Minggu, 13 Maret 2011

ARTI "BAKARA"


Bakara artinya tempat kediaman yang teduh (damai). Negeri ini diberi nama oleh seorang raja yang bernama Raja Oloan, sebagai pembuka lahan permukiman. Bakara kemudian diberikan sebagai nama anak laki-laki pertamanya (dari istri keduanya Siboru Pasaribu). Bakara menjadi suatu “marga” yang disandang oleh keturunannya. Marga dalam masyarakat Batak adalah suatu “klan” atau nama keluarga dari satu keturunan leluhur, dan membentuk kelompok masyarakat yang mendiami suatu kampung.

Sebutan “Bakara” berasal dari kata “bangka” dan “ra” dalam Bahasa Batak Toba. Bangka (dengan dialek Batak diucapkan “Bakka”) artinya takikan pada kayu, dan “ra” artinya akan terjadi/mungkin. Pada masyarakat tradisional untuk dapat memanjat pohon –seperti pohon kelapa - dengan cara membuat takikan pada batangnya. Dengan adanya takikan ini akan lebih mudah sampai di atas pohon dan tidak tergelincir.

Kata Bakara, dapat juga kemungkinannya berasal dari kata “Bangkar” dan “ra”. Bangkar dalam bahasa Batak Toba artinya kulit pohon enau yang keras pada cabang bawah dan meliliti ijuk. Di negeri Bakara dahulu (sekarang hanya tinggal sedikit) terdapat banyak pohon enau. Salah satu bagian dari pohon enau yaitu ijuk digunakan untuk atap rumah. Fungsi atap untuk melindungi bagian dalam rumah dari terpaan cuaca.

Dari kedua asal kata tersebut dapat ditelusuri makna filosofi dari leluhur Batak yang memulai kehidupan di wilayah ini yaitu harapan bahwa tanah tersebut menjadi tempat memulai permukiman dan berketurunan, serta wilayah perlindungan ideal untuk mencapai tingkat kesejahteraan kehidupan. Oleh karena itu, Bakara adalah "tanah harapan untuk permukiman yang damai, aman dan sejahtera."

4 komentar:

Bastanta P. Sembiring mengatakan...

Bakara secara etimologi berasal dari “bekerah” dalam cakap Karo/Melawi
Perhatikan!

Mengenai cakap Karo, bahasa ini belum banyak mengalami perubahan, sehingga masih belum terasing dari bahasa Indonesia(Melayu) asli (R. Brandstetter, Ph. D : “Root and Word”). Perhatikan berikut ini!

Bunyi “e” asli Indonesia/Melayu dan masih ditemukan di Karo, tetapi menjadi “o” dan tak jarang menjadi “a” juga di Toba(Batak).

Contoh:
beru di Karo = menjadi boru di Toba
eh di Karo = menjadi roh di Toba
teba di Karo = menjadi toba di Toba
bekerah di Karo = menjadi Bakara di Toba

demikian jugalah diyakini kata merga di Karo = menjadi marga di Toba; morga di Simalungun dan dalam penuturan lainnya.

Bunyi “k” asli dan masih ada di Karo, tetapi berubah menjadi h di Toba.
Contoh:
karo di Karo = menjadi haro di Toba
bukit di Karo = menjadi buhit di Toba
kesah di Karo = menjadi hosa di Toba
pustaka di Karo = menjadi pustaha di Toba

Bunyi “h” asli Indonesia/Melayu dan masih ditemukan di Karo, akan tetapi hilang di Toba.

Contoh: kesah di Karo = berubah dan menghilang bunyi h-nya di Toba menjadi hosa
Bekerah di Karo = berubah dan menghilang h-nya di Toba.

Mungkin akibat dari ini, kata meherga di Karo yang berarti berkuasa(keturunan) menjadi marga di Toba, dimana bunyi e di Indo/Karo berubah menjadi aatau terkadang o di Toba, serta bunyi h yang asli di Indo/Melayu masih ada di Karo, tetapi hilang di Toba.

Bekerah = Bakkara/Bakara
Be[-r]: Melayu/Karo setara(=) “er”
Contoh:
Bekerja = erkerja
Berjalan= erdalin
Berhias= erhias, dll
Ber(er): melakukan.

Kerah = kering, bekerja, mengabdi.
Dalam konsep kuta, erkerah/kerahen diwajibkan bagi rakyat derip(jelata) yang tidak memiliki hubungan dengan sibiak simateki kuta, sehingga rakyat derip ini diwajibkan membayar pajak, izin membuka tanah, dan erkerah(kerahen) yakni memberi pengabdian dengan bekerja di tanah persekutuan.

Dalam tradisi yang berkembang di Utara Danau Toba(Taneh Karo), dikatakan Bekerah yang sekarang Bakkara dulunya masuk dalam Urung Karo, dimana kemudian “Singa Meraja” dari Barus bermerga Karo-karo Barus berkuasa dan kemudian melepaskan rakyatnya dari erkerah/kerahen(wajib kerja). Ini sangat sejalan dengan tradisi yang berkembang di wilayah Sumatera Timur, dimana sering muncul panggilan “Lit Mbatakndu?” ataupun “Lit teba'ndu?” untuk mencari para aron juma(pekerja ladang).

Cattatan: Teba = Toba, yang artinya orang-orang yang datang dari sekitar Danau Toba. Daniel Parret juga mencatat kalau Sibayak Barus Jahe, Lingga, dan Kuta Buluh adalah orang yang paling diuntungkan dalam penjualan budak kepada perkebunan2 di Pesisir Timur, Sumatera yang sebagaian besar didatangkan dari sekitar Danau Toba.

Jadi, secara etimologi, sejarah, dan tradisi sangat masuk akal. Bahwa Bakkara berakar dari kata Bekerah yang artinya “wajib kerja”, atau dalam perkembangannya merujuk kepada sebuah wilayah sumber tenaga kerja.

Sehingga sering terjadi kerancuan saat menterjemahkan Hikayat Hamparan Perak, dimana yang dimaksud(bekerah/bakara) sering disalah artikan dengan Bakara di Baktiraja, Humbahas sekarang. Padahal Bekerah(bakara) yang dimaksud adalah di Dataran Tinggi Karo, tepatnya di Kec. Namanteran, Kab. Karo.(Ingat HHP ditulis dalam aksara, cakap dan dialek Karo).

Jadi, lebih masuk akalnya Karokaro Barus menjalin persahabatan dengan menyetarakan diri dengan Sinambela. Bukan Sembiring Pelawi.

Maaf ini bukan bermaksud lain, hanya menambah informasi yang ada.

Mejuah-juah Taneh Batak Simalem.
Horas..!

Bayu mengatakan...

bakara secara etmologi toba artinya simpel saja; "lembah matahari"
bah (lembah) dan kara (matahari)
sesuai dengan topografinya yang berada di lembah yang di sinari matahari

H Bakara mengatakan...

Terimakasih atas masukan dan informasi yang berharga di atas...

Jetra Bakara mengatakan...

horas bg bakara, terimakasih banyak buat tulisan dan tambahan pngetahuan dri abg, saya juga bakara bg, asal dari dolok sanggul, mau izin bertanya bg, mana tau abg kenal dgn owner PT.BAKARA BUMI ENERGI