Jumat, 04 Maret 2011

HUTA, LUMBAN, SOSOR DAN HUTA PAGARAN

Huta Limbong, Sagala & Malau di Samosir (Foto, 2006)
Huta Sianjur Mula-mula di Samosir (Foto, 2006)

Huta (kampung) adalah wilayah tempat tinggal keluarga suku Batak tradisional. Dalam satu huta terdapat beberapa rumah (sekitar 10-20), dimana penduduknya berasal dari marga yang sama atau satu nenek moyang (saompu), juga marga lain yang beristrikan boru (anak perempuan) dari marga pemilik huta tersebut. Pendiri huta disebut sipungka huta (si pembuka kampung) atau sinuan bulu (si penanam bambu). Si pungka huta menjadi Raja Huta, pemimpin masyarakat kampung.

Bertambahnya populasi membutuhkan huta yang baru berdekatan dengan huta induk, karena huta yang lama dari segi bentuk dan strukturnya tidak bisa diperlebar. Permukiman yang baru tersebut dinamakan lumban. Lebih menjauh dari huta induk dan lumban disebut sosor dan yang paling jauh adalah huta pagaran, tempat hunian paling luar atau paling pinggir.

Berbagai faktor menyebabkan kebutuhan akan huta na imbaru (kampung baru). Selain karena keperluan mendirikan rumah tempat tinggal, lahan pertanian baru, juga motivasi untuk membentuk masyarakat sosial sendiri guna memperoleh harajaon bagi si pembuka huta dan keturunannya. Latar belakang lainnya adalah akibat perselisihan yang terjadi di dalam suatu huta. Perselisihan antar penghuni huta, mengakibatkan salah satu atau sekelompok dari mereka memilih merantau, mendirikan huta baru yang jauh dari huta asal-usulnya, sehingga “marga” yang sama bisa memiliki huta di beberapa tempat yang berjauhan.

Tidak ada komentar: