Jumat, 25 Mei 2012

ELEK & ANJU

Kata "elek" dan "anju" merupakan bagian dari sikap dan tutur kata santun dalam budaya Batak.

Elek = bujuk, mohon; mangelek = membujuk (dalam arti positif) agar pihak yang dimohonkan sudi kiranya, atau memaklumi adanya, atau meminta dengan merendah hati untuk mendapat pengertian dari pihak yang dipintai.
Seperti ibarat (umpama)  "di toru do tangan ni na mangido" (dibawah posisi tangan yang meminta) artinya jika meminta sesuatu dengan sikap rendah hati dan membujuk dengan kata-kata santun, bukan memaksa. 

Anju = kelapangan hati, keikhlasan hati yang pengertian; manganju = memberikan kelapangan hati, bersikap sabar penuh pengertian, memberi kemaafan. Masianju-anjuan = saling sabar, pengertian dan toleran, penuh kemaafan.
Jika dikatakan "sai anju ma ahu" artinya kira-kira "senantiasa bersikap mengerti dan sabar terhadap diriku"

Petuah dari leluhur Batak, apabila seseorang menyadari kesalahan yang dibuatnya, ia  sebaiknya berusaha "mangelek" agar pihak yang dirugikan reda amarahnya, atau tidak mendendam hati. Seseorang tersebut harus meminta supaya pihak yang mungkin tersinggung atau dirugikan dapat secara ikhlas "marpanganju" (memaafkan atau maklum).

Seorang anak muda atau yang lebih muda meminta pengertian kepada tetua atau kerabat yang lebih tua, maka dengan sikap rendah hati yang tulus menyampaikan umpasa:
               "Ramba na poso na so tubuan lata,
               Halak na poso dope hami/ahu na so umboto hata."
Terjemahannya : bagai semak hijau yang belum bertunas, kami/saya masih muda sehingga masih belum fasih bertutur kata.  

Umpasa tersebut juga sering disampaikan yang lebih muda menurut tutur saat mangampu (menerima sambutan dari kata-kata nasihat dan kata-kata bijak orang tua dan kaum kerabat) dengan maksud agar kiranya senantiasa diberi nasihat dan pengarahan untuk semakin lebih bijaksana dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan keluarga dan di dalam mengikuti adat istiadat.

Tidak ada komentar: