Senin, 27 Februari 2012

BATU TELAPAK KAKI GAJA PUTI (GAJAH PUTIH)

Batu Telapak Kaki Gaja Puti di Samping Pancuran Mata Air
di Huta Ginjang, Bakara (Foto, 2006)

Batu Telapak Kaki Gaja Puti terdapat di Bakara, sebagai bekas pijakan telapak kaki Gajah Putih (Gaja Puti) milik Raja Sisingamangaraja. Situs sejarah yang hampir terlupakan ini terletak di lereng gunung, Huta Ginjang, Bakara, di atas area istana Sisingamangaraja, Lumban Raja.   Di sebelah atas batu tersebut terdapat mata air jernih yang memancar dari celah bebatuan. Hingga kini penduduk setempat masih menggunakannya sebagai sumber air minum dan keperluan sehari-hari.  

Dahulu, lokasi ini merupakan tempat "ritual" dan peminuman Gaja Puti.  Bekas jejak telapak kaki Gaja Puti ini bukan karya ukir, tetapi terbentuk secara alami akibat pijakan telapak kaki Gaja Puti yang "keramat".  Begitu juga mata air yang mengalir tak henti sejak ratusan tahun lalu muncul setelah Raja Sisingamangaraja I memohon melalui tonggo kepada Ompu Mulajadi Nabolon kemudian menancapkan pusaka Hujur Siringis/Hujur Sitonggo Mual (tombak pusaka untuk memohon terbukanya mata air) di bebatuan tersebut. 
  

Dalam sejarah tercatat bahwa Gajah Putih sebagai hadiah kepada Raja-raja, begitu juga di Batak. Raja Uti Mutia Raja memberikan Gajah Putih sebagai hadiah kehormatan kepada Sisingamangaraja I, dan dibawa ke Bakara.*)  


Gajah Putih merupakan hewan “istimewa” dan dianggap “keramat,” sehingga menjadi symbol, legenda dan mitologi.  Menurut kepercayaan Hindu, Gajah Putih adalah raja segala gajah, dan Gajah Putih bernama Airawata adalah tunggangan milik Dewa Indra.   Sedangkan  bagi kaum Budha hewan ini sebagai simbol pengetahuan dan kebaikan, sehubungan dengan mimpi ”Gajah Putih”  Ibunda Ratu Maya sebelum melahirkan Sang Buddha.

Thailand disebut negeri Gajah Putih, dimana Gajah Putih perlambang kemakmuran dan kebahagiaaan.  Bagi Myanmar (Bangsa Burma), Gajah Putih sebagai symbol kekuasaan dan nasib baik. Di Indonesia, dataran Tinggi Gayo, Aceh, disebut Bumi Gajah Putih (Bumi Gajah Puteh),  memiliki hikayat dan legenda sendiri tentang Gajah Putih.  

Di tanah Batak, ukiran dan simbol Gajah Putih terdapat pada benda pusaka dan atribut kerajaan Sisingamangaraja yaitu pada “Piso Gaja Dompak (Piso Solam Debata)” bergagang ukiran Gajah Putih dan “Mandera Harajaon,” bersimbolkan saing (gading) Gajah Putih.  Apakah ini merupakan unsur pengaruh dari kepercayaan Hindu-Buddha terhadap Batak, atau ada hubungan Batak  dengan Kerajaan Aceh, atau Kerajaan Thailand dan Burma di masa itu?

___________________
*) Baca juga perjalanan Gaja Puti ke Bakara di: Aek Sipangolu (Air Kehidupan)


Tidak ada komentar: