Sabtu, 25 Februari 2012

HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)


Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit.  Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1]  Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.  

Dari penelusuran sejarah dan beberapa sumber informasi, di mana letak dan tahun berdirinya kerajaan Batak pertama ini masih menjadi polemik.  Apakah di sepanjang Pantai Timur atau Pantai Barat Sumatera bagian Utara, atau di wilayah perbatasan Aceh (sekarang), atau di suatu tempat di daratan Asia, seputar tahun kejayaan kerajaan nusantara, Sriwijaya.   Kerajaan Batak ini tidak bertahan akibat suatu konflik dan politik pada masanya. Keturunannya dan para pengikutnya memilih hijrah ke daerah baru,  Pusuk Buhit.  Wilayah ini sangat strategis, berada di pegunungan yang dari puncaknya dapat mengawasi keadaan sekitar, tempatnya subur dan banyak sumber air. 

Pemulihan kerajaan memerlukan waktu, Si Raja Batak telah uzur, harus menyerahkan amanah kepada generasi berikut.  Amanah kerajaan diberikan kepada Raja Isumbaon (Raja yang disembah), bukan kepada putra pertama Guru Tatea Bulan.  Hal ini tampak pada pembagian warisan, yaitu pusaka Pustaha Tumbaga Holing (Kitab Tumbaga Holing) yang berisi berisi tentang: patik dohot uhum habatahonharajaon, partiga-tigaan (titah dan hukum Batak, aturan kerajaan dan tata perniagaan) [2] kepada Raja Isumbaon  sementara Guru Tatea Bulan mewarisi  Pustaha Laklak, yang berisi tentang pernujuman, ilmu perdukunan dan bela diri (parhalaan, hadatuon, parmonsakan).  

Guru Tatea Bulan sebenarnya berharap dapat memegang amanah kerajaan, tetapi persoalan internal putra-putrinya sangat pelik.  Putra pertamanya, Raja Gumeleng-geleng lahir, tidak sempurna wujud fisiknya, dan terkucil dari saudara-saudanya.  Atas permintaannya ia diantar oleh ibunya ke suatu tempat di lereng Pusuk Buhit.  Harapan kemudian jatuh kepada putra kedua yang diberi nama Sariburaja. Nama "Sariburaja" boleh jadi berasal dari Sriwijaya, dalam bahasa Sanskrit yaitu “Shri Vijaya atau Shri Bhoja yaitu Srivijaya.”  Artinya: Shri = bersinar atau berkilau, Vijaya = kemenangan atau keunggulan. Namun Saribujaya akhirnya terusir dari keluarga karena perbuatan incest dengan saudarinya  Siboru Pareme [3].

Raja Isumbaon melanjutkan proses restrukturisasi kerajaan, dan dilanjutkan oleh putranya  yang bernama Tuan Sori Mangaraja. Nama Sori Mangaraja ini seperti nama leluhurnya, berasal atau identik dengan Sri Maharaja (Sri Maharaj). Sampai di sini rangkaian tugas membangun dinasti kerajaaan Batak "terputus."   Justru dari generasi Guru Tatea Bulan, Raja Uti  "mendapatkan wahyu dan kesempurnaan.”  Ia memilih pergi ke wilayah ujung Aceh --atau Manduamas, Barus atau pulau di seberang Barus--. dan membangun kerajaan. Kerajaan ini berjaya dipimpin oleh Raja Uti Mutia Raja I sampai dengan VII. 

Dinasti Kerajaan Batak di bawah Raja Uti, beralih kepada Sisingamangaraja.  Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal, --sumber lain menyebut Raja Mangkuta--) membangun Kerajaan Batak (Harajaon Batak) berkedudukan di Bakara, berlanjut hingga Sisingamangaraja XII, dengan sendi-sendi tata aturan "negara" Kerajaan.
  
_____________________
Klik di sini untuk tautan referensi di Blog ini:

Tidak ada komentar: