Senin, 28 Maret 2011

SISINGAMANGARAJA: Primus Interpares

Pemerintahan Sisingamangaraja berpusat di Lumban Raja, Negeri Bakara. Sisingamangaraja membangun basis kerajaan bentuk federasi berdasarkan pola-pola kehidupan sosial dan budaya yang telah ada di Tanah Batak. Jika di Tano Batak umumnya primus interpares” disebut Raja Oloan, yakni pemimpin di antara pemimpin, pemegang supremasi di antara Raja-Raja Bius, maka di Negeri Bakara, Raja Sisingamangaraja sebagai otoritas tertinggi di bidang pemerintahan dan religi, sehingga kedudukannya sebagai Raja Pendeta (Priest Kings).

Meskipun pengaruh dan kekuasaan Raja Sisingamangaraja sangat luas di luar wilayah Negeri Bakara, tetapi tidak mencakup seluruh Tanah Batak. Ia sangat dihormati, dan berperan mendamaikan perselisihan antar huta, menghapus perbudakan (parhatobanan), melarang pasungan (beangan) terhadap manusia di setiap huta dan ia menstandarisasi ukuran solup (takaran). Ia memelihara tradisi dan religi juga sebagai tokoh pencipta dan penegak hukum adat, moral.


Sejarah mencatat bahwa Raja Sisingamangaraja menyelenggarakan administrasi pemerintahan modern yaitu Arsip Bakara yang ditulis dalam aksara Batak (Surat Batak) di atas kertas (kertas diimpor dari Itali dan tinta dari Negeri Cina), menggunakan stempel kerajaan (Sahap ni Harajaon). Ia melakukan koresponden (surat-menyurat) dalam hubungan antar wilayah kerajaan dan dengan orang-orang Eropa (misionaris Jerman dan kolonial Belanda).


(Arsip Bakara diselamatkan oleh Pendeta Pilgram pada tahun 1884, kemudian disimpan oleh Joustra dan selanjutnya kepada Poortman di Voorburg Holland).

Tidak ada komentar: