Jumat, 17 Februari 2012

TOMBAK SITUAN HABONARAN (HARANGAN / TOMBAK SULUSULU II)

Tombak Situan Habonaran atau Harangan Sulusulu (Foto, 2006)

Tombak atau Harangan Sulusulu (Hutan Pemberi Suluh Penerang), sebelumnya disebut Tombak Situan Habonaran atau Hutan Tempat Keramat “Kuasa” Kebenaran. Di Tombak Sulusulu ini Ibunda Sisingamangaraja I memanjatkan permohonan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon untuk mendapatkan seorang Putra, dan dikabulkan. Di tempat ini juga kemudian lahir putranya yang menjadi Raja di Tanah Batak, “Raja Sisingamangaraja.”

Hutan kecil di atas bukit berbatuan cadas di Negeri Bakara ini ditumbuhi berbagai macam tanaman jenis tanaman belukar dan pepohonan,  salah satunya Pohon Hau Sangkam Madeha.  Dahulu ada telaga  Aek Manuruk  tetapi kini sudah mengering. 

Di tengah hutan ini terdapat sebuah gua  batu yang terbentuk dari celah bebatuan besar.  Gua ini tempat persemedian dan martonggo (memohon doa) Raja Sisingamangaraja.  Dalam salah satu tonggo Raja Sisingamangaraja , Tombak Sulusulu dinyatakan:

Adian ni Batara Guru, Parmanuk-manuk Patia Raja
Parsombaon harangan sulu-sulu, paraek na manuruk,
Sulu-sulu ni Debata, sulu-sulu ni sombaon
Si sulu ni hata na pintor, si sulu ni hata na geduk.”

Peristirahatan Dewa Batara Guru, Tempat Burung Patia Raja
Pemilik hutan keramat Sulu-sulu, tempat air menyuruk
Suluh Dewata, suluh keramat
Penyuluh kata yang benar dan menunjukkan kata yang salah

Boleh jadi juga Tombak Sulusulu adalah tempat yang dimaksud oleh William Marsden, dalam History of Sumatra (1811), tentang lokasi turunnya manusia pertama ke bumi, yakni putri dari Batara Guru, bernama Puti Orla Bulan, di wilayah Bakara:  

“…Batara­guru, had a daughter named Puti-orla-bulan, who requested permission to descend to these lower regions, and accordingly came down on a white owl, accompanied by a dog; but not being able, by reason of the waters, to continue there, her father let fall from heaven a lofty mountain, named Bakarra, now situated in the Batta country, as a dwelling for his child; and from this mountain all other land gradually proceeded.”

Batara Guru mempunyai seorang putri bernama Puti Orla Bulan, putrinya memohon agar diizinkan turun ke tempat yang lebih rendah (Banua Tonga) ditemani oleh seekor anjing melalui gulungan benang putih.  Karena di bawah hanya berupa lautan luas maka ayahnya menurunkan gunung dari kayangan (Banua Ginjang) ke tempat bernama Bakarra (Bakara), di wilayah Batta (Batak), sebagai tempat tinggal anaknya; dan dari gunung itu tercipta proses daratan secara bertahap.

______________________________________________________________
Lihat juga tulisan sebelumnya di Blog ini: Tombak Sulu-sulu

Tidak ada komentar: