Selasa, 20 Maret 2012

SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI) 

Siboru Deang Parujar mulai khawatir bahwa Naga Padoha tidak bisa dirantai. Ia tetap berusaha, kali ini ia memohon kembali kepada Ompu Mulajadi Na Bolon, dan melalui Leang-leang Mandi diserahkan  rantai baja yang baru dan terkuat dari segala rantai yang pernah ada dan sebuah pasungan disertai tiga macam senjata pusaka.  Senjata pusaka berupa: pertama, kerudung pelindung panas; kedua, tongkat dan ketiga pedang. 

Siboru Deang Parujar segera menemui Naga Padoha “Jika waktu itu kamu sendiri yang merantai, sekarang akulah,” kata Siboru Deang Parujar beralasan sambil menunjukkan pasungan dan rantai yang baru.  Naga Padoha nyengir dan menurut, "Perkara kecillah itu," ujarnya dalam hati. Tanpa membuang waktu Siboru Deang Parujar memasung dan merantai Naga Padoha.  Ujung rantai pengikat leher ditambatkan di tongkat Tungkotungko Sipitu Tanduk.

“Sekarang aku sudah terikat lagi,” kata Naga Padoha sambil terkekeh, “Aku menagih janjimu!” Ia yakin sekejap akan ditunjukkannya keperkasaannya kembali di hadapan pujaan hati.

“Sabar dulu, ya,” bujuk Siboru Deang Parujar, “Berpalinglah!”.  Naga Padoha berpaling, dan segera Siboru Deang Parujar menghujamkan pedang dari Ompu Mulajadi Na Bolon ke tubuh Naga Padoha.  Mata pedang menancap dalam ditubuh Naga Padoha hingga tinggal gagang pedangnya (suhul) yang menyembul. 

Naga Padoha berteriak kesakitan, “Amangoi…!!!, Inangoi….!!! Hansit nai, puang!!!!”  Ia mencoba meronta tetapi sekujur tubuhnya kaku dan lemah, sukar digerakkan.  “Oh, apa yang telah kau lakukan padaku, Deang Parujar,” rintihnya kepayahan. Nafasnya terengah-engah.

“Sudah menjadi bagianmu!” seru Siboru Deang Parujar.  Ia lalu meminta tujuh kepal tanah dari Banua Ginjang menimbun Naga Padoha.  Naga Padoha secara perlahan tapi pasti semakin terkubur dan tenggelam dalam himpitan tanah di Banua Toru.  Sebelum betul-betul terkubur habis, terdengar teriakan Naga Padoha terakhir kali, “Aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan menghancurkan daratanmu...!”

Naga Padoha sudah ditaklukkan tetapi tidak mati, ia terbenam, dan tempatnya inilah Banua Toru.  Sekali-kali ia dapat menggerakkan ekornya atau badannya kaku terhimpit dan terpasung.  Gerakan Naga Padoha inilah yang menyebabkan gempa bumi (lalo) di Banua Tonga.[*]  Suatu saat apabila Naga Padoha berjaya melepaskan diri, terjadilah bencana yang dahsyat di atas bumi.  Peristiwa itulah sebagai akhir jaman, kehancuran Banua Tonga.


[*] Jika terjadi gempa, Suku Batak Kuno akan meneriakkan, “Sahul… sahul, sahul…”.  Sahul artinya gagang pedang, untuk mengingatkan pedang yang ditusukkan Siboru Deang Parujar agar Naga Padoha  akan berhenti bergerak.

Bersambung

Tidak ada komentar: