Selasa, 05 April 2011

DALIHAN NA TOLU PAOPATHON SIHAL-SIHAL

Kuali di atas tungku nan tiga (Foto, 2011)
Sihal-sihal dan dalihan na tolu (Foto, 2010) 


Dalihan na tolu adalah bentuk sistem kekerabatan Suku Batak. Dalihan merupakan tungku batu untuk meletakkan kuali di perapian, Jadi dalihan na tolu artinya tungku yang tiga, sebagai lambang kiasan aturan dan sikap hidup Suku Batak sehari-hari dalam hubungan sosial maupun adat.


Dalihan na tolu terdiri dari:
1.Hula-hula, yaitu keluarga pemberi wanita, kelompok keluarga pihak marga istri;
2.Boru, adalah keluarga marga laki-laki, pihak penerima wanita;
3.Dongan Tubu atau Dongan Sabutuha, teman semarga, kaum kelompok yang satu marga (dongan=teman, tubu= lahir, sabutuha=satu perut)

Somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu” artinya hormat kepada Hulahula, pandai mengambil hati Boru, dan dapat membawa diri kepada kerabat semarga. (Asal kata: Somba, sembah, hormat; elek, membujuk; manat, berhati-hati).

Untuk melengkapi ketiga tungku tersebut terdapat batu ganjal sebagai penyeimbang kedudukan kuali apabila diperlukan, disebut sihal-sihal. Sehingga konsepsi lengkapnya menjadi, “dalihan na tolu, paopathon sihal-sihal.” Peran sihal-sihal bisa oleh ale-ale (sahabat, rekan), atau juga dongan sahuta (teman sekampung).

Tidak ada komentar: