Selasa, 24 April 2012

SIPANDAI


Sipandai (dibaca: si-pad-da-i) di Negeri Bakara merupakan kaum yang “meng-haram-kan” mengkonsumsui makanan seperti: daging babi, daging anjing dan darah, seperti halnya dengan kaum Parmalim.*  Selain itu mereka juga berpantang makan makanan daging hewan berkuku genap, ikan tidak bersisik dan minum minuman teh dan kopi serta merokok.  Mereka adalah penganut agama Advent  yang telah ada sejak pertengahan tahun 1900-an, dan jemaatnya masih eksis hingga kini di Negeri Bakara.

Menurut kaum Sipandai -- di Bakara --, jenis-jenis makanan atau minuman yang tidak tahir atau haram tersebut berdasarkan ajaran dari Nabi Musa, dan bertujuan juga untuk memelihara kondisi dan kesehatan tubuh.  Pada acara-acara adat Batak, kaum Sipandai disebut juga atau masuk ke kelompok “Parsubang” (subang=pantang, parsubang=kaum yang berpantang terhadap makanan tertentu), dan bagi mereka disediakan makanan khusus seperti: ikkan atau dengke mas na niarsik (ikan mas masak kuning; dengke dibaca dekke=ikan).

Sipandai bisa juga berarti si pencicip cita rasa makanan (dai=cita rasa makanan; mandai=mencicipi; mardai=berasa, lezat, enak rasa makanannya), tetapi dalam hal ini pengertiannya tidak berkaitan dengan hal “dai”.  Istilah Sipandai dalam bahasa sehari-hari yang diadaptasi dengan dialek Batak  sebenarnya berasal dari kata “Seventh Day” atau (Jemaat/Gereja Masehi Advent) Hari Ketujuh. Hari ketujuh, merupakan hari ibadah Sabat.  Mulai pukul 06.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB mereka umumnya “puasa” dan tidak melakukan kegiatan sehari-hari seperti bekerja, memasak atau kegiatan di rumah tangga kecuali melaksanakan ibadah.
______________

Tidak ada komentar: