Sabtu, 30 April 2011

SIBAGANDING TUA

Ruma Batak di Ambarita, Samosir (Foto, 2010)

Sibaganding Tua merupakan istilah Batak kuno untuk menyebut rumah (ruma, jabu, bagas).  Asal muasalnya dari jenis ular belang bernama sibaganding (ganding=belang).  Terkait dengan kepercayaan dahulu bahwa apabila rumah dimasuki oleh ular ini pertanda berkah akan berlimpah ruah kepada si penghuni rumah  (tua=berbahagia, bertuah, barokah, beruntung). 

Jika dewasa ini (meskipun sudah jarang) dalam adat atau "mandok hata" menyebutkan rumah sebagai "Sibaganding Tua," bukan berarti menunjuk pada kepercayaan akan mitologi Batak Kuno, melainkan secara tersirat merupakan "pujian" dan pandangan si pembicara bahwa keluarga yang tinggal di rumah tersebut kehidupannya makmur dan berbahagia.

TARHIRIM DO AHU ITO

Berikut syair dan terjemahan lagu ungkapan kecewa (tarhirim) akibat kekasih memutus janji, yaitu:


TARHIRIM DO AHU ITO

Tarhirim do ahu Ito, disasude janjimi
Alai digotap ho, tusi lomo ni roham

Hape tung lupa do ho, dipadanta na togu
Gabe marsirang do hape, ahu sian ho Ito

Reff.
Sai gabe ma ho ito, tumuntun lomomi
Unang huingot ingot ho, tu ari na naeng ro

Amang hansit nai, Inang dangol nai
Ingkon marsirang do hape, ahu sian ho ito


AKU KECEWA KASIH

Aku kecewa kasih, akan semua janjimu
Karena kamu ingkari, sekehendak hatimu

Rupanya kamu lupa, diikrar kita yang teguh
Ternyata harus berpisah, kamu dan aku kasih

Reff: 
Moga tercapai segala keinginan hatimu kasih
Kuharap ku tak akan terkenang sampai kapan pun

Ayah, betapa sakitnya, Ibu betapa pilunya
Ternyata harus berpisah antara aku dan kamu kasih

________________________________________

Makna “tarhirim” sebenarnya lebih luas dari “kecewa,”  yakni berharap dan yakin akan sesuatu tetapi di luar dugaan tidak terwujud nyata; atau terbuai akan sesuatu, tetapi tidak kesampaian sehingga menimbulkan kekecewaan mendalam.  Bisa juga berarti menginginkan sesuatu yang belum terwujud, mengidam-idamkan sesuatu.
Padan = janji, ikrar; hape = ternyata, tetapi, rupanya; gotap = putus, penggal, ingkari; lomo = suka; senang, berkenan; hansit = sakit; dangol = pilu, sengsara, merana.

NA HINALI BANGKUDU

Lagu ini diciptakan oleh Nahum Situmorang, untuk menggambarkan dirinya yang merana karena “kasih tak sampai” ditampik oleh wanita pujaan hati (kebetulan paribannya). Merasa diri tak berarti, tersingkir dari kehidupan, bagai tikar usang yang lusuh. Hatinya membeku tak bergeming untuk wanita yang lain. Segalanya terasa tersia-sia. Akibat "patah hati (mate rongkap)" sampai akhir hayatnya pencipta lagu ini tidak pernah menikah.


NA HINALI BANGKUDU

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Boha ma ho Doli songon boniaga so dapot
Ue, Amang Doli o Among e

Boniaga so dapot langku dope ma saonan
Boha ma ho Doli tarlompoho parsombaonan
Ue Amang Doli  o Among e

Atik parsombaonan dapot dope da pinele
Boha ma ho Doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o Among e

Reff.
Mate ma ho Amang Doli
Mate diparalang-alangan da Amang
Mate diparaula-ula

Terjemahan syair lagu ini  kira-kira begini:

Terikat tali dari ijuk enau berwarna merah mengkudu 
Betapa dirimu pemuda, bagai dagangan yang tidak laku terjual
Wahai anak muda, oh pemuda

Dagangan yang tidak laku pun masih bisa terjual pada hari pasar berikut
Tetapi kau, anak muda seperti tempat keramat yang harus dihindari
Wahai anak muda, oh pemuda

Sedangkan tempat keramat masih dapat dipuja
Tetapi engkau anak muda, seperti tikar usang, lusuh
Wahai anak muda, oh pemuda

Malangnya dirimu Pemuda
Mati sia-sia tak berguna, o anak muda
Hidup bagai orang yang mati…

_________________

Catatan:  Asal kata: na hinali: yang terikat; bangkudu: mengkudu dan bona ni bagot: pohon enau.  Akar mengkudu pada Batak kuno biasa digunakan sebagai bahan pewarna merah benang tenunan Ulos, dan dari batang enau diperoleh ijuk yang dipilin menjadi tali. Kemungkinan dimaksud na hinali bangkudu sian bona ni bagot,” adalah bagaikan  terikat tali ijuk enau yang berwarna merah (dari mengkudu).


Download lagu:
http://downloads.ziddu.com/downloadfile/13978474/NahinaliBangkudu.mp3.html

Kamis, 28 April 2011

ADAT BATAK DAN KRISTEN (II)

Adat Batak kuno mengalami perubahan dan adaptasi sejak agama Kristen masuk ke Tanah Batak sekitar 1860-an.  Beberapa di antaranya:

1. Martutu Aek (Pembabtisan)
Martutu Aek adalah ritual kepada seorang anak yang baru lahir, dan dibawa ke homban (telaga dari mata air di ladang) untuk dimandikan. Datu  (dukun) menciduk air dan memandikan bayi di tempat ini, selanjutnya prosesi pemberian nama.
Adat Martutu Aek ini kemudian menjadi Baptisan Kristen (Tardidi atau Pandidion) yang dilaksanakan di Gereja oleh Pendeta dengan memercikkan air kepada si bayi atau anak.

2. Mangalontik Ipon (Meratakan Gigi)
Ritual mangalontik ipon sebagai tanda seorang anak telah memasuki kedewasaan dan meninggalkan masa kanak-kanaknya. 
Tradisi ritual ini dirubah menjadi Angkat Sidi (Malua) yang dilaksanakan di Gereja kepada anak Kristen yang telah memasuki usia dewasa dan kematangan secara imani Kristen.

3. Margondang (Bergendang)
Jika margondang (permainan musik tradisional Batak) dilaksanakan sebagai pemujaan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon pada acara ritual Batak kuno, maka pada Kristen, piano atau organ sebagai music untuk mengiringi lagu pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari tata acara ibadah agama.

Rabu, 27 April 2011

JAMBAR HATA

Jambar Hata

Judul Buku    : Jambar Hata: Dongan tu Ulaon Adat
Penulis          : T.M. Sihombing (Ompu ni Marhulalan)
Penerbit        : Tulus Jaya, , 1989
Halaman       : 343
Bahasa         : Batak Toba

Jambar Hata: Dongan tu Ulaon Adat (terjemahan bebasnya: Tata Berbicara: Panduan untuk Acara Adat), sebagai buku panduan yang bagus untuk tata aturan dalam adat dan pembicaraan adat Batak Toba, disertai pepatah dan perumpamaan yang lazim disampaikan dalam kegiatan atau acara adat.
Pada bagian akhir, Bindu 35 (Bab 35) terdapat tambahan pengetahuan tentang budaya dan kisah-kisah (turi-turian) Batak.   

DENDANG BAKTI

Dendang Bakti
Judul Buku    :  Dendang Bakti: 
                       Inkulturisasi Teologi dalam Budaya Batak
Penulis          : Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFMCap
Penerbit        : Bina Media Perintis, Medan, 2004 (Terbitan Pertama)
Halaman       : 453
Bahasa         : Indonesia

Penulis seorang Uskup. Berbeda dengan pandangan beberapa penulis-penulis tentang Batak, justru dalam bukunya ini Uskup Sinaga menemukan bahwa Suku Batak mengakui Allah Yang Esa, Sang Khalik dan Sang Pencipta alam semesta yaitu Mulajadi Nabolon. 

Buku ini juga menguraikan tentang sejarah dan agama Batak Kuno dengan gaya penyampaian didominasi dalam bentuk sastra berupa sajak empat baris. 

BATAK TOBA: KEHIDUPAN DI BALIK TEMBOK BAMBU

Batak Toba
Judul Buku    : Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu
Penulis          : Dr. Ir. Bisuk Siahaan
Penerbit        : Kempala Foundation, Jakarta, 2005 (Cetakan 1)
Halaman       : 434
Bahasa         : Indonesia


Buku ini berisi uraian tentang kehidupan dan budaya peninggalan leluhur Orang Batak Toba sebelum abad ke-19, disertai oleh foto-foto otentik pada era tersebut.  Buku ini didukung sumber literatur dalam dan luar negeri.  Studi pustaka dilakukan Penulis dengan berkunjung langsung ke museum dan perpustakaan di  Leiden, Amsterdam dan Den Haag, serta Wuppertal-Jerman. Meskipun Penulis seorang insinyur teknik, bukan antropolog dan etnolog, tetapi "tergugah" untuk mencari tahu mengenai Suku Batak Kuno, yang selanjutnya dituangkan dalam buku ini dengan tujuan agar generasi muda mempunyai gambaran akan kehidupan dan kebiasaan leluhur Batak Toba di masa lalu yang kini terancam punah.

Selasa, 26 April 2011

PUSUK BUHIT

Dolok Pusuk Buhit (Foto, 2010)
Pusuk Buhit sebuah gunung berbentuk kerucut yang tumpul dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, tertinggi di antara deretan pegunungan sekitarnya, terletak di barat pantai Danau Toba, dekat Pangururan.  Sebahagian kaki gunung berbatasan dengan Tao Toba (ketinggian + 400 meter dari permukaan air danau), sisi lainnya berlereng tebing curam berbatasan dengan lembah yang memberi jarak dengan deretan pegunungan Bukit Barisan. 

Asal-usul leluhur Suku Batak yang bermukim di Toba, diyakini bermula dari Dolok Pusuk Buhit (Gunung Pusuk Buhit).  Menurut mitologi Batak, Pusuk Buhit sebagai bukit sakral  tempat  leluhur suku Batak diturunkan dari kayangan (Banua Ginjang), dan leluhur Si Raja Batak “bertemu” dengan Ompu Mulajadi Na Bolon.  Jika diperkirakan, mitologi dalam bentuk turi-turian tersebut sebagai simbolisme yang menyiratkan bahwa  Si Raja Batak tiba di puncak Dolok Pusuk Buhit dan menyampaikan tonggo (doa) ucapkan syukur, permohonan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon dan harapan untuk membangun kembali permukiman dan peradaban baru.   Sebagaimana kepercayaan kuno suku-suku bahwa pucak gunung tertinggi merupakan tempat sakral untuk menyampaikan doa. 

Di lereng Pusuk Buhit, terdapat lembah yang kemudian dijadikan sebagai permukiman (huta ) yang  strategis, terlindungi oleh deretan pegunungan, bagaikan benteng alam yang aman dan tertutup, dan  puncak gunung bagaikan menara pengawas untuk kehadiran pihak lain (termasuk musuh). Dari pucak Pusuk Buhit dapat memandang ke berbagai penjuru deretan pegunungan dan kebiruan Tao Toba.

Minggu, 24 April 2011

ANDUNG (ANDUNG-ANDUNG)

Andung atau Andung-andung merupakan ratapan, jerit tangis atau senandung hati  yang diuntai dalam syair sastra dan lagu spontan, sebagai ungkapan perasaan mendalam.  
Andung-andung diungkapkan sebagai luapan perasaan:
  1. Dukacita, kematian orang yang terkasih atau sanak saudara;
  2. Meratapi nasip yang malang;
  3. Perpisahan atau putus cinta.
Bahasa yang digunakan dalam Andung-andung berbeda dengan bahasa sehari-hari, penuh gaya  sastra, misalnya: 
  • Simanabun: dolok = gunung
  • Silumanlan: aek = air, sungai, danau atau laut.
  • Na lambok malilung : na burju roha = yang baik hati
  • Mangangguk bobar = menangis sejadi-jadinya
  • Amang Parsinuan: Da Amang = ayah kandung
  • Inang Pangintubu: Da Inang = ibu kandung
Gaya sastra Bahasa Batak untuk anggota tubuh: 
  • Simanjujung : ulu = kepala
  • Simalolong : mata = mata
  • Simangkudap : baba = mulut
  • Sipangido : tangan = tangan
  • Simanjojak : pat = kaki 

BORHAT MA DAINANG (BERANGKATLAH PUTRIKU TERSAYANG)

Lagu ini sebagai ungkapan doa restu orang tua kepada Putrinya saat menyampaikan dan menyelimutkan "ulos"  kepada mempelai berdua. Orang tua perempuan penuh keharuan berpisah dengan Putrinya yang telah diasuh sejak kecil hingga dewasa, tetapi juga berbahagia dan bersyukur karena Putrinya tersayang memasuki tahap kehidupan baru, mendapatkan jodoh, pasangan hidup sampai tua, yang akan melahirkan generasi putra dan putri.


BORHAT MA DAINANG

Borhat ma dainang
Tubuan laklak ho inang tubu singkoru
Horas ma dainang
Tubuan anak ho inang tubuan boru

Horas ma dainang
Ronghapmu gabe helanghi dongan matua
Horas ma dainang
Di tongan dalan nang dung sahat ro di huta

Reff:
Unang pola marsak ho
Ai tibu do ahu ro
Sirang pe ahu sian ho
Tondinghi gumonggom ho

Mengkel ma dainang
Sai unang tuma tangis ho inang martuktukhian
Ingot martangiang
Asa horas hamu na laho nang na tinggal


Terjemahannya kira-kira seperti ini:

BERANGKATLAH PUTRIKU TERSAYANG

Berangkatlah Putriku tersayang
Tumbuhlah kulit kayu tumbuhlah enjelai
Selamat berbahagia Putriku tersayang
Kiranya kelak kan lahir putra dan putrimu

Selamat berbahagia Putriku tersayang
Jodohmu, jadi menantuku, pendampingmu berbahagia selamanya 
Selamatlah Putriku tersayang
Di perjalanan maupun setelah sampai di tempat tinggalmu

Reff:
Usah engkau bersedih 
Ku kan datang segera
Meskipun kita berpisah
Hatiku tetap menyertaimu

Tersenyumlah Putriku tercinta
Usah menangis terus, Putriku
Berdoalah selalu
Agar sentosa kalian yang kan berangkat dan kami yang tinggal di sini


__________________________________
Download MP3: Borhat Ma Dainang (Victor Hutabarat)

SARIBU RAJA

Putra Kedua Guru Tatea Bulan, Saribu Raja mempunyai banyak kisah unik, yang kelak menjadi "pesan dan pelajaran dari suatu sejarah*,"  yaitu:
  1. Pernah dicincang dan dimasukkan ke kuali panas oleh Sang Ayah sebagai ujian kesetiaan iman Guru Tatea Bulan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon,  tetapi oleh Ompu Mulajadi Na Bolon dititahkan untuk keluar dari periuk dan hidup kembali.
  2. Diusir dari Sianjurmula-mula oleh adik-adiknya Limbong, Sagala dan Malau karena melanggar adat, yakni kawin dengan saudarinya Siboru Pareme (dari perkawinan ini lahir Siraja Lontung).
  3. Menyimpan harta karun ke dalam peti batu yaitu Batu Hobon.
  4. Kawin dengan Nai Manggiring Laut putri dari Siraja Homang (?).  Pertemuannya diawali  adu silat dengan calon mertua, Siraja Homang. Berkat kegigihan dan ketangguhannya dalam ilmu pencak silat membuat kekaguman calon mertuanya, pada akhirnya dijodohkan dengan putrinya, Nai Manggiring Laut. Dari perkawinan ini lahir Siraja Borbor.
  5. Kisah Lain, Saribu Raja juga kawin dengan boru ni Raja Sibabiat.  Dari perkawinan ini lahir seorang putra, Siraja Babiat. 
  6. Berjudi dengan Raja Asi-asi (Tunggul Ni Juji) putra dari Tuan Sorimangaraja (Sorimangaraja adik dari Guru Tatea Bulan).  Berjudi, berhari-hari sampai akhirnya Saribu Raja kalah telak.  Seluruh harta kekayaannya  leong (habis dipertaruhkan, melayang).  
  7. Pertemuan dengan Raja Uti (Raja Gumeleng-Geleng) abangnya (putra pertama Guru Tatea Bulan), yang telah bersalin rupa.  Saribu Raja tidak menyadarinya dan mengaku sebagai putra sulung dari empat putra Guru Tatea Bulan.  Akibat meniadakan abangnya Raja Gumeleng-geleng, mendapat celaka (hamagoan).

    ___________________________
    * = Akan dibahas kemudian, secara khusus.
    Klik di sini: Silsilah Saribu Raja  

SILSILAH SARIBU RAJA


Silsilah Saribu Raja

Saribu Raja, Putra kedua Guru Tatea Bulan, mempunyai tiga orang istri, yaitu:

1. Siboru Pareme, melahirkan Siraja Lontung
2. Nai Manggiring Laut, melahirkan Siraja Borbor 
3. Siboru Babiat, melahirkan Siraja Babiat alias Siraja Galeman
    (Informasi keturunan dari Siboru Babiat ini berbagai versi, dan belum begitu jelas)

Sabtu, 23 April 2011

SEJAK KAPAN "BATAK" ADA DI TOBA?

Batak [1]  sebagai "nama" baru ada sejak Si Raja Batak [2]  diperkirakan sekitar tahun 1200-an berdasarkan perhitungan generasi garis keturunannya.  Semua keturunan Si Raja Batak inilah yang disebut sebagai Suku Batak.

Asal usul Si Raja Batak, dalam hal ini masih "samar" jika ditelusuri dari bukti-bukti sejarah. Diperkirakan Batak dari rumpun Proto-Melayu, yang berasal dari sebuah wilayah di daratan Cina Selatan yang berimigrasi ke Asia Tenggara.  Menetap di Barus yang terkenal sebagai pelabuhan internasional sejak abad ke-6 [3]  .

Barus menjadi wilayah dominasi Kerajaan Sriwijaya, tetapi akibat serangan tentara Cola di India 1025 kepada Sriwijaya, Barus turut mengalami kehancuran.  Dari puing kehancuran, penduduknya mencari kehidupan baru termasuk Si Raja Batak ke wilayah Toba (Toba adalah wilayah lembah atau pegunungan di sekitar Danau Toba).

Tahun 1293 M sampai dengan 1500 M, Kerajaan Majapahit menganeksasi wilayah Kerajaan Sriwijaya di Sumatera bagian Utara [4].  Ekspedisi terbesar Majapahit dipimpin Patih Gajah Mada menjejakkan kaki sampai di wilayah aliran muara sungai Asahan (1331-1364).  Selama tiga puluh tiga tahun pasukan Majapahit berada di Sumatera bagian Utara.  Menurut versi sejarah tarombo Batak, salah satu keturunan Si Raja Batak, yaitu cicitnya (anak dari cucunya) bernama Tuan Sorbadibanua yang tinggal di Lobu Parserahan, Balige tidak begitu jauh dari sungai Asahan, beristrikan (istri kedua) wanita keturunan Majapahit --dialek Batak: Basopaet--, yaitu Siboru Basopaet.  Dari perkawinan ini lahir tiga orang anak, yaitu: Si Raja Sumba, Si Raja Sobu dan Si Raja Naipospos.

Jadi, 
1.  Nama "Batak" dan keturunan Si Raja Batak mendiami Toba sekitar tahun 1200-an, dan asal usul "Batak" telah ada sejak abad sebelum Masehi tetapi belum menyandang nama "Batak."  
2. Generasi "Batak" bernama Tuan Sorbadibanua, cicit dari Si Raja Batak,  beristrikan Siboru Basopaet. Selanjutnya keturunan marga Batak dari garis ini berdarah campuran Batak dan Jawa.   Marga-marga dari keturunan ini marhula-hula kepada "Suku Jawa dari pihak Siboru Basopaet."  [5]


[1] Batak  [2] "Masa Kegelapan (Tingki Ni Lumlam) [3]  Mengenai Barus, bahkan pendapat lain mengatakan sejak abad sebelum Masehi, Pansur, Fansur, Fansuri, Fanchour atau Barus, Barusai, Barousai sudah dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan internasional yang ramai, [4] Majapahit Empire, http://en.wikipedia.org/wiki/Majapahit-Empire.  [5] Lihat Tarombo keturunan Si Raja Sumba, Si raja Sobu dan Si raja Naipospos

PARIK DAN HARBANGAN NI HUTA


Parik dan Harbangan ni Huta
di Lumban Raja, Bakara (Foto, 2006)
Ciri khas setiap huta (kampung) di Tanah Batak pada zaman dahulu dikelilingi oleh tembok tanah atau batu yang di atasnya ditanami pohon bambu berduri yang tumbuh rapat.  Tembok ini dinamakan parik ni huta, berfungsi sebagai benteng untuk melindungi wilayah permukiman kampung terhadap kemungkinan serangan musuh di luar dan dari terpaan angin kencang.

Hanya ada sebuah pintu masuk dan keluar huta, berupa celah sempit yang hanya dapat dilalui satu orang sebagai pintu gerbang yang disebut harbangan ni huta. Untuk berpapasan, setiap orang harus antri di  depan harbangan.

Rabu, 20 April 2011

TIKAR

Tikar mempunyai fungsi penting dalam kehidupan dan tradisi masyarakat Batak. Tempat menerima atau menjamu tamu, tempat duduk pesta di halaman, alas tidur dan kadangkala berfungsi sebagai selimut, dan tikar ukuran lebih kecil berfungsi sebagai alas untuk sembahyang  -martonggo-.

Tikar berfungsi juga sebagai alas untuk menjemur padi, dalam bahasa "kuno/andung" Batak  disebut sideang tumalas (asal kata: deang = dayang, anak gadis dan talas atau na las = yang panas, hangat).

Tikar dalam bahasa Batak:
1. Amak,
2. Tihar (tikar yang anyamannya halus)
3. Rere (tikar yang sudah butut) 
4. Lage (tikar untuk alas tidur)

Istilah yang berhubungan dengan tikar:
Dipaherbang = digelar, dibentangkan
Dibalun = digulung
Marbulusan = menyelimuti diri dengan tikar sewaktu tidur untuk menghangatkan.
Amak tiar, lage tiar = tikar besar
Marlage tiar = membentang tikar untuk alas tidur. 

Senin, 18 April 2011

PETUAH PERGI MERANTAU


Sewaktu akan melepas putranya pergi merantau baik untuk bersekolah atau meninggalkan tempat kediaman orang tua, orang tua Batak biasanya akan memberangkatkan anaknya dengan menyajikan "indahan na las dohot aek si tio-tio" (hidangan nasi hangat dan air putih) dengan "dengke," (sajian ikan)  diiringi doa dan restu serta pesan, diantaranya:
1.  Silsilah keluarga
2. Tona dohot poda (amanah dan nasihat), seperti: 
     "Muda ho magodang muse, tartompu ho ma tu jae tu julu...
     Molo manumpak Tuhan ta i, gariang i tupa do i gabe napu..."

Artinya: "Kiranya engkau mendapatkan kemudahan dan kian dewasa, ke mana pun pergi (ke hilir atau ke hulu) engkau kan berhasil. Jika Tuhan memberkati, lahan tandus pun menjadi subur (napu=pupuk).

Sebagaimana kutipan syair lagu "Putus Singkola," (lagu ini tentang anak "putus sekolah" karena orang tua tak mampu membiayai, sehingga si anak harus pergi merantau untuk mencari keberhasilan kehidupan mandiri). 

Doa restu dan harapan orang tua ketika memberangkatkan anaknya merantau, yakni :
"..... Tangianghi da Amang, na mandongani ho di luat na dao. Anggiat horas ho, dapothon di luluanmu Amang...... Molo tung na sahat ho Amang, tu na sininta-sinta ni roham... Tongos surat pa boa baritam, laho paposhon rohanghi da Amang..."  

Terjemahannya: "Doaku selalu menyertaimu di tempatmu yang jauh, Anakku. Kiranya engkau selamat sejahtera menggapai harapanmu, Anakku. Jika telah berhasil memperoleh apa yang engkau cita-citakan, Anakku.  Kirimlah surat memberitahukan kabarmu, agar hatiku tenteram, Anakku..." 
_____________
Amang adalah panggilan sayang orang tua (ibu atau ayah) kepada putranya, bisa juga dengan "Amang hasian(hu).". Kepada putrinya adalah "Inang" atau "Boru Hasian(hu)."  Panggilan sayang untuk putra dan putri juga bisa "Tondi" atau "Tondinghi" dibaca tondikki (Belahan jiwaku). Amang sendiri arti sebenarnya Bapak, dan Inang artinya Ibu, hu=daku.

RAJA ISUMBAON

Silsilah Raja Isombaon


Putra kedua dari Si Raja Batak adalah Raja Isumbaon (Raja Isombaon) artinya "raja yang disembah."  Semua keturunannya kemudian disebut Keturunan Sumba sebagai golongan matahari.

Putra Raja Isumbaon ada tiga, yaitu:
  1. Tuan Sori Mangaraja
  2. Raja Asiasi (Tunggul ni Juji)
  3. Sangkar Somalidang (Langka Somalidang)

Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang sebelum menikah telah pergi merantau meninggalkan kampung halamannya Pusuk Buhit.

Pusaka yang diberikan oleh Si Raja Batak kepada putranya Raja Isumbaon, adalah Pustaha Tumbaga Holing, berisi tentang patik dohot uhum habatahon, harajaon, partiga-tigaan (titah  dan hukum Batak, kerajaan dan perniagaan)

Minggu, 17 April 2011

HULING-HULINGAN (TEBAK-TEBAKAN)

Salah satu seni bercengkerama dan bersenda gurau di kalangan muda-mudi atau anak-anak, Batak kuno, yakni "huling-hulingan" atau teka-teki. Biasa dimulai dengan seruan, “Hutissa, huling-huling assa" (Cobalah tebak, teka-teki), jika akan menebak dijawab "Assa...!"
Contoh:
1. Inongna maneati anakna manullangi = ibunya menyayati anaknya menusuki. Jawabannya : ri (ilalang). Daun ilalang jika sudah besar sisinya bisa menggores (menyayat) tubuh, sedangkan tunasnya tajam dapat menusuk kaki.
2. Salpu mangan ro si ganjang mise = selesai makan datang si kumis panjang. Jawabannya = sapu (sapu ijuk). Setelah selesai makan, lantai tempat duduk sewaktu makan disapu bersih.

GURU TATEA BULAN

Slsilah Guru Tatea Bulan


Putra pertama Si Raja Batak, yaitu Guru Tatea Bulan disebut juga Guru Tatean Bulan atau  Guru Hatia Bulan, artinya tertayang bulan.  Dari perkawinannya dengan istrinya  Siboru Baso Burning lahir sepuluh putra dan masing-masing kembar dengan putri, yaitu:

PUTRA
  1. Raja Gumeleng-Geleng
  2. Saribu Raja
  3. Limbong Mulana
  4. Sagala Raja
  5. Malau Raja
PUTRI  
  1. Siboru Pareme
  2. Siboru Biding Laut
  3. Siboru Paromas (Sibunga Haomasan)
  4. Siboru Anting Malela (Siboru Anting Sabungan)
  5. Nan Tinjo
Selanjutnya keturunan Guru Tatea Bulan disebut sebagai Golongan Bulan.  Guru Tatea Bulan mendapat warisan Pustaha Laklak (Pustaha Nagok), berisi tentang hadatuon, parmosakan, pangaliluon (perdukunan, pencak silat dan bela diri) dari Si Raja Batak, maka kepadanya diberikan gelar Toga Datu, asal mula hadatuon pada keturunan Si Raja Batak.  

KETURUNAN SI RAJA BATAK

Silsilah Keturunan Si Raja Batak
Putra Si Raja Batak, Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon/Raja Sumba inilah yang kelak akan menurunkan Marga-marga Batak, sedangkan putra ketiga Toga Laut, merantau ke Aceh dan menikah di sana.

Raja Gumeleng-geleng hijrah ke Barus,  Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang belum begitu jelas pergi merantau ke wilayah mana. 

SILSILAH SI RAJA BATAK

Inilah silsilah Si Raja Batak, keturunan Si Raja Odap Odap dengan Siboru Deang Parujar.  Menurut mitologi, Si Raja Odap-odap dengan Sibore Deang Parujar adalah manusia pertama di dunia (--Tanah Batak--).  Silsilah ini merupakan bauran antara mitologi dan sejarah.

Silsilah Si Raja Batak
Catatan:
-  Raja Ujung, Aceh
-  Raja Jau (dalam salah satu sumber dikatakan Jau = Barus) 
- Si Raja Batak mempunyai saudara kandung, yakni salah satu suku di Aceh dan di Barus

Sabtu, 16 April 2011

SEJARAH SUMATRA

Sejarah Sumatera 



Judul       : Sejarah Sumatra
Penulis    : William Marsden
Penerbit  : Komunitas Bambu, Depok, 2008
Halaman : 441
Bahasa   : Indonesia






Khusus deskripsi Batak (Battas) pada buku  Marsden di Bab 20 halaman  337 -363.

Pada awal tulisannya tentang Batak, dalam buku versi Inggris William Marsden mengemukakan :

BATTAS.

One of the most considerable distinctions of people in the island, and by many regarded as having the strongest claims to originality, is the nation of the Battas (properly Batak), whose remarkable dissimilitude to the other inhabitants, in the genius of their customs and manners, and especially in some extraordinary usages, renders it necessary that a particular degree of attention should be paid to their description. 
(Salah satu penduduk yang sangat berbeda di pulau, dan oleh banyak kalangan dianggap benar-benar asli adalah bangsa Battas (benar Batak), yang luar biasa perbedaannya dengan penduduk lainnya, dalam hal kejeniusan tradisi dan istiadat mereka, dan terutama dalam beberapa penerapan yang di luar kebiasaan sehingga perlu diberikan deskripsi khusus tentang mereka).

Naskah dalam Bahasa Inggris:
http://www.gutenberg.org/files/16768/16768-h/16768-h.htm

SUMATERA TEMPO DOELOE

Sumatera Tempo Doeloe

Judul       : Sumatera Tempo Doeloe: dari Marco Polo sampai Tan Malaka
Karya     : Anthony Reid
Penerbit  : Komunitas Bambu, Jakarta, 2010
Halaman : 423
Bahasa   : Indonesia

Buku ini disusun oleh Pakar Sejarah Anhony Reid, berisi berisi dokumen berupa catatan-catatan perjalanan para penjelajah (Barat) yang pernah menginjakkan kaki ke Sumatera dari abad ke-9.


Khusus tentang Batak pada Buku tersebut:
1. Richard Burton dan Nataniel Ward, "Memasuki Negeri Batak Toba, 1824," (hal. 212-231).
2. Emilio Modigliani, "Tanda Bantuan Tuhan kepada Batak," (hal.240-253)
dan judul lainnya pada Buku tersebut.

DESA NA UALU

Delapan arah mata angin dalam Batak Tradisional disebut “desa na ualu,” yaitu:
  •             Timur (Purba/Habinsaran),
  •             Tenggara (Anggoni),
  •             Selatan (Dangsina/Jae),
  •             Barat Daya (Nariti),
  •             Barat (Pastima/ Hasundutan),
  •             Barat Laut (Manabia),
  •            Utara (Julu)
  •             Timur Laut (Irisanna).
Julu bisa juga berarti hulu, dan Jae, hilir.