Sabtu, 05 Maret 2011

ADAT BATAK DAN KRISTEN

Seni Ukiran Batak: Ulu Paung (Foto, 2004)


Tradisi dan budaya Batak (Batak Toba) masih terpelihara di tengah-tengah kehidupan masyarakatnya saat ini, dan yang paling menonjol –contohnya- ketika menyelenggarakan upacara adat perkawinan. Berbeda dengan adat Suku Batak Tradisional (Batak Kuno) atau pra-Kristen, terdapat penyesuaian dan inkulturisasi budaya sejak para misionaris menyebarkan agama Kristen di tengah Suku Batak. Jika pada kepercayaan Batak Toba tradisional, upacara adat perkawinan dilaksanakan dengan doa (tonggo) yang dipimpin oleh Malim yang juga seorang Datu, kini beberapa bagian dari adat diadaptasikan sesuai dengan tata ibadah dan ajaran agama Kristen. Tonggo menjadi tangiang dan fungsi Malim dan Datu digantikan oleh Pendeta Kristen.

Pengaruh ajaran agama Kristen terhadap adat Batak sebenarnya merupakan suatu kompromi, menjadi adat Batak versi baru, dan inilah yang terjaga dengan baik. Di satu sisi, suku Batak berpegangan pada agama yang diyakininya tetapi dengan mempertahankan adat istiadat beserta hakekat dasar kepercayaan yang telah diwariskan oleh Leluhurnya. 

Johannes Warneck menekankan bahwa jemaat dan gereja dibangun sedapat mungkin berdasarkan bentuk-bentuk kemasyarakatan dan sosial. Para misionaris di satu sisi bermaksud agar tradisi Batak tradisional yang menurutnya kafir, harus ditinggalkan, tetapi kebudayaan Batak Kuno juga dicatat dan diselamatkan oleh para misionaris tersebut. Masalahnya bagaimana melestarikan adat sebagai bagian dari kehidupan religius sepanjang tidak bertentangan dengan agama Kristen.
_________________
Klik Link: Adat Batak dan Kristen II

Tidak ada komentar: