Kamis, 08 Februari 2018

RELIGI SISINGAMANGARAJA?


Ompu Somalaing Pardede (Foto Modigliani)
Bakara sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Toba di bawah kepemimpinan Dinasti Sisingamangaraja (Bakara: Huta Harajaon Toba, Tatuan ni Sisingamangaraja) sejak abad ke-16 sampai dengan abad ke-20 (sejak masa Sisingamangaraja I, lahir tahun 1515 hingga gugurnya Sisingamangaraja XII tahun 1907). 

Dinasti Sisingamangaraja menganut suatu kepercayaan religi Batak yang berasal dari si Raja Batak (Dinasti Pusuk Buhit). Segala tata aturan yang menjadi tradisi di wilayah pengaruhnya mengikuti tata upacara dan kepercayaan Batak. 
Itu sebabnya Sisingamangaraja dikatakan oleh Belanda sebagai:
a. "priester koning van de Batak" atau Raja Imam orang Batak 
b. de heilige leider van de Batak” atau pemimpin suci orang Batak
c. Koning Aller Bataks”  atau raja dari semua orang Batak - oleh van der Tuuk 1853

Sebelum masuknya pengaruh misionaris Kristen dari Barat ke tanah Batak dimulai oleh Burton and Wards sekitar tahun 1820-an, tidak terdapat kata “agama” atau “ugamo” pada bahasa atau tradisi religi Batak. Yang dikatakan religi atau kepercayaan Batak sesungguhnya adalah bagian dari “Adat Batak” itu sendiri. 

Adat Batak dalam kehidupan suku Batak tradisional sebagai keyakinan dan pedoman yang dianut untuk mencapai keharmonisan, terjaminnya keteraturan meliputi tata hubungan horizontal dengan sesama maupun hubungan vertikal kepada Sang Maha Pencipta (religi).  Jika kemudian terdapat istilah “Malim, Parmalim atau Ugamo Malim” adalah perkembangan berikutnya sejak Ompu Somalaing Pardede, salah satu  yang meneruskan tradisi kepercayaan (religi) yang dianut Sisingamangaraja. 

Ciri khas religi dan tradisi (bagian dari "adat") Sisingamangaraja yang bersemayam di Bakara (na mian Bakara)
1.   Kepercayaan kepada Keesaan Sang Maha Pencipta, Ompu Mulajadi Na Bolon:
a.   Na so marmula, na so marujung (Yang Tiada Bermula dan Tiada Berakhir);
b.   Hundul di tatuan di ginjang ni ginjangan di langit ni langitan (Duduk di singgasana di tempat tertinggi, di langit tertinggi) yaitu di langit ketujuh dari "langit si pitu  lampis" (langit berlapis tujuh)
2.   Marsopit (bersunat/melaksanakan sunat);
3.   Mangorom (berpuasa/melaksanakan puasa) pada waktu tertentu;
4. Subang (berpantang) dan ramun (haram) mengonsumsi daging: babi; anjing; hewan bangkai (hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu) – kecuali ikan;  darah dan minuman beralkohol (seperti tuak).
5.   Bale Pasogit, berbentuk bangunan (berbentuk rumah) sebagai tempat beribadah
6.   Memanjatkan tonggo (permohonan takzim) kepada Ompu Mulajadi Nabolon.


Klik dan lihat juga:


Rabu, 04 Januari 2017

MAKNA “SUAMI” DALAM BUDAYA BATAK TOBA

Jika sebelumnya terdapat makna istri dalam budaya Batak Toba (klik di sini makna istri) maka berikut ini  "Makna Suami" dalam budaya Batak yaitu:
  1. Sirongkap ni Tondi: suami, belahan jiwa/sukma, yang tercinta, yang sehati sepikiran. Ak rongkap:  jodoh, sehati, serasi dan tondi: daya hidup, sukma, jiwa.
  2. Tunggane Doli, suami, laki-laki /pasangan yang sepadan/ serasi. Ak. gana: rupa, bentuk dan Doli: laki-laki, 
  3. Siraja Nialuna: suami, tempat curahan hati, menyampaikan keluhan, bertukar pikiran, pengayom, tempat perlindungan. Ak. Alu: mengadu, menyampaikan sesuatu, menyampaikan keluh kesah.
  4. Parhalang Ulu, Halang Ulu: suami, pelindung keluarga, memberi rasa aman dan nyaman di keluarga. Ak.halang: ganjal; dan ulu: kepala. Halang ulu: bantal kepala, tempat terbaik di rumah Batak di sebelah dinding.
  5. Dongan Saripe: suami; pendamping/pasangan hidup berkeluarga. Asal kata ripe:  keluarga, family. Dongan:  teman, dan saripe: sekeluarga.
  6.  Amang Raja: suami; kepala keluarga, pemimpin rumah tangga, yang harus dihormati.
  7. Tuan Doli: suami, laki-laki yang dihormati/dituakan dalam keluarga inti. Ak. tuan yang dihormati, dituakan; doli: laki-laki.
  8.  Anak ni Raja: suami, putra raja, laki-laki terhormat. Asal kata anak ni Raja:  putra seorang Raja. Seorang suami idealnya mempunyai sifat dan perilaku yang santun, anggun, serta senantiasa dapat menjaga dan membela kehormatan keluarga dan orangtuanya.
  9. Siadopan, Amang Siadopan: suami, laki-laki yang selalu dihadapi, yang selalu berhadap-hadapan.  Ak. adop: berhadapan; amang: bapak.  Seorang suami adalah teman bertukar pikiran, tempat curahan hati dan kasih sayang, laki-laki yang selalu diperhatikan, dan laki-laki yang selalu siap berbuat terbaik kepada istri, bagai seorang bapak kepada anak.
  10. Sinonduk, sinonduk mangan: suami, Ak.sonduk: sendok; mangan: makan. Pencari nafkah keluarga.
  11. Hamulian: suami, yang menikahi, yang menerima perempuan, memberikan nafkah lahir batin. Ak. muli: menikah. 



Jumat, 17 April 2015

PUANG = BRO!

Tutur atau sapaan akrab pada pergaulan sehari-hari di kalangan sesama pria Batak:
  1. Lae : panggilan akrab pria kepada pria sebaya yang berbeda marga. Catatan: Lae juga sebagai panggilan seorang pria kepada: a) Ipar (abang ipar atau adik ipar), yaitu saudara laki-laki dari istrinya; b)  Anak laki-laki dari tulang (paman); c) Suami dari saudara perempuannya.
  2. Ampara /Appara/: panggilan akrab pria kepada pria sebaya yang semarga.  Biasanya panggilan ini digunakan pada awal perkenalan, karena belum diketahui sundut (tingkat) dalam tarombo (silsilah), meskipun belakang panggilan ioni menjadi panggilan akrab.
Selain di atas, ada satu panggilan lagi antara sesama pria Batak sebaya, yang hampir terlupakan karena sudah jarang dipergunakan, yaitu: “PUANG!” Artinya teman, sobat/sohib (dongan, aleale).

Sebutan “puang” juga digunakan sebagai seruan (kata seru) seperti dalam kalimat: “Oto nai, Puang” artinya “Alangkah bodohnya!”

Penggunaan “Puang” dalam pergaulan sehari-hari sesama pemuda seperti “Ila nai, Puang…!” Jika terjemahannya: “Malu-maluin banget, Bro…!”  (Bro, singkatan dari "Brother" dalam bahasa Inggris). 

Jadi sapaan “Puang” sebagai bahasa gaul “pemuda” suku Batak ribuan tahun lalu, sama dengan “Bro” sekarang.

Minggu, 23 Maret 2014

KARO, SIMALUNGUN DAN PAKPAK BUKAN BATAK?


Sebutan Batak secara eksternal, dalam sejarah dimulai dari Yunani Kuno oleh Herodotus (1), sebagai istilah untuk suku cannibal “eat human flesh.”  Diikuti oleh orang-orang Eropa (Italia, Inggris, Portugis, Jerman dan Belanda) untuk menamakan kelompok suku di Sumatra yang menurut mereka kafir (pagan) atau belum beragama (heatenism).(2)  Bagi orang Melayu,  Batak sebagai suku suku pengembara dan petualang, pribumi Sumatra di luar suku Melayu. Bahkan dalam kamus Bahasa Indonesia --yang mungkin diserap dari bahasa Melayu,-- kata batak artinya: petualang; pengembara; membatak: 1) bertualang, melanglang, mengembara; 2) merampok; menyamun; pembatak: perampok,  penyamun.

Secara internal, bagi suku Batak Toba adalah Keturunan Si Raja Batak (Sorimangaraja Batak) dari Pusuk Buhit, yang artinya sipenunggang kuda, berkaitan dengan citra keperkasaan dan kegigihan.(3)

Istilah Batak dikenal luas di Eropa setelah tulisan William Marsden 1784, dan ketika masuknya misionaris Kristen kemudian Belanda mulai mendomasi wilayah Sumatra bagian Utara.  Istilah Batak dipopulerkan oleh Belanda dan German dalam tulisan-tulisan mereka untuk suku bangsa Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Angkola sebagai suku pribumi di Sumatra bagian Utara, karena selain kedekatan wilayah, terdapat latar belakang kemiripan adat, budaya, bahasa dan aksara yang membedakan mereka dengan suku Melayu dan Aceh yang tinggal berbatasan di sekitar mereka.

Sebelum dan pada saat Sumpah Pemuda 1928, perwakilan para pemuda dari Sumatera bagian Utara, menamakan diri “Jong Batak (Jong Batak Bonds),” salah satu tokohnya Amir Sjarifoeddin Harahap dan Sanusi Pane.

Semula Angkola dan Mandailing menamakan diri sebagai suku atau orang “Tapanuli” untuk menghindari istilah “Batak yang berkonotasi negative oleh orang Melayu” dan sekarang lebih memilih sebutan Suku Angkola dan Suku Mandailing.

Suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun dari historisnya, tidak berasal dari Suku Batak Toba, dan bukan keturunan Si Raja Batak yang bermukim di Pusuk Buhit sekitar tahun 1200-an.  Tetapi dari keturunan Si Raja Batak (kelompok marga-marga Batak Toba) itu ada sebagai kaum pendatang kemudian diterima dan membaur menjadi anggota suku bangsa Pakpak, Karo dan Simalungun. Kelompok Suku Batak Toba yang membaur ini ada yang merubah/menyesuaikan, mengadaptasi atau tetap mempertahankan marganya (inilah yang menjadi persamaan dan kemiripan dari marga-marga).

Kini mereka telah kembali kepada identitas sejatinya sebagai suku bangsa Simalungun, Karo, dan Pakpak tanpa menyandang nama atau sebutan "Batak.

(Tulisan ini telah diedit per 26-11-2014 tanpa merubah substansi)

Jumat, 21 Maret 2014

NAMA DESA (HUTA) BAKARA KINI TINGGAL KENANGAN


Huta Bakara (Kini: Desa Simamora), Foto 2014

Sebuah desa atau huta di Tano Batak bernama Bakara, sejak zaman dahulu kala telah dikenal dan tercatat dalam sejarah oleh penulis asing, diantaranya:
  1. William Marsden, Inggris, tahun 1784 menulis “History of Sumatra,” menceritakan mitologi Batak, bahwa “Batara Guru... ayahnya menurunkan gunung dari kayangan ke Bakarra (Bakara), di wilayah Batta (Batak), sebagai tempat tinggal anaknya” atau “Batara Guruher father let fall from heaven a lofty mountain, named Bakarra, now situated in the Batta country… as a dwelling for his child….”
  2. Jurnal ilmiah “Universal Geography” terbit di London, 1878 mencatat bahwa: “…menelusuri sejarah kerajaan kuno…. Bakara, sebuah desa besar di ujung selatan-barat (barat daya) Tao Toba” atau “…traces of an ancient kingdom…Bakara, a large village at the south-west end of Lake Toba.”
  3. Modigliani, seorang antropolog dan ahli botani Italia pernah berkunjung ke Bakara antara Oktober 1890 – Januari 1891, meninggalkan catatan antara lain: “Teluk Bakara sangat indah dan airnya cukup dalam. Dua buah semenanjung (tuktuk) membentuk mulut teluk. Gunung membayangi teluk ini. Gunung itu menurun dari dataran tinggi Toba. Lerengnya di sebelah Barat Daya agak landai hingga ke tepi danau, membentuk lembah yang manis.”
Keindahan alam Tano Bakara tiada berubah sejak dahulu. Tano Bakara senantiasa mempesona dan terjaga kealamiannya.  Yang berubah,  kini secara “administratif pemerintahan,” nama huta (desa) Bakara menjadi Desa Simamora.  Nama Bakara sebagai Huta (Desa) yang telah digunakan ratusan tahun lalu, dan tercatat dalam sejarah Indonesia dan dunia, kini tinggallah kenangan.

Semoga kelak, Indonesia tidak melupakan nama asli desa/huta tersebut, dan tidak akan ada usulan untuk melakukan penyesuaian pada catatan/buku sejarah Indonesia seiring perubahan administratif tersebut, misalnya “Sisingamangaraja lahir di Desa Simamora (eks/dahulu atau d/h. Bakara).” Akan lebih baik:  “Sisingamangaraja lahir di Bakara (kini bernama Desa Simamora).” 

Namun demikian, masih terdapat apresiasi akan nama “Bakara” pada administrasi pemerintah, yaitu  “BAK” singkatan dari “Bakara” untuk nama kecamatannya, yaitu Kecamatan Baktiraja  (singkatan dari: Bakara, Tipang dan Janji Raja).

Kamis, 06 Maret 2014

MARGA SEBAGAI IDENTITAS

Berkaitan dengan Marga Batak Toba, sebelumnya telah diuraikan tentang:
  1. Marga sebagai identitas kelompok dari nenek moyang yang sama (Klik Marga);
  2. Asal Mula Munculnya Marga (Klik Munculnya Marga-marga Batak)
  3. Mangain, mengangkat seseorang atau sekelompok orang non Batak menjadi Marga si penerima (Klik Mangain)
  4. Mangampu, menerima seseorang menjadi Marga/Boru Batak berkaitan dengan perkawinan (Klik Mangampu)

Selanjutnya bahwa:  Pusuk Buhit lebih tepat dikatakan sebagai asal mula munculnya marga-marga Batak, bukan sebagai asal mula suku Batak (Toba), karena jauh sebelum bermukim di Sianjurmula-mula (di kaki Pusuk Buhit), sejak abad SM, Batak telah dikenal sebagai suku pribumi Sumatra (Klik Batak di Sumatra).

Sehubungan dengan MARGA pada sejarah dan tradisi Suku Karo, Toba dan Simalungun sebagai berikut:
  1. Merga Silima di Suku Karo pada awal mulanya tidak "semua" dari satu nenek moyang, tetapi pembentukan kelompok masyarakat dengan identitas pemersatu, yaitu Merga. Selanjutnya Merga ini dipakai sebagai nama keluarga turun-temurun dari keturunan identitas kelompok tersebut.
  2. Pemahaman Suku Toba bahwa marga-marga Toba berasal dari satu leluhur Si Raja Batak. Tetapi terdapat juga adat "mangampu" dan "mangain" untuk mengangkat seseorang yang bukan keturunan marga menjadi anggota marga dan tradisi ini ada sampai kini.  
  3. Bagi suku Simalungun: "Sin Raja sini Purba, Sin Dolog sini Panei, Naija pe lang marubah, asal na marholong atei.”  Terjemahannya: Dari Raya atau dari Purba, dari Dolog atau dari Pane, dari manapun asalnya tidaklah dipermasalahkan, yang penting saling mengasihi.  Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Marga dari Toba Samosir yaitu Silau Raja, Ambarita Raja, Limbong & Manik awalnya sebagai kaum pendatang yang membaur menjadi marga-marga di Simalungun. Mereka diterima sebagai salah satu marga di Simalungun (Damanik, Purba, Sinaga, Saragih).
Dari informasi di atas, dalam sejarah, tradisi atau adat Suku Karo, Toba dan Simalungun bahwa merga atau marga-marga tidak selalu berasal dari satu leluhur yang sama. Keturunan dari suku lain dapat diterima sebagai merga atau marga bagi sukunya, sebagai bagian dari keluarga "merga atau marga." 

Marga sebagai identitas untuk mengetahui posisi dalam tutur kekerabatan dan adat, bukan sebagai kasta, tingkat derajat, status sosial atau superioritas satu dengan lainnya.   

Kamis, 01 Agustus 2013

TURI-TURIAN DAN TORSA BATAK

Suku Batak mengenal tradisi menyampaikan suatu kisah atau cerita secara lisan turun temurun kepada generasinya. sebagai suatu warisan yang berisi petuah, nasihat, riwayat atau perjalanan sejarah.  Pada perbendaharaan bahasa Batak kisah turun-temurun tersebut dinamakan Turi-turian dan Torsa (Torsa-Torsa).

Meskipun artinya terkesan sama, terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu:
  1. Turi-turian adalah cerita historis, hikayat lama, kisah riwayat perjalanan kehidupan sesorang.  Jika dikatakan marturi yaitu bercerita secara historis; manurihon: menceritakan cerita historis.  Contoh: Turi-turian:  Si Raja Batak; turi-turian Saribu Raja. Jika dikatakan "Boti ma turi-turian ni Daompu mi na hinan" artinya "demikianlah riwayat Ompungmu almarhum."
  2. Torsa (torsa-torsa) adalah kisah rakyat, cerita yang berisi pengajaran atau perumpamaan, dongeng-dongeng yang disampaikan orang tua atau seorang kakek atau nenek kepada keturunannya.  Misal: Torsa tentang Asal Mula Danau Toba; Tunggal Panaluan (Kisah Si Aji Donda Hatahutan dan Siboru Tapi Nauasan).
Kosa kata Batak lain yang hampir mirip adalah rangsa "dibaca raksa" (raksa) atau rangsa-rangsa/raksa-raksa.  Rangsa makna kamusnya: penerangan, keterangan, penjelasan; mangarangsahon, dikatakan mengenai dukun: memberitahukan nasib seseorang, meramalkan masa depan, memberitahukan duduknya perkara dengan ramalan; mangarangsai, membilang ramal.  

Raksa lebih cenderung dipergunakan sebagai penjelasan atau keterangan yang berkaitan dengan hadatuon atau religi kuno.