Kamis, 01 Maret 2012

DATU, SIBASO, GURU DAN TUAN


Datu (dukun) adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di luar daya normal manusia awam (kemampuan supranatural/paranormal). Dalam struktur masyarakat Batak tradisional, Datu mendapat posisi terhormat karena kompetensinya di bidang membaca dan menulis aksara Batak, dan kemampuan lain seperti pengobatan, ilmu nujum, parhalaan (penanggalan) untuk membaca hari baik dan buruk.  Selain itu seorang Datu memegang fungsi dan peran penting  “sesuai jurusan kualifikasi keilmuaannya” dalam kelompok masyarakat territorial huta, dan berasal dari garis keturunan marga yang menempati huta.  Setiap marga dalam satu huta minimal mempunyai seorang Datu

Seorang Datu tidak serba menguasai semua bidang-bidang hadatuon (perdukunan), tetapi biasanya terdapat satu keahlian khusus yang menonjol di bidangnya. Misalnya Datu Partaoar, dengan ramuan-ramuannya lebih ahli di bidang obat penyembuh dan penawar racun, Datu Pangatiha Pandang Torus mempunyai kemampuan sebagai peramal, dan Datu Panuju keahliannya untuk mengatur cuaca, seperti mendatangkan hujan atau menangkal hujan.

Fungsi dan peran Datu di dalam masyarakat Batak kuno, sebagai:
  1. Pemimpin ritual dan religi Batak.
  2. Tabib dengan ramuan tradisional yaitu: 
          - Tambar = obat tradisional dari racikan dedaunan, akar-akar 
                              atau batang tanaman (ramuan herbal);
          - Taoar = berupa ramuan dari racikan berbagai tambar dan bahan-bahan lain 
                           yang berkhasiat untuk obat penawar racun, guna-guna atau 
                           obat penyembuh penyakit.
  1. Ahli Nujum, menggunakan parhalaan (kalender Batak), memperkirakan hari baik yang tepat (maniti ari) untuk melakukan sesuatu ulaon seperti pesta; memasuki rumah baru dan sebagainya. Ia juga dapat melakukan prakiraan (ramalan) berdasarkan gejala-gejala alam dan menggunakan media tertentu.
  2. Penasihat dalam permasalahan hubungan antara anggota masyarakat dalam huta atau antar huta,  membentengi secara magis suatu huta atau dalam perang mempunyai aji-ajian sitorban dolok (ilmu meruntuhkan gunung).
Datu umumnya pria, datu perempuan disebut Sibaso.  Sibaso dalam komunitas huta lebih berperan sebagai “dukun persalinan” yang ahli dibidang kebidanan, penyakit wanita dan ramuan-ramuan obat tradisional (tambar). Sibaso perannya tidak sebesar Datu. Pada upacara ritual tertentu Sibaso berfungsi mendampingi Datu (pria) sebagai medium dalam “kesurupan roh.”

Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian di atas Datu disebut GuruGuru adalah gelar kehormatan yang diberikan masyarakatnya karena keunggulannya dan reputasinya yang diakui para datu lainnya. Bahkan datu dari huta lain meminta petunjuk atau berguru kepadanya, sehingga ia merupakan suhu atau mahaguru datu alias “datunya Datu.

Raja di huta tanah Batak umumnya memiliki sahala hadatuon, atau kemampuan seperti datu.*).  Seorang Raja yang memegang posisi sebagai pemimpin tertinggi di kelompoknya tetapi juga disegani, dihormati dan diakui sebagai sesepuh oleh pemimpin kelompok lain diluar marga atau hutanya, disebut Tuan (yang terhormat). Tuan tingkatannya lebih tinggi di atas Guru.

Sisingamangaraja termasuk yang bergelar Tuan, atau lengkapnya Ompu Tuan Sisingamangaraja. Bandingakan juga dengan Guru Tatea Bulan (putra pertama Si Raja Batak) dan Tuan Sori Mangaraja (cucu Si Raja Batak).**)
___________________________

*)  Klik Sahala
**) Gelar Guru, Tuan dan Datu banyak terdapat pada nama-nama Leluhur Batak, diantaranya lihat pada tulisan  Silsilah Siraja Batak dan bandingkan juga dengan Ompu/Ompung sebagai panggilan hormat/yang dihormati (Klik Ompu atau Ompung).  Datu dalam konsep tradisional, dalam masyarakat modern sekarang manifestasinya bisa seorang Dokter, Pemimpin/Pejabat, Tokoh Agama, Ahli Astronomi, Guru, dan Para Pakar lainnya.  Datu dalam konotasi "negatif" terutama pada masa "jahiliyah" di Batak (Klik:  Masa Kegelapan (Tingki ni Lumlam))

Tidak ada komentar: