Minggu, 11 Maret 2012

SIBORU DEANG PARUJAR MEMBENTUK DARATAN DI BANUA TONGA



MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (III)

Siboru Deang Parujar terkatung-katung, bergantung dengan bonang manalutiada daratan tempatnya berpijak di Banua TongaDalam keadaan kelelahan dan krisis ia memohon kepada Ompu Mulajadi Na Bolon agar diberikan segenggam tanah untuk tempat berpijak.  Permintaannya dikabulkan, dan ditaburkannya tanah dari Banua Ginjang ke Samudera Banua Tonga maka jadilah daratan. Setiap hari dikerjakannya dengan tekun. Daratan kian hari semakin lebar dan meluas.

Ompu Mulajadi Na Bolon melihat Siboru Deang Parujar yang kreatif  tetapi keras kepala, tidak mau kembali ke Banua Ginjang.”  Ompu Mulajadi Na Bolon lalu memerintahkan Si Naga Padoha, yang berwujud "ular naga," berkarakter arogan, pemarah dan kasar, untuk turun menggoncang Banua Tonga dan menguji Siboru Deang Parujar.  

“Pergilah, tetapi ingat jangan kau sentuh Siboru Deang Parujar.  Tugasmu mengguncang daratan yang dibuatnya supaya hancur agar dia ingat dan mau kembali ke Banua Ginjang,” titah Ompu Mulajadi Na Bolon kepada Naga Padoha.

Naga Padoha beraksi dari suatu tempat terlindung dan tersembunyi sehingga tidak dilihat oleh Siboru Deang Parujar.  Terjadilah gempa yang maha dahsyat.  Banua Tonga bergoncang, ombak besar samudra bergulung-gulung menutupi daratan. 
Siboru Deang Parujar terkejut dan heran, daratan yang dikerjakannya sebagian besar terbelah dan hancur, sebagian sudah tertutup samudera. Makin lama makin sedikit dan dia pun hampir tenggelam. Dari sisa daratan yang tertinggal tempatnya berpijak, dia memandang sekeliling.  Karena ia belum mengetahui penyebabnya, ia kembali memohon segenggam tanah kepada Ompu Mulajadi Na Bolon.


Permintaannya dikabulkan dan disampaikan Si Leang-leang Mandi. Untuk kedua kali, dibentuknya daratan, dan untuk kedua kali pula, Naga Padoha beraksi  dan menghancurkannya. 

Berikutnya Siboru Deang Parujar memohon kepada Ompu Mulajadi Na Bolon untuk mengetahui penyebabnya.  Atas kuasa Ompu Mulajadi Na Bolon diciptakanlah delapan matahari di tengah cakrawala menyinari Banua Tonga.  Udara menjadi panas, air samudera segera menguap dan mengering di beberapa  wilayah.  Terlihatlah sesosok makhluk penghancur menggeliat dari tempat persembunyiannya yang telah terbuka, Si Naga Padoha.  

Siboru Deang Parujar yakin bahwa Si Naga Padoha biang perkaranya.  
__________________________________
Bersambung dengan judul berikutnya: "Naga Padoha Merayu Siboru Deang Parujar"
 

Tidak ada komentar: