Jumat, 25 Maret 2011

BABI ITU HARAM MENURUT PANDANGAN BATAK TRADISIONAL?

Pinahan Lobu (Foto, 2010)
Babi bahasa Bataknya adalah babi, pinahan lobu, parmiak-miak/namarmiak-miak (gemuk, berlemak), bahasa yang diperhalus "horbo na metmet" (kerbau kecil)

Konon –masih perlu pembuktian lebih lanjut dari catatan sejarah-, jenis hewan ini sering dibawa oleh pelaut bangsa Eropa, dan secara besar-besaran didatangkan pada akhir tahun 1800 an (awal tahun 1900 an) ke tanah Batak untuk diternakkan sebagai sumber kebutuhan konsumsi “daging” kaum penjajah/si mata putih (sibontar mata) dan rakyat jelata. Ternak ini memang murah, mudah dan cepat berkembang biak. Menurut orang Eropa masyarakat perlu menikmati daging sebagai lauk sehari-hari, karena sebelumnya orang Batak makan daging hanya saat pesta, atau menjamu tamu yang dihormati.

Sebaliknya pemimpin dan pemangku adat masyarakat Batak Tradisional dan kaum Malim (Parmalim) menyatakan bahwa daging babi itu “rotak” dan dikategorikan “subang” untuk dimakan karena akan membuat tubuh menjadi “ramun” (“ramun” artinya tercemar, subang artinya haram, pantang, terlarang atau tidak boleh dikonsumsi, sedangkan rotak artinya kotor). 

Pada era Batak tradisional daging untuk keperluan adat dan konsumsi adalah sigagat duhut (hewan atau ternak pemakan rumput yaitu: kerbau=horbo, sapi=lombu, kuda=hoda, kambing=hambing, domba=dorbia.dan ayam=manuk atau bebek=bibi). Sedangkan dewasa ini di kalangan Batak, “parmiak-miak" merupakan salah satu sajian adat Batak, dan untuk kaum parsubang pada pesta tersebut disediakan makanan lain yang tidak “dais” (terkena, tersentuh) hidangan “namarmiak-miak.”


___________________
Lihat penjelasan tentang Malim pada Ugamo Batak

Tidak ada komentar: