Minggu, 13 Maret 2011

MASA KEGELAPAN “TINGKI NI LUMLAM”

Sebutan Batak, bermula dari nama leluhur suku Batak, yaitu Si Raja Batak. Oleh karena itu semua marga Batak (Toba) merupakan keturunan dari Si Raja Batak. Mereka kemudian tersebar (marserak) ke wilayah Tapanuli di sekitar tepi Danau Toba, karena marga-marga semakin bertambah jumlahnya, huta-huta semakin bertambah banyak.

Si Raja Batak memberikan petuah dan ajaran moral kepada anaknya dalam bentuk umpama dan umpasa serta tona dohot poda. Ia juga memberikan warisan barang pusaka (unggasan homitan) kepada putra pertamanya Guru Tatea Bulan yaitu kitab Pustaha Laklak (Pustaha Nagok) berisi tentang ilmu pengobatan, persilatan, dan bela diri -bukan menyerang- lainnya (hadatuon, parmosakan dohot pangaliluon), dan kepada putra kedua, Raja Isumbaon diserahkan kitab Pustaha Tumbaga Holing berisi tentang ilmu peraturan dan hukum, tata kerajaan dan niaga (patik dohot uhum habatahon, harajaon, partiga-tigaan).

Selanjutnya keturunan Si Raja Batak meneruskan amanah, diantaranya dalam bentuk umpasa: “Omputta Raja di jolo, martungkot sialagundi, na pinungka ni Ompunta parjolo, siihutton hita ni parpudi.” Artinya: Leluhur kita Sang Raja di depan, bertongkat Sialagundi, yang telah dirintis dan diwujudkan oleh Leluhur kita dahulu, diikuti atau diteladani oleh kita sebagai penerusnya (parpudi = di belakang hari). Istilah “Raja” dalam hal ini sebagaimana pernah diuraikan terdahulu, yakni sikap dan perilaku sebagai yang baik. Tongkat Sialagundi sebagai kiasan pegangan atau panduan yang kokoh dan teruji dalam menjalani kehidupan (Sialagundi adalah sejenis pohon berbatang keras yang kayunya berkualitas dan kuat).

Seiring perjalanan waktu, bebagai perselisihan dan pertengkaran timbul antar marga, antar huta, bahkan mengakibatkan perang di antara mereka. Untuk mempertahankan diri bahkan untuk menyerang dilakukan dengan berbagai cara. Pertahanan huta misalnya, dengan membangun “parik ni hutaatau “pagar ni huta” (benteng batu mengelilingi kampung) yang di atasnya ditanami tanaman bambu yang rapat, dengan satu akses pintu masuk, harbangan ni huta (pintu gerbang kampung). Di sisi lain bermunculan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran leluhur suku Batak seperti “pangulubalang” (sejenis santet) dan “bura” (jampi-jampi/mantra perusak) untuk menghancurkan musuh. Masa ini disebut “tingki ni lumlam” (jaman jahiliyah di Batak) dimana kesewenangan merajalela dengan mengabaikan “tona dohot poda” dan “adat dohot uhum” (amanah dan nasihat, adat dan aturan) yang telah diajarkan oleh para leluhur.

Hal-hal negatif yang ada dan berkembang pada era “tingki ni lumlam” tersebut menjadi salah satu faktor -- tentunya ada faktor dan unsur lainnya-- yang mencederai pandangan tentang ajaran leluhur Batak sehingga dikatakan sesat dan kafir.
_______________
(Tingki = zaman, masa, waktu, saat; Ni = yang; Lumlam = ruwet, kacau, tidak teratur, campur aduk)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Horas !!!
Salut !!!
Trima kasih Bang atas tulisan ini, smangat yang luar biasa untuk mempertahankan JATI DIRI sebagai orang Batak yang memiliki kekayaan Intelektual sebelum Ilmu Pengetahuan dunia Luar masuk ke Negeri ini perlu di Gali kembali, karena setahu saya Batak telah mengenal Banyak Pengetahuan yang Luar Biasa dalam menata kehidupan mereka.

Thanks,
Denny O. Bakara