Jumat, 16 Maret 2012

SI NAGA PADOHA MERAYU SIBORU DEANG PARUJAR


MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (IV)



Tampaklah sekilas sosok Si Naga Padoha.  Siboru Deang Parujar berseru, “Hei siapakah engkau yang ada di situ.  Keluarlah dari tempatmu, aku sudah melihatmu. Lancang benar engkau menggoncang bumi dan menghancurkan daratanku!!!. Yang sudah hebat kali kau rupanya?”

Naga Padoha masih tampak santai tak bergerak membelakangi siboru Deang parujar. Dengan percaya diri berikut gaya yang usil dan acuh tak acuh menjawab, “Ini aku, Raja Padoha yang gagah tampan, he...he...he...” jawabnya terkekeh sambil berseru, “Memang akulah yang mengguncang lautan dan daratan.”  Naga Padoha sambil beringsut berbalik. Ia menengadah. 

"Bagak nai, tutu...!" serunya dalam hati begitu berbalik dasn menengadah memandang Siboru Deang Parujar yang berdiri di atas bukit. (bagak nai tutu = sungguh cantik nian).

“Eh, kau rupanya Boru ni Rajanami,” Naga Padoha menyeringai menampakkan gigi dan taring kebanggaannya. Misainya bergerak turun naik. “Mengapa pulalah kau masih di sini? Bukankah seharusnya di Banua Ginjang dan menikah dengan Si Raja Odapodap alias si Raja Enda-enda itu?” tanyanya.

Siboru Deang Parujar semakin kesal mendengar ucapan Naga Padoha plus melihat lagak gayanya yang menyebalkan, katanya, “Aku sudah tahu, ulahmu rupanya itu. Dasar kamu jahat. Aku tidak takut padamu!” dengan nada tinggi, sedikit menantang.


Naga Padoha hanya senyum-senyum saja, bahkan hatinya riang. Dalam pengelihatannya Siboru Deang Parujar semakin cantik apabila marah.  Semakin marah dan kesal Siboru Deang Parujar, semakin memerah wajahnya dan semakin Naga Padoha terpikat. 


“Cantik kali kau, Boru ni Raja, dengan rona merah di wajahmu...!” Naga Padoha memuji dan berikutnya ribuan kata rayuan disampaikannya.  Siboru Deang Parujar kesal dan pergi menghindar dari Naga Padoha untuk menenteramkan hatinya.

"Besok kembali lagi ke sini, Jangan lama-lama. Aku tak sanggup menahan rindu padamu!" Naga Padoha membiarkan Siboru Deang Parujar berlalu, karena ia yakin dengan kegagahan dan keperkasaannya didukung dengan rangkaian kata-kata rayuan, Siboru Deang Parujar luluh.

"Biasalah, kalau dia diam dan berlalu, itu artinya mau," pikir Naga Padoha. 

Tetapi bukanlah Siboru Deang Parujar jika ia tidak cerdik. Kata-kata Sinaga Padoha memberikan inspirasi padanya. Ia berlalu, dan akan kembali menemui Naga Padoha. Dengan pertolongan Leangleang Mandi ia mendapat sirih dari namborunya Siboru Narudang Ulubegu.  

Beikutnya Siboru Deang Parujar mendatangi Naga Padoha sambil mengunyah sirih. Bibirnya menjadi merah sementara mukanya bersemu dadu. Disemburnya air kunyahan sirih ke punggung Naga Padoha untuk mengalihkan perhatian.

Naga Padoha menoleh, sambil cengar cegir kegirangan, "Betulkan, apa kubilang. Dia datang juga. Dan kali ini ramah dan digodanya pula aku dengan sembur-semburnya itu. Inilah perempuan kalau sudah jatuh cinta," pikirnya dalam hati. 

Naga Padoha memandang genit Siboru Deang Parujar, “Wah kau datang lagi. Makin cantik kau kutengok.  Bibirmu merah begitu pula gigimu..... Eh, apa yang kau makan itu, bagilah aku, sedikit,” pintanya lalu mengamati kunyahan sirih yang terciprat.

“Oh, ini adalah makanan istimewa," kali ini Siboru Deang Parujar berubah sikap, ramah, "Bisa menenteramkan hati dan meredakan amarah. Ini hanya untuk para keluarga raja-raja. Pertanda sopan santun dan beradat” lanjut Siboru Deang Parujar. Dibuatnya Naga Padoha semakin penasaran.

“Aku pun maulah, berilah padaku, aku pun anak raja,” pinta Si Naga Padoha. “Aku berjanji akan santun dan beradat.  Aku pun tidak akan mengguncang daratanmu lagi,” jawabnya.


Dengan santun Siboru Deang Parujar memberikan sirihnya, Naga Padoha segera menerimanya dan mengunyahnya, “Wah enak sekali. Tabo nai tahe!” 

Kini Siboru Deang dan Naga Padoha beramah tamah sambil menikmati sirih.  Naga Padohapun  mengungkapkan niatnya, “Jadilah istriku! Aku siap menjaga dan melindungimu selalu, setiap waktu!” 


Siboru Deang Parujar terbatuk sambil merasa muak dengan ucapan Naga Padoha, tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya dan menjawab, “Laklak ni hau andorung, to dangka ni hau silasila. Ndang tagamon mambuat na nirihit ni halak.” Artinya tidaklah baik untuk merebut tunangan orang lain. 

Sekilas petir menyambar di langit. Siboru Deang Parujar kaget terlebih dengan apa yang secara spontan  diucapkannya,  seakan  pengakuan bahwa dirinya sudah setuju menjadi tunangan Si Raja Odap-odap.

Naga Padoha pun lupa akan pesan Ompu Mulajadi Nabolon, ia terus merayu Siboru Deang Parujar dengan tujuan harus dapat memperistri Siboru Deang Parujar. Pintanya “Kau kan sudah menolak pinangan Si Raja Odapodap. Marilah kita kawin dan tinggal di Banua Tonga ini.”   

_______________________
Bersambung, judul berikut : "Siboru Deang Parujar Merayu Naga Padoha."

Tidak ada komentar: