Kamis, 08 Maret 2012

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (I)

Tersebutlah kisah, sepasang burung Manuk Patiaraja atau Manuk Hulambujati (jantan) dan Manuk Mandoangmandoing (betina) di Banua Ginjang. Manuk Mandoangmandoing bertelur 3 (tiga) butir.  Atas kuasa Ompu Mulajadi Nabolon, telur itu menetas, dan lahirlah 3 (tiga) makhluk yang diberi nama masing-masing:
  1. Pertama, Ompu Tuan Batara Guru
  2. Kedua, Ompu Tuan Soripada (Ompu Tuan Bala Sori)
  3. Ketiga, Ompu Tuan Mangala Bulan (Ompu Tuan Bala Bulan)
Ketiganya laki-laki pertama di Banua Ginjang. 

Berikutnya, dari 3 (tiga) ruas tabung bambu yang dierami dan dijaga oleh Manuk Mandoangmandoing dan Manuk Patiaraja merekah dan dari dalamnya lahirlah tiga makhluk yang masing-masing diberi nama:
  1. Pertama, Siboru Parmeme
  2. Kedua, Siboru Parorot
  3. Ketiga, Siboru Panuturi
Merekalah tiga  perempuan pertama di Banua Ginjang

Itulah para Debata, yang kelak akan menjadi leluhur asal usul manusia pertama "Batak,"   Mereka  tumbuh besar penuh kebahagiaan, dengan kasih sayang dari para penghuni Banua Ginjang dan segala keperluan hidup yang serba berkecukupan.

Ompu Tuan Batara Guru menikah dengan Siboru Parmeme, dan dari perkawinan ini lahirlah dua anak laki laki dan dua anak perempuan kembar, yaitu:
  1. Tuan Sori Mahummat
  2. Datu Tantan Debata Guru Mulia
  3. Siboru Sorbajati dengan saudari kembarnya
  4. Siboru Deang Parujar (Siboru Dea, Siboru Deak Parujar)
Konon pada versi lain setelah itu lahir juga lima orang putri Ompu Tuan Batara Guru, yaitu:  Siboru Saniang Naga, Siboru Tapi Gaga, Siboru Malim, Siboru Sanduduk (?), dan yang paling bungsu Si Leang Nagurasta, sehingga  jumlah putri Ompu Tuan Batara Guru semuanya tujuh orang.


Dari perkawinan Ompu Tuan Soripada dengan Siboru Parorot, lahirlah dua anak laki-laki dan dua perempuan dinamakan:
1.    Tuan Sorimangaraja
2.    Si Raja Endaenda (Si Raja Indainda/Si Raja Indapati) atau disebut juga
  Tuan Dihurmajati atau Tuan Ruma Uhir Tuan Ruma Gorga.
3.    Siboru Nan Bauraja
4.    Siboru Surungan

Sedangkan dari perkawinan Ompu Tuan Mangalabulan dengan Siboru Panuturi, lahirlah satu orang anak lekaki dan seorang perempuan bernama:
  1. Tuan Dipampat Tinggi Sabulan,
  2. Siboru Narudang Ulu Begu (Siboru Rundung Bulan).

8 komentar:

david mengatakan...

oi pakcik... darimana pulak kau dapat hipotesa mu itu kalo orang batak ini keturunan burung..?? apa yang kau baca dan dari warung kopi mana kau dengar cerita itu..?? pintar kali pun kau kutengok...

kalok kau cerita sejarah manusia dari suku dayak... itu baru benar.. makanya orang dayak mensakralkan burung enggang...

arghh.. jangan bikin malu lah kau lae...

atau jangan-jangan kau ini ngga tau kali bahas batak ya..?? kau tau ngga artinya MULAJADI NA BOLON..?? jadi..., jangan kau bilang lagi orang batak ini dari telor yaa...

marah nanti orang-orang batak... jangan bikin malu lah laee...

kalo kau kurang literatur ttg etnis batak, mendingan kau googling aja lahh... tapi ambil referensi dari situs luar negri ya.. misalnya museum atau universitas dari belanda... lebih akurat lahh kutengok...

gitu aja lah dulu lae...
jangan kau marah ya kalo aku bicara seperti ini.. :D

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas komentarnya, tetapi perlu saya sampaikan sebagai berikut:
1. Sesuai judul, kisah tersebut merupakan MITOLOGI, sebagai tradisi lisan dalam menuturkan kembali sejarah atau kisah dalam bentuk "tersirat" .
Lihat tulisan di blog ini berjudul: "Makna Dibalik Mitologi Batak," khususnya butir 3,4 & 5.
2. Orang Batak tidak akan marah dengan kisah "MITOLOGI" yang telah disampaikan turun termurun tersebut. Van der Tuuk dan beberapa peneliti Barat lainnya banyak menggali dan mencatat ulang Mitologi sebagai warisan budaya Batak ke dalam bentuk buku. Demikian juga dari orang Batak sendiri seperti WM. Hutagalung, "PUSTAHA BATAK – Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak," TUMBAGA HOLING, karya Tampubolon, buku yang ditulis oleh Uskup Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFMCap berjudul "DENDANG BAKTI," dll.
Seperti kata umpasa Batak:"Hotang binebe-bebe, hotang pinolus-polus, Unang hamu mandele, ai godang do tudos-tudos." Arti harfiah: Rotan diputar-putar, rotan dipulas-pulas. Janganlah kamu merajuk, karena banyak pengandaian/ibarat/perbanding/makna tersiratnya."
3. Leluhur suku Batak sangat religius. Lihat tulisan di blog ini berjudul "AGAMA BATAK (UGAMO BATAK)." Bahwa semesta, dunia beserta isinya dan manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta (Ompu Mulajadi Na Bolon).
4. Referensi dari situs luar negeri yang sangat bagus menurut saya situs museum Belanda seperti TROPENMUSEUM dan VOLKENKUNDE. Di situs tersebut kita bisa lihat foto-foto tentang Batak dahulu disertai keterangan-keterangannya.

Terimakasih, Horas...

sinta tambunan mengatakan...

langkah indahnya kalo cerita ini berasal dari pustaha bukan dari orientalist yg datang setelah belanda ada di tanah Batak karena datanya pasti ditulis untuk kepentingan penjajah..horas...

sinta tambunan mengatakan...

saya suka cerita ini dan saya meyakininya tapi saya ingin bila cerita ini dari pustaha batak , yang lengkap, bisakah? horas

H Bakara mengatakan...

Tu: Ito Sinta Tambunan.
1. Mitologi Batak adalah tradisi lisan "turi-turian" turun temurun Suku Batak, meskipun beberapa ada tercatat di Pustaha. Dari hasil penelitian Uli Kozok (Jerman) dalam buku Warisan Leluhur (ref tentang buku ada di blog ini): dari hampir 461 pustaha (terdiri dari sekitar 2500-an teks/naskah) yang ditelitinya, hanya 17 berisi turi-turian (tidak sampai 1%). Itu pun tentang "Aji Donda Hatahutan, berkaitan kisah terjadinya Tongkat Tunggal Panaluan. Jika ada turi-turian lain pada pustaha adalah yang dibuat atas permintaan Van der Tuuk dan Ophuisen (Belanda).
2. Naskah "turi-turian" dalam buku modern(bukan Pustaha) oleh Suku Batak, yang paling awal karya Hutagalung, P.O. Tobing, Tampubolon, Sinaga (seperti penjelasan saya pada 30 Jan 2015 di atas), dan beberapa lainnya tulisan dari Sihombing (Jambar Hata).
3. Karya orientalist tentang Batak sangat berguna untuk menelusuri sejarah dan budaya Batak seperti "Suma Oriental - Tome Pires (Portugis)," Junghuhn (Jerman-Belanda), Marsden, Raffles (Inggris), Modigliani (Italia), atau karya-kara misionaris Burton and Wards, Warneck (jerman) dll, Vergouwen (Belanda). Karya tersebut sebagai rujukan beberapa ahli-ahli sejarah. Informasi yang disampaikan para peneliti dan sarjana tersebut bersumber dari penelitian dan wawancara dengan orang Batak pada masanya. Beberapa memang terlalu berlebihan (membual/tidak proporsional) seperti tentang "kanibalisme Batak" diartikan sebagai kebutuhan untuk konsumsi 'pangan' dan bahkan diceritakan "daging dan tulang manusia diperdagangkan secara bebas di pasar;" & cerita ttg Misionaris Munson dan Lyman (Amerika) dibunuh untuk dikonsumsi orang Batak.

Horas.

Abdul Rasyid Mustafa mengatakan...

di beberapa postingan di internet mengatakan bahwa Manuk Patiraja adalah Debata Asi-asi yg merupakan istri dari Mulajadi Nabolon. Debata Asi-asi sendiri memiliki 3 wujud yaitu Manuk Patiraja, Manuk Hulambujati, dan Manuk Mandoang-doang.
(Selain Debata Asi-asi, ada penghuni awal dari Banua Ginjang yaitu Leangleang Mandi, Untung-untung Nabolon, Borong-borong Badar, Lampu-lampu Nabolon)
Hal ini berbeda dari yg dipaparkan di blog saudara yg mengatakan bahwa Manuk Patiraja dan Manuk Mandoang-doang seakan-akan adalah dua pribadi yg berbeda, bahkan merupakan satu pasang (burung) jantan dan betina.

Saya menjadi bingung dengan legenda Batak ini karena banyaknya versi yg beredar hhe,
bisakah saudara membantu saya untuk menemukan literatur-literatur yg ada ? dan di mana saya bisa mendapatkan literatur2 tersebut.
makasih :)

Wirawan Bertuah mengatakan...

pusiing...

Anonim mengatakan...

Saya suka tulisan ini. Kadang memang sulit mencari kebenaran sejati, namanya juga mitologi, versinya bisa sangat beragam. Melihat cukup banyak literatur yang dipakai, tentunya lae tidak akan sembarangan menulis, justru menunjukan bahwa lae ini cukup terpelajar dan memiliki niat baik untuk membagikan suatu informasi. Semua literatur pastinya punya kemungkinan untuk dipolitisir, tapi yang mana yang lebih atau paling akurat? Sejarah bangsa Indonesia pernah dipolitisir loh, bahkan oleh pemerintahannya sendiri (saat itu, hehehe). Dan yang saya tahu sih, Belanda itu memang benar2 mempelajari, menulis dan menyimpan banyak dokumen atau literatur tentang Indonesia, ga heran kan kalo mereka bisa menjajah kita pada saat itu 3,5 tahun...eh salah ya...350 tahun deng, hehehe.