Senin, 20 Februari 2012

TONDI

Menurut kepercayaan suku Batak tradisional, tondi sebagai inti pokok kehidupan dan jati diri manusia.  Setiap manusia hidup mempunyai tondi. Tondi adalah roh yang mengikat nafas kehidupan  manusia, memberikan daya jiwa dan kepribadian, menentukan nasib manusia dan   memberi arah serta petunjuk bagi kehidupan seseorang.  Atau dengan kata lain tondi wujudnya roh yang menempati tubuh seseorang sebagai satu kesatuan, membentuk pribadi seseorang, memberikan daya hidup yang menghubungkan nyawa dengan jiwa, badan dan pikiran serta nurani yang membisiki hati manusia untuk berbuat.
 
Tondi bisa memihak tetapi bisa juga melawan terhadap manusia.  Sakit, kemalangan dan sial bisa terjadi akibat pertentangan antara tondi dengan badan. Untuk itu tondi perlu dijaga dan dipelihara agar senantiasa dalam keadaan baik.

Tondi sesekali dapat meninggalkan tubuh manusia hidup disaat mimpi bahkan ketika sadar sekalipun.  Kepergian tondi bisa karena terkejut, akibat musibah, kecelakaan yang menimpa pada seseorang.  Kepergian tondi dari tubuh untuk sementara mengakibatkan sakit, atau seseorang tertimpa bahaya.  Jika terlalu lama pergi meninggalkan tubuh, daya hidup tondi akan hilang sehingga orang tersebut akhirnya meninggal dunia.

Tondi dapat juga terperangkap atau disandera oleh roh halus di tempat-tempat angker dan keramat, karena salah melangkah, atau melanggar tabu ketika berada di tempat itu. Usaha agar tondi seseorang kembali harus dengan melaksanakan upacara spiritual yang disebut mangalap tondi (menjemput tondi) atau manghirap tondi (menarik tondi yang pergi) di bawah bimbingan seorang Datu (dukun).  Cara lain adalah mangupa tondi (memberdayakan tondi yang lemah) dengan menaburkan boras pir ni tondi (beras untuk menguatkan tondi) ke atas kepala untuk memulihkan tondi yang terkejut, misalnya oleh orang tua kepada anaknya yang baru mengalami musibah.  Berbagai istilah lain seperti: pahothon tondi (mempererat/mengokohkan tondi), atau papirhon tondi (memperkuat tondi).

Tondi juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, pada binatang dan tumbuhan. Tondi pada binatang memberinya nafas kehidupan dan kemampuan bertindak sesuai dengan instinknya, sehingga binatang tersebut dapat mencari makan, beranak-pinak, memelihara anaknya, membuat sarang, mengetahui bahaya dan mempertahankan diri untuk kehidupannya.   Nyawa dan naluri atau instink hewani tersebut adalah tondi binatang.

Pada tanaman, tondi menimbulkan pertumbuhan, kesuburan, berbuah.  Untuk tanaman budidaya seperti padi, selain faktor tanah dan alam, sikap si pemilik tanaman mulai dari menanam hingga perawatan mempengaruhi kesuburannya.  Seperti halnya bintang peliharaan, sikap yang baik pada tanaman akan memberikan semangat pada tondinya untuk tumbuh subur.  Sehingga ada pesan jika menanam padi harus dengan hati yang bersih dan ceria, tidak boleh dengan bersungut-sungut atau suasana hati yang amarah agar hasilnya baik.

Dalam bahasa Batak sehari hari orang tua menyebut anaknya "tondinghu," artinya "belahan jiwaku."  

2 komentar:

Sumber Informasi Internet mengatakan...

Menurut yang saya pahami, hanya manusia yang memiliki roh [tondi], binatang tidak memiliki roh

Sumber Informasi Internet mengatakan...

Menurut yang saya pahami, binatang tidak memiliki roh [tondi], hanya manusia yang memiliki roh [tondi]