Sabtu, 12 Maret 2011

BATAK TOBA DAN TAPANULI

Batak Toba merupakan sub suku Batak. Selain Batak Toba, sub suku Batak yaitu Simalungun, Karo, Pakpak-Dairi dan Mandailing-Angkola. Masing-masing sub-suku mendiami wilayah tertentu, mempunyai adat istiadat, tradisi, bahasa, aksara dan kepercayaan dengan ciri tersendiri, meskipun diantaranya terdapat persamaan atau kemiripan satu sama lain.

Batak Toba mempunyai banyak persamaan di dalam adat budaya maupun bahasa dengan Batak Simalungun. Antara Batak Toba dengan Batak Mandailing-Angkola mempunyai banyak persamaan di dalam bahasa. Yang tampak menonjol perbedaan antara sub suku Batak adalah Batak Karo dan Batak Pakpak.

Batak kadangkala disebut juga suku Tapanuli, berdasarkan wilayah geografis tempat tinggalnya, tetapi sekarang ini sudah jarang dipergunakan. Apalagi dengan pemekaran kabupaten Tapanuli menjadi beberapa kabupaten tanpa nama “Tapanuli” seperti Kabupaten Tobasa (Toba Samosir), Humbahas (Humbang Hasundutan) menyebabkan kebiasaan tersebut perlahan-lahan memudar.

Tapanuli berasal dari kata “tapian” dan “nauli”. “Tapian” artinya air dan “nauli” artinya yang elok, indah, cantik. Tapanuli adalah wilayah yang berada di sekitar Danau Toba, memiliki banyak mata air, sungai dan danau. Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir dan di tengah Pulau Samosir terdapat danau, bernama Danau Sidihoni.

Selanjutnya jika dikatakan Batak, maka identik dengan Batak Toba. Dewasa ini sub suku Batak lainnya lebih sering disebut sebagai “orang” atau “suku” Simalungun, Karo, Pakpak-Dairi atau Mandailing-Angkola karena keunikan dan kekhasan masing-masing. Tetapi ketika di perantauan atau berada jauh dari lingkungan sukunya beberapa di antaranya mengidentifikasi sebagai Batak, dengan menyebut suku Batak Karo, Batak Pakpak-Dairi atau Batak Mandailing-Angkola kepada pihak lain.

Tidak ada komentar: