Rabu, 28 Maret 2012

LAHIRNYA MANUSIA BATAK PERTAMA DI BANUA TONGA DENGAN ASUHAN DEWATA BANUA GINJANG

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VIII) 



Siboru Deang Parujar tidak mengetahui bahwa Si Raja Odap-Odap (Si Raja Enda-Enda) telah menjejakkan kaki ke Banua Tonga.  

Suatu hari Siboru Deang berjalan menikmati dunianya yang baru. Ia terkesima melihat ada jejak kaki manusia di atas tanah.  Ia yakin itu bukan jejaknya karena ia belum pernah melangkah ke tempat itu.  Ia berfikir, merenung dan penasaran, siapa gerangan manusia seperti dirinya yang ada di Banua Tonga ini.  Rasa sepi selama ini membuatnya penasaran dan ingin bertemu siapakah manusia itu.

Di hari yang baik, tanpa disengaja bertemulah Siboru Deang dengan Si Raja Odap-odap. Siboru Deang merasa malu karena ternyata Si Raja Odap-odap telah bersalin rupa. Ia  berpamitan ingin kembali ke Banua Ginjang dengan alasan rindu bertemu dengan ayahnya Batara Guru. Oleh Batara Guru, permintaannya ditolak.  Apa boleh buat, pikir Siboru Deang. Sudah menjadi takdir, bagian dari riwayat hidupnya. 

Sementara Raja Odapodap pun tidak pernah menyerah untuk mengambil hati Siboru Deang.  
Ia menghibur dan meyakinkannya sehingga tumbuhlah cinta Siboru Deang.  Mereka menikah dan mulailah kehidupan manusia di bumi, Banua Tonga, di Dolok Pusuk Buhit.  

Dari perkawinan tersebut lahirlah manusia pertama Batak dua anak kembar laki-laki dan perempuan yang dinamakan Si Raja Ihat Manisia dan  Siboru Itam Manisia.  Penghuni Banua Ginjang bersuka cita, dan memberkati  Siboru Deang parujar dengan Raja Odapodap beserta kedua anaknya yang baru lahir.

Karena kasih Ompu Mulajadi Na Bolon kepada manusia, diutuslah Raja Asiasi untuk menjaga dan mengasuh kedua anak manusia tersebut.  Mereka diajari dengan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk doa-doa sebagai sarana hubungan dengan Ompu Mula Jadi Nabolon dan para Dewata di Banua Ginjang.

1 komentar:

togi hutapea mengatakan...

Horas ma jala gabe dihita saluhutna. Tuhan ma mandongani ganup pardalanan ni ngolutta.