Minggu, 19 Februari 2012

PARIBAN


Patung/Ukiran Batak (Foto, 2012)


Pariban adalah saudara sepupu. Seorang anak laki-laki memanggil  “pariban” kepada anak perempuan dari Tulang (Tulang = paman, saudara laki-laki ibu), sebaliknya seorang perempuan menyebut “pariban” kepada anak laki-laki dari Namboru-nya (Namboru = saudara perempuan ayah baik kakak maupun adik perempuan ayah).

Untuk saudara sepupu yang bukan pariban dipanggil "Ito" atau "Iboto", yaitu:
  • Saudara sepupu seorang laki-laki, yakni anak perempuan dari saudara laki-laki Ayah (Amangtua/Bapak Tua/Pak De atau Amang Uda/Uda/Bapa Uda/Pak Lik), atau saudara sepupu seorang perempuan, yakni  anak laki-laki dari Amangtua atau Amanguda.  Hubungan sepupu seperti ini masih sedarah atau semarga;
  • Saudara sepupu perempuan seorang laki-laki dari keturunan saudara perempuan Ibu atau saudara sepupu laki-laki seorang perempuan dari keturunan saudara perempuan Ibu.
Jadi, pariban merupakan sepupu yang dapat dinikahi (na boi dioli).  Menikah (mangoli) dengan pariban selaku putri dari pamannya (boru ni Tulang/boru Tulang) merupakan perkawinan ideal menurut adat Batak.  Isitilahnya beristrikan putri paman (marboru ni tulang/mangalap boru ni tulang). Jika seorang kemenakan (bere) akan menikah tidak dengan paribannya, ia menghadap dan menyampaikan permohonan “maaf” kepada Tulang secara santun dan arif untuk mendapatkan pengertian dan selanjutnya meminta doa restu dari Tulang-nya.

Dalam kebiasaan suku Batak, umumnya seorang Tulang sangat sayang dan perhatian kepada bere-nya, bahkan bisa melebihi kepada anak kandungnya sendiri. Tulang bebas memerintah/menyuruh berenya mengerjakan sesuatu, sebaliknya Tulang akan sulit menolak permintaan berenya.  Bere bahkan lebih bermanja-manja kepada Tulangnya dibanding kepada orangtuanya, oleh karena itu bere akan berusaha untuk mengambil hati Tulang. Mengapa? Akan dibahas kemudian.

Pada pergelaran pesta adat, golongan “Pariban” merupakan kelompok putri (beserta suaminya dan putra) dari  pihak Hula-hula.



4 komentar:

Parasman Sitorus mengatakan...

Mengenai pariban, sudah sesuai adat benar "marboru ni tulang" (paman). Namun di zaman sekarang ini orang tua Batak, pada umumnya tidak memaksakan harus marboru ni tulang. Yang penting putra-putrinya berbahagia dalam rumah tangganya, sehingga boleh memilih pasangan hidup dari suku manapun.

Lisna Sihombing mengatakan...

Saya suka dengan pariban saya, tapi bagaimana cara mendekati dan memberi kode kepada dia? -_-

H Bakara mengatakan...

Suka dengan pariban bagus. Mulai dengan menjalin komunikasi yang baik. Apalagi sekarang bisa dilakukan dengan media komunikasi hp, bb atau media lain. Nanti akan terbuka jalan untuk lebih dekat dan kesempatan untuk saling mengenal dan menilai adanya ketertarikan atau kecocokan. Selamat menjalaninya, semoga sukses.

Aubrey Toruan mengatakan...

Guys, saya adalah seorang PeJaBat dan ibu saya memiliki banyak sekali sepupu (bukan saudara/beda orang tua) dari suku beliau...saya sering (maaf) tergiur melihat wanita2 muda anak dari 'oom2' saya tersebut (maklum perempuan2 Jawa cantik,ayu,lembut,sopan dan langsing2), yang notabene juga sepupu saya..apakah gadis2 itu juga pariban saya meskipun berbeda suku? Ada dua dari mereka yang merasa nyaman bersama saya dan orang tua mereka mengizinkan saya 'mengambil' mereka bila adat Batak memang mengizinkan..Maaf saya tidak paham adat Batak dan saya malu akan hal itu...Mauliate..(Oh, saya harap boleh...)