab dan sekitarnya. Sebagai contoh marga boleh diberikan kepada orang non Batak. Bukankah anak anak terakhir guru patimpus tidak menyandang marga? Semuanya mungkin benar bisa saja guru patimpus bermarga sinambela lalu mendapat marga lagi sebagai sembiring pelawi. Yang pasti kita semua adalah keturunan Adam.

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas komentar yang baik pada tulisan ini. Terimakasih atas penjelasan Sdr. "putra belawan."

Sehubungan dengan MARGA pada sejarah dan tradisi Suku Karo, Toba dan Simalungun sebagai berikut:
1. Merga Silima di Suku Karo pada awal mulanya tidak "semua" dari satu nenek moyang, tetapi pembentukan kelompok masyarakat dengan identitas pemersatu, yaitu Merga. Selanjutnya Merga ini dipakai sebagai nama keluarga turun-temurun dari keturunan identitas kelompok tersebut.
2. Pemahaman Suku Toba bahwa marga-marga Toba berasal dari satu leluhur Si Raja Batak. Tetapi terdapat juga adat "mangain" untuk mengangkat seseorang yang bukan keturunan marga menjadi anggota marga dan tradisi ini ada sampai kini. Jika untuk boru disebut "mangampu boru" (dapat dibaca dalam tulisan di Blog ini).
3. Bagi suku Simalungun: "Sin Raja sini Purba, Sin Dolog sini Panei, Naija pe lang marubah, asal na marholong atei.
Terjemahannya:
Dari Raya atau dari Purba, Dari Dolog atau dari Pane, dari manapun asalnya tidaklah dipermasalahkan, yang penting saling mengasihi.
Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Marga dari Toba Samosir yaitu Silau Raja, Ambarita Raja, Limbong & Manik awalnya sebagai kaum pendatang yang membaur menjadi marga-marga di Simalungun. Mereka diterima sebagai salah satu marga di Simalungun (Damanik, Purba, Sinaga, Saragih).

Dari informasi di atas: Dalam sejarah, tradisi atau adat Suku Karo, Toba dan Simalungun bahwa merga atau marga-marga tidak selalu berasal dari satu leluhur yang sama. Keturunan dari suku lain dapat diterima sebagai merga atau marga bagi sukunya, sebagai bagian dari keluarga "merga atau marga."

Ada baiknya kearifan tradisi "Para Leluhur Suku Karo, Toba dan Simalungun" ini menjadi suri teladan bagi kita generasinya.

ade ardi Pelawi mengatakan...

1. Pelawi.
Intro :
dahulu kala, di saat belum adanya agama, istilah karo nya agama pemena ataupun perbegu(empung nya patimpus pun belum lahir di saat itu), kami sembiring pelawi ketika mati, mayat di bakar, dan abu nya di hanyut kan di lau biang, sambil berkata :
"kami kembali ke tanah kelahiran, maka selamat lah kami sampai tujuan",

Inti :
saya (pelawi) akan mengaku orang toba apabila, lau biang berhenti mengalir di tanah toba.

Nb : seluruh marga di suku Toba, hanya Silalahi Sabungan laah yang menganggap Pelawi itu Appara nya.

2. Guru Patimpus.
sepengetahuan saya, beliau seorang Muslim, apabila seluruh anak nya tidak ada yang Muslim, apa masih Logika yaa ??


>> terserah anda mau bilang apa tentang marga nya Guru Patimpus, tapi pasti nya Pelawi itu bukan Toba,
karena kami berasal dari negeri Palawa.