Kamis, 15 Maret 2012

SIRIH

Sirih (Foto, 2012)



Sirih dalam bahasa Batak disebut juga:
1. Demban
2. Sirumatabulung (Dedaunan  hijau. Asal kata: rata = hijau; bulung = daun)
3. Napuran (asal kata: na hapuran atau nanihapuran = yang dicampur dengan kapur)
4. Burangir (Bahasa Angkola)

Sirih banyak manfaatnya bagi Suku Batak, yaitu:
1. Adat istiadat. Pada adat perkawinan, penyampaian uang mahar (sinamot/tuhor) di atas daun sirih yang diletakkan di piring yang berisi beras. 
2. Penghormatan. Untuk menyambut tamu, dan bersilaturahmi dengan sajian dan makan sirih (marnapuran) bersama. Daun sirih dicampu bahan lain, kapur, pinang dan gambir.
3. Ritual. Doa sujud  (martonggo) kepada Ompu Mulajadi Nabolon, dengan posisi tangan menyembah, dimana daun sirih diletakkan di telapak dan jemari tangan, sirih dilipat dua menutup permukaan atas daun, bagian pangkal daun di ujung jari, dan tulang tengah daun sejajar kedua telunjuk. 
4. Herbal. Bahan ramuan untuk taoar.
5. Status. Setelah prosesi mangalontik ipon,*) pemuda atau pemudi diberi dan boleh mengunyah sirih, sebagai pertanda telah memasuki tingkat dewasa.

Dalam mitologi Batak (turi-turian):
1. Bulan mengalahkan matahari. Matahari terkesima  pada bibir sang bulan yang memerah karena menguyah sirih, sehingga untuk memiliki pesona tersebut, matahari rela menelan 7 (tujuh) anaknya.  
2. Siboru Deang Parujar berhasil meluluhkan hati Naga Padoha, dan meredakan amarahnya karena terpesona sirih yang membuat bibir Siboru Deang memerah.

Napuran tano-tano, sirih yang tumbuh menjalar di tanah (tano=tanah). Ukuran daunnya kecil-kecil, lebih kecil dari sirih yang merambat ke atas atau ke pohon. 

______________
*) Klik di sini tentang "Mangalontik Ipon"

Tidak ada komentar: